Wali Kota Bandung:

Pembangunan Hotel Dekat Gasibu Melanggar Hukum

foto

Foto: m.tiket.com

INILAH Hotel megah di sebelah Barat lapangan Gasibu dekat kompleks Gedung Sate Bandung.

BANDUNG, KejakimpolNews.com.- Pemerintah Kota Bandung pastikan pembangunan hotel di dekat Gedung Sate atau Gasibu melanggar aturan. Gedung yang kini jadi hotel megah tersebut dibangun tidak sesuai dengan Izin Mendirkan Bangunan (IMB).

Di antara pelanggarannya, izin yang keluar mestinya harus dibangun 14 lantai dan 1 basemen. kenyataan yang dibangun jadi 17 lantai dan 2 basemen. Oleh karenanya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan bakal menindak tegas setiap pembangunan yang melanggar aturan. Terlebih jika melanggar tata ruang kota.

Hal itu ditegaskan oleh Wali Kota Bandung, Oded M Danial saat menjadi narasumber dalam webinar 'Sharing Succes Penanganan Pelanggaran Hotel' bersama Kementerian ATR/BPN di Pendopo, Senin (1/3/2021).

Menurut Oded, pada saat itu pembangunan sebagian gedung konvensi dan hotel  yang terletak di dekat kawasan Gedung Sate itu dibangun di atas area yang seharusnya merupakan kawasan perkantoran. "Sebagaimana tertuang dalam Perda Kota Bandung No. 10 tahun 2015 tentang RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) dan PZ (Peraturan Zonasi)," katanya tanpa menyebut nama hotelnya.

Seperti yang dilakukan Pemkot Bandung terhadap pembangunan sebuah hotel pada tahun 2019 lalu. Bangunan tersebut telah melanggar tiga isu utama, yakni pelanggaran tata ruang, dibangun tidak sesuai IMB dan dibangun tanpa izin.

Atas dasar itu semua, lanjutnya, Pemkot Bandung melakukan tahapan konsultasi dan penyelesaian permasalahan bersama pemerintah pusat, provinsi, kota, hingga akhirnya sampai pada penerbitan IMB. "Dalam perjalanannya, kami beraudiensi dengan Menteri ATR/BPN yang menghasilkan rekomendasi agar Pemkot Bandung mengenakan sanksi administratif dan denda kepada gedung tersebut," terangnya.

Akhirnya, Pemkot Bandung mengeluarkan sanksi administratif sebagaimana yang di atur dalam Perda No 5 Tahun 2010, dan Perwal No 548 dan No 1032. "Berdasarkan perhitungan tim kami, nilai kompensasi diberikan kepada pelanggar senilai Rp41,826 miliar dalam bentuk uang dan barang atau benda untuk kepentingan umum. Itu semua atas arahan dari Kementerian ATR/BPN dan Alhamdulillah sudah kami laksanakan," terangnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, Oded berharap Pemkot Bandung bisa memberikan pelayanan publik kepada masyarakat dengan syarat berkeadilan. "Terutama proses hukum, undang-undang kita laksanakan, agar semua merasa nyaman sebagai masyarakat Kota Bandung khususnya," ujar Oded.**

Editor: Dede Suryana

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Jadwal Mobil SIM Keliling di Bandung
282 Warga Binaan Lapas Perempuan Kota Bandung Peroleh e-KTP
Aa Umbara Ngantor Lagi, Langsung Melantik 5 Pejabat Baru
Jadwal Mobil SIM Keliling di Bandung
Jadwal Mobil SIM Keliling di Bandung