3 Tahun Bersembunyi di Indonesia, Buronan Polisi Ceko itu Diringkus Interpol Indonesia

foto

Foto: Div.Humas Polri

Irjen (Pol) Krishna Murti

BALI, KejakimpolNews.com- Buronan interpol yang diburu di beberapa negara akhirnya menyerah ke tangan anggota NCB Interpol Indonesia, di sebuah kontrakan yang ada daerah Kuta Selatan, Bali, Rabu (30/11/2022).

Buronan berstatus red notice (IRN) dari Head of National Central Bureau (NCB) Praha, Republik Ceko itu bernama Cyril Stiak, yang berstatus red notice yang diburu sejak 2019.

Cyrill Stiak merupakan bagian dari perusahaan Majordomos Gastro S.R.O yang melakukan penggelapan anggaran perusahaannya sebesar 25.000 CZK melalui rekening perusahaan.

Cyril ditangkap setelah Polri menerima permohonan bantuan penangkapan terhadap Cyril Stiak yang merupakan buronan berstatus red notice (IRN) dari Head of National Central Bureau (NCB) Praha, Republik Ceko.

Seorang lagi, Stefan Durina, yang juga masuk dalam red notice saat ini masih dalam pengejaran. Durina diketahui masuk ke Indonesia sejak 14 Maret 2020.

Cyril yang merupakan warga Republik Ceko menjadi tersangka dalam kasus penipuan dan penggelapan ditangkap oleh anggota NCB Interpol Indonesia, yang merupakan bagian dari Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri.

Kadivhubinter Polri, Irjen Krishna Murti mengatakan, pihaknya menindaklanjuti permintaan pencarian subjek IRN atas nama Cyril Stiak dan Stefan Durina, sebagaimana NCB Praha juga meminta bantuan yang sama saat IGA 89 di Istanbul.

Menurut Krishna, rekan Cyril bernama Stefan Durina juga masuk dalam red notice. Namun dia masih dalam pengejaran. Cyril dan Stefan Durina menjadi buronan interpol yang diburu di beberapa negara.Keduanya berstatus red notice yang diburu sejak 2019.

“Keduanya merupakan buronan high profile di negaranya dan sudah dicari sejak 2019,” ujar Krishna Murti dalam keterangannya, Kamis (01/12/2022).

Krishna mengungkapkan, Cyril dan Stefan merupakan buronan kasus penipuan dan penggelapan di Ceko. Mereka berdua telah membobol 19 perusahaan di negaranya. Keduanya kemudian terdeteksi berada di Indonesia, tepatnya di Bali.

Setelah mendapatkan informasi terkait pencarian buronan tersebut, NCB Interpol Polri melakukan pencarian terhadap keduanya. Pada Rabu (30/11/2022), NCB melakukan penyelidikan dilakukan di beberapa tempat.

Awalnya, petugas mendapatkan informasi keduanya tinggal di Kuta Utara. Namun, setelah dilakukan pencarian di tempat tersebut, tidak membuahkan hasil. Informasi terbaru menyebutkan, keduanya berada di sebuah villa di Kuta Selatan, tetapi mereka tidak ada ditempat.

Petugas kemudian mendapatkan informasi keduanya tinggal di kontrakan yang tidak jauh dari lokasi villa. “Pada pukul 06.00 WITA yang bersangkutan dilakukan penangkapan,” ujar Krishna.

Krishna mengatakan, Cyril Stiak saat ini diamankan sementara di Polda Bali sambil menunggu arrest warrant dan profesional arres.

Penipuan dan penggelapan

Dikutip dari laman Divhumas Polri, berdasarkan data perlintasan di Imigrasi, Cyril Stiak tercatat masuk ke Indonesia pada 14 Juni 2019. Ia datang dengan menggunakan pesawat maskapai Air Asia (D27798) melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Cyrill Stiak merupakan bagian dari perusahaan Majordomos Gastro S.R.O, yang melakukan penggelapan anggaran perusahaannya sebesar 25.000 CZK melalui rekening perusahaan.

Dia melakukannya sebanyak 18 kali, dan menyebabkan kerugian perusahaan Majordomos Gastro S.R.O sebesar 529.890 CZK serta perusahaan CITY CAFÉ s.r.o sebesar 104.000 CZK.

Selain itu, dia juga menyebabkan kerugian pada perusahaan asuransi, karena dia belum membayar asuransi antara Januari 2008 dan April 2009. Dia juga menyebabkan kerugian untuk otoritas pendapatan, artinya ia tidak membayar pajak dalam jumlah 667.640. CZK.

Seluruh uang tersebut digunakannya untuk kebutuhan pribadinya. Sedangkan Stefan Durina tercatat masuk Indonesia sejak 14 Maret 2020. Dia masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, dengan menggunakan maskapai Scoot Airlines (TR288).

Stefan Durian telah melakukan penipuan dan penggelapan pajak terhitung dari tanggal 15 Agustus 2014 hingga 28 Januari 2016. Modus yang dilakukan oleh pelaku ialah berkamuflase membuat sebuah jaringan perusahaan yang dia kontrol sendiri dengan membeli barang elektronik di berbagai negara UNI EROPA tanpa membayar pajak, dan mengaku menyewakannya.

Namun faktanya, barang tersebut di jual olehnya, sehingga dia mendapatkan keuntungan. Dari hal tersebut, kerugian negara Ceko mencapai 14.124.587 CZK. Dengan demikian mereka menghindari pajak dalam jumlah total 84.758.544.CZK (Rp56.788.224.480,-) untuk merugikan Republik Ceko.**

Editor : Omay Komar

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Cabuli Anak di Bawah Umur, DE Diciduk Unit Reskrim Polsek Jatinangor
Badot dan Bule Berandalan Bermotor Kota Bandung Diringkus Usai Keroyok Warga
Bupati Apresiasi Operasi 'Senyap' Satpol PP dan Tim Sancang
Tindak Pidana dan Pelanggaran Lalu Lintas di Kuningan Sepanjang Tahun 2022 Meningkat
Bawa Satu Strip Obat Psikotropika Pria di Kuningan Dicokok Polisi