Gubernur Jabar Tak Didengar

Tangkuban Parahu Diserbu Wisatawan Saat Bandung Raya Siaga 1

foto

Foto: Asep Burhan

KABUPATEN Bandung Barat (KBB) boleh siaga I, tetapi tidak dengan objek wisatanya seperti Gunung Tangkuban Parahu. Kamis 17 Juni hari ini masih ramai dikunjungi wisatawan.

BANDUNG, KejakimpolNews.com - Status zona merah Covid-19 yang saat ini disandang Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan juga Siaga 1 untuk Bandung Raya, ternyata tidak menyurutkan para wisatawan untuk datang ke kawasan Lembang.

Pantauan KejakimpolNews.com, Kamis (17/6/2021), sejumlah destinasi wisata di kawasan Lembang seperti Floating Market, Farm House, atau Dusun Bambu memang terlihat tutup. Namun tidak bagi Gunung Tangkuban Parahu yang tetap diserbu pengunjung.

Di saat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menarik rem darurat untuk mengendalikan lonjakan Covid-19 di Bandung Raya, objek wisata ini malahan dipadati wisatawan. Artinya suara Kang Emil -sapaan Guvbernur Jabar- tak didengar. Buktinya deretan kendaraan dari luar kota mendominasi area parkir.

Dari pantauan, jumlah pengunjung ke kawasan ini memang tidak seramai seperti di akhir pekan. Namun kedatangan mereka, seolah tidak menyurutkan hasrat mereka untuk berwisata di saat Bandung Raya berstatus siaga 1 Covid-19. Padahal Gubernur telah meminta agar seluruh tempat wisata yang ada di Kabupaten Bandung dan KBB supaya ditutup selama tujuh hari ke depan.

Karena berstatus siaga 1 gubernur mengimbau tidak ada wisatawan yang berkunjung ke Bandung Raya sampai situasi terkendali. "Kami imbau agar tidak ada wisatawan yang datang ke Bandung Raya selama tujuh hari ke depan sampai pengumuman selanjutnya," ucapnya.

Gubernur menyatakan, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat bersama Forkopimda telah bergerak bersama untuk mencegah penularan Covid-19 semakin menjadi. Jajaran kepolisian dari Polda Jabar sudah siap mencegat di pintu perbatasan agar Bandung Raya tidak jebol. 

"Polda sudah siap weekend (akhir pekan) ini tidak jebol oleh mereka- mereka yang tidak disiplin. Kalau tidak disiplin, nanti rumah sakitnya penuh, kolaps. Nanti biasa yang disalahkan pemerintah lagi dan sebagainya," ucapnya. **

Editor: Asep Burhan

Bagikan melalui
Berita Lainnya