Sisi Lain Dunia Wartawan

Tiga Pemulung Gelandangan, Membukakan Jalan Ke Dunia Wartawan

  • Marsal
  • Rabu, 14 Oktober 2020 | 11:14 WIB
foto

Marsal

Kartu wartawan yang membuat bangga dan percaya diri ketika menjalankan tugas mencari berita

Download MP3 Download Video

Catatan MARSAL

Dari Redaksi: Kembali Marsal salah seorang wartawan senior yang tercatat sebagai wartawan Harian Umum Pikiran Rakyat sebelum pensiun, akan bercerita tentang masa lalunya. Kali ini ia akan mengurai pengalaman pribadi ketika memasuki dunia wartawan, sebuah profesi yang sangat dicintainya. Mari kita simak.

***

MENJADI wartawan bukanlah cita-cita. Profesi itu 'bak jatuh dari langit', tanpa direncanakan sama sekali. Semuanya mengalir mengikuti garis takdir yang sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta.

Secara logika, proses diriku menjadi wartawan, sesungguhnya sulit dimengerti oleh akal, terutama dari sudut pandang intelektual. Sebab bukan melalui pendidikan formal kewartawanan, melainkan sedikit modal bisa menulis dan keberanian 'mengelabui' anggota reserse kriminal (reskrim) kepolisian Seksi 4 (sekarang Polsek),saat mereka menangani kasus perkelahian berdarah antara dua orang pemulung yang memperebutkan seorang wanita yang juga pemulung.

Tanpa adanya keberanian dan dorongan hati yang muncul tiba-tiba, mungkin aku tak pernah jadi wartawan. Sejak peristiwa itu, aku malah menghabiskan hampir seluruh usiaku di dunia jurnalistik, yang memberiku pengalaman warna warni.

Sejujurnya, sampai kuliah di Fakultas Hukum Unpad, dunia wartawan bagiku sangatlah asing. Apalagi waktu itu aku boleh dibilang jarang membaca surat kabar. Tapi garis nasib berkata lain. Aku gagal menjadi ahli hukum, karena sebelum kuliahku selesai, aku malah 'terjerumus' bekerja sebagai wartawan. Mungkin itulah takdirku.

Menjadi wartawan di era tahun '70-an, tentu sangat berbeda dengan wartawan sekarang, yang hampir sebagian besar merupakan produk 'anak sekolahan' jebolan Fakultas Publisistik/Fakultas Ilmi Komunikasi (Fikom) atau berbagai disiplin ilmu lainnya. Sementara aku dan teman-teman seangkatan banyak yang menjadi wartawan secara otodidak dengan tingkat pendidikan rata-rata hanya SMA.

Proses penentuan jalan hidup sebagai wartawan, sesungguhnya terjadi secara tak sengaja. Aku sendiri tak menyangka, bahwa pada malam itu, Tuhan telah menentukan jalan hidupku ke depan. Bukan menjadi ahli hukum atau pengacara, bukan pula menjadi pedagang atau pengusaha, melainkan menjadi wartawan 'si pemburu berita'. Padahal bila dilihat dari latar belakang kehidupanku (termasuk ilmu yang kumiliki), rasanya sangat mustahil aku bisa jadi wartawan dalam waktu yang begitu singkat.

Bahkan dilihat dari kacamata intelektual, boleh dibilang tak masuk akal. Namun karena itu sudah menjadi ketentuan dari Yang Maha Kuasa, tentu tak ada yang tak mungkin, tak ada yang mustahil. Apapun bisa terjadi. Masih terekam kuat dalam ingatanku peristiwa berdarah malam itu yang akhirnya mengantarku ke dunia baru yang sangat asing, dunia wartawan.

Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sepotong sejarah dalam hidupku, sebab dalam proses selanjutnya aku malah menghabiskan hampir seluruh usiaku bekerja di berbagai surat kabar dan majalah, baik komersial maupun non komersial.

Waktu itu bulan April 1971 selepas maghrib. Aku tengah melintas dengan motor kesayanganku Honda CB 125 di Jalan Lengkong Kecil, sepulang dari rumah teman. Tepat di depan SMAN VII, kulihat ada kerumunan orang di pinggir jalan yang tengah berusaha menolong seseorang bertubuh kecil yang di bagian keningnya mengucurkan banyak darah.

Menurut keterangan, kepala pria tersebut dipukul dengan batu oleh pria lain yang saat itu sedang dimintai keterangan oleh seorang polisi berpakaian preman, tak jauh dari situ. Di sebelahnya duduk seorang wanita yang sedang menangis. Ternyata mereka adalah pemulung yang terlibat dalam cinta segitiga.

Tak lama, pria yang kepalanya berdarah bernama Entis asal Cianjur, dibawa oleh polisi dengan menggunakan motor ke rumah sakit Muhammadyah di jalan Banteng, sementara si pelaku, Da'an asal Kebumen dan si wanita, Fatimah asal Cianjur, dibawa ke Seksi 4 untuk dimintai keterangan lebih jauh.

Saat itulah tiba-tiba saja muncul dorongan kuat dalam diriku untuk membuat berita kejadian tersebut. Aku sendiri tak tahu mengapa. Padahal aku belum pernah sekalipun membuat berita. Bisa pun tidak!. Selain itu beritanya mau aku kirim ke suratkabar mana? Rupanya itulah detik-detik paling menentukan, dimana Tuhan mulai membuka 'lorong bagi masa depanku, tanpa sedikitpun aku menyadarinya.

Begitu korban dibawa ke Rumah Sakit Muhammadyah di Jalan Banteng, aku mengikuti mereka dari belakang. Selama mengendarai motor, aku terus memutar otak sekaligus menguatkan hati untuk 'memainkan peran' sebagai wartawan. Sebab bila polisi tahu aku cuma mengaku-ngaku sebagai wartawan, aku pasti akan ditangkap dengan tuduhan wartawan gadungan.

Namun anehnya, waktu itu aku tak merasa takut sama sekali dan tak pernah berpikir tentang risiko yang bakal kuhadapi. Bahkan tampilanku yang agak ngoboy dan sangat 'pede', sepertinya membuat anggota reskrim bernama pak Endun itu percaya ketika aku mengaku sebagai wartawan. Mungkin juga karena waktu itu ia terlalu sibuk mengurus korban, sehingga tak sempat menanyakan lebih jauh tentang identitasku.

Setelah mendapat perawatan dengan beberapa jahitan di keningnya, Entis lalu dibawa ke Seksi 4 untuk dimintai keterangan dan dikonfrontasi dengan keterangan pelaku dan saksi. Pak Endun juga mengajak aku ke kantornya untuk melengkapi keterangan. Alhamdulillah, semuanya berjalan mulus sesuai dengan ketentuan dan kehendakNya.

Setelah pulang ke tempat kost di jalan Jembatan Baru, aku langsung meminjam koran pada tetangga sebelah, seorang guru yang kebetulan berlangganan koran Indonesia Ekspres (Inpres). Kebetulan pula, induk semangku pegawai DKA (kini PT.KA) punya mesin tik merk Olivetti yang jarang dipakai.

Malam itu, aku berulang kali membaca beberapa berita, khususnya berita kriminal yang dimuat dan kemudian mencoba mengetik konsep berita tentang kejadian perkelahian berdarah tersebut. Setelah berulangkali gagal dan nyaris putus asa, akhirnya dapat juga aku membuat berita peristiwa tersebut walau tentunya masih acak-acakan.

Siangnya aku mendatangi kantor Surat Kabar Inpres di persimpangan Jln.Naripan- Jln. Braga untuk menyerahkan konsep berita yang kubuat. Disana aku diterima oleh redaktur bernama pak Agoes Soelaeman. Jujur, saat itu aku malah lebih takut dibanding ketika aku berbohong pada anggota reskrim Seksi 4 dengan mengaku sebagai wartawan.

Saat menunggu Pak Agoes membaca berita yang kubuat, hatiku ber-debar2 tak karuan, selanjutnya Pak Agoes bertanya,: "Kamu sudah sering bikin berita?," katanya sambil menatap tajam padaku.

Kujawab: "Belum pak. Baru kali ini. Itu juga masih coba-coba,".

"Tapi kalau melihat berita ini, kamu sepertinya sudah biasa membuat berita," katanya lagi.

Mendengar komentarnya, tentu saja aku kaget dan cepat menjawab: "Sungguh Pak belum pernah. Ini baru pertama kali dan masih coba-coba,".

Setelah menatapku beberapa saat, ia akhirnya berkata: "Baiklah. Besok berita ini akan saya muat. Tapi untuk selanjutnya, maukah kamu bergabung dengan kami," katanya serius.

Mendengar ucapannya, aku nyaris terloncat dari kursi saking kagetnya. Bagaimana tidak. Bukan saja beritaku akan dimuat, tapi aku juga ditawari untuk bergabung. Apa tidak surprise? Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menerima tawarannya.

Aku kemudian diberi arahan, apa saja yang harus aku lakukan dalam mencari berita, termasuk poin-poin penting dalam penulisan sebuah berita. Karena aku dianggap sudah kenal dengan anggota reskrim Seksi 4, maka aku diminta untuk ngepos disana.

Besoknya benar saja, beritaku dimuat di halaman satu. Berulangkali kubaca berita itu dengan bangga. "Wah, sekarang aku sudah jadi wartawan," gumamku dalam hati. Siangnya aku pergi ke Seksi 4 menemui Pak Endun sambil membawa koran Inpres.

Itu untuk memberikan bukti, bahwa aku memang bekerja sebagai wartawan, sehingga ke depannya aku tidak mengalami kesulitan dalam mencari dan memperoleh informasi. Sejak itu aku aktif bekerja di surat kabar Inpres, sehingga kuliahku menjadi terbengkalai.

Tapi aku tak pernah menyesali keputusan yang sudah kuambil, karena nyatanya aku memang sangat menikmati pekerjaan sebagai wartawan. Tanpa terasa, setelah melalui perjalanan panjang dan berliku yang kuawali tahun 1971 di surat kabar yang sudah tinggal nama, aku sudah bekerja di dunia jurnalistik hampir 50 tahun di berbagai suratkabar/ majalah, baik lokal maupun nasional.... (Marsal)

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Ikut Menangkap Penjahat Kelas Kakap
Disekap di Markas Tentara Gara-Gara Berita
Diajak Duel Oleh Mang Ihin