Saksi Korban Kecewa Berat

Pemalsu Kasur Royal Foam Divonis 3 Bulan, Padahal JPU Menuntut 18 Bulan

foto

istimewa

GEDUNG Pengadilan Negeri Banjar tempat terdakwa Tedi Setiadi diadili secara virtual.

BANJAR, KejakimpolNews.com - Sidang pemalsuan merek dagang kasur busa Royal Foam dengan terdakwa Tedi Setiadi (63) Warga Jln.Kantor Pos 245 Jadimulya, Banjar berakhir pada sidang Selasa (14/9/2021). Tedi divonis majelis hakim dengan hukuman 3 bulan penjara, padahal Jaksa Penuntut Umum sebelumnya menuntut 1 tahun 6 bulan penjara (18 bulan).

Seperti sidang sebelumnya, kali inipun sidang pembacaan vonis dilakukan secara virtual di Pengadilan Negeri Banjar. Majelis hakim yang diketuai Jan Oktavianus,S.H.,M.H., membacakan putusan di ruang sidang pengadilan Negeri Banjar. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar Muttaqien,S.H., bersidang di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari ) Banjar. Begitu juga terdakwa hadir di rumah tahanan/ lembaga pemasyarakatan Banjar.

Majelis hakim menyatakan, terdakwa Tedi Setiadi Warga Jln. Kantor Pos 245 Jadimulya, Banjar terbukti bersalah telah memalsukan merek dagang kasur busa Royal Foam sehingga merugikan pemegang hak atas merek yang asli.

Majelis hakim juga sependapat dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar Muttaqien,S.H., bahwa Tedi terbukti bersalah yakni melanggar pasal 100 ayat (1) UU RI Nomor 20 tahun 2016 tentang merek dan Indikasi Geografis.

Kendati sependapat, namun putusannya jauh berbeda. Jika JPU sebelumnya menuntut satu tahun enam bulan potong masa dalam tahanan, majelis hakim memvonisnya tiga bulan penjara, atau hanya seperenamnya (1/6) dari tuntutan.

Dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim menegaskan, terdakwa Tedi dengan sengaja menggunakan dan memperdagangkan kasus busa memakai merek Royal Foam, padahal merek Royal Foam yang asli adaah milik PT Royal Abadi Sejahtera.

Cara memalsukannya, kasus busa merek lain di antaranya merek Bestma ia bungkus dan dilabeli merek Royal Foam, kemudian ia pasarkan ke sejumlah toko dan daerah, di antaranya ke Kebumen Jawa Tengah tanpa seizin pemilik merek Royal Foam yang sah.

Pemalsuan merek itu dilakukan mulai 24 Oktober 2019. Diawali saksi Raden Imman Soerahchman bin Entjep Soekandar selaku Regional Sales Manajer PT.Royal Abadi Sejahtera. Ia mendapat informasi bahwa terdakwa Tedi telah menjual kasus busa merek Royal Foam di Kebumen Jateng.

Ternyata kasur busa ukuran 160 cm x 200 cm x 20 cm dengan memakai privat label Royal Foam itu ketika diperiksa isinya bukan produk PT.Royal Abadi Sejahtera selaku pemegang hak atas merek Royal Foam, melainkan kasus busa merek Bestma.

Pemakaian barang dengan label Royal Foam ini jelas sekali dipalsukannya. Saat diperiksa, pada kasur busanya tidak ada tato yang bertuliskan Royal Foam yang biasanya dipasang di pinggir tepatnya di tengah ketebalan kasur busa.

Selain itu, juga, pada kasur busa itu produksi Bestma ditemukan adanya private label Royal Foam pada kasur busa di karton sudut dan pada kartu garansi resmi yang dikeluarkan PT Royal Abadi Sejahtera tanpa menggunakan merek Bestma.

Mengutip keterangan para saksi dan barang bukti, majelis hakim juga merinci perbuatan pelanggaran hukum terdakwa Tedi. Di antaranya, pada kasur busa merek Bestma bergaransi selama 7 tahun sedangkan kasur busa produk PT Royal Abadi Sejahtera hanya memberi garansi selama 5, 10 dan 15 tahun.

Seperti keterangan saksi Raden Imman. Saksi mendapatkan kasur busa Royal Foam palsu itu awalnya dari saksi Mira Sulistiowati. Saat ditelusuri,  saksi Mira memperolehnya dari dari Dedi Junaedi pemilik Toko Putra Laksana, Saksi Dedi mengaku memperolehnya dari Jaenudin alias Ajay pemilik Toko Laksana, sedangkan Jaenudin mendapatkan kasur busa tersebut dari terdakwa Tedi Setiadi.

Dan ternyata terbukti pula, terdakwa Tedi yang memproduksi kasur busa tersebut dengan menggunakan merek Royal Foam. Produksi kasur busa Royal Foam palsu tersebut dilakukan di Lingkungan Cimenyan Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Terbukti pula, terdakwa bukan hanya menjual kepada Jaenudin saja melainkan juga kepada saksi Dwi Juni Purnomo pemilik Toko Amanah di Pasar Wonokriyo. Jateng.

Dari toko tersebut, ditemukan sejumlah kasur produk lain namun memakai abel Royal Foam. Adapun kasur busa yang memakai label Royal Foam itu antara lain berasal dari merek Grandia, Excotix dan Bestma. Kasur busa dengan dilabeli merek Royal Foam tersebut telah diperiksa di laboratorium Kriminalistik Bareskrim Polri. Hasilnya, merek Grandia dan Bestma tidak identik dengan produk Royal Foam.

Akibat perbuatan terdakwa Tedi, nama baik PT Royal Abadi Sejahtera selaku pemegang hak atas label Royalfoam menjadi jelek dan tidak sesuai dengan standar kualitas busa Royal Foam.

Atas perbuatannya, majelis hakim memutus Tedi Setiadi dalam dakawan ke satu melanggar pasal 100 ayat (1) UU RI Nomor 20 tahun 2016 tentang merek dan Indikasi Geografis. Selanjutnya, memvonis terdakwa tiga bulan potong masa tahanan.

Saksi korban ketika dihubungi di Bandung mengatakan kecewa dengan vonis tersebut, sebab katanya pemegang merek merasa tidak dilindungi. “Tapi mudah-mudahan, karena vonisnya kurang dari dua pertiga (2/3) dari tuntutan, Jaksa penuntut umum akan banding,” ujar saksi korban yang enggan desebut namanya ini.**

Editor: Maman Suparman

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Diduga Tertipu Proyek Fiktif Dinkes Jabar, Warga Banten Lapor Ke Mapolda Banten
Polresta Tangerang Ciduk 3 Pemuda Gunakan Sabu Seberat 3,87 Gr
David "Noah" Dilaporkan Menipu Rp1,1 Miliar, Berakhir Damai
Buntut Sengketa Dua Geng Motor, Ahmad Lafaris Tewas Ditusuk Ibro
2 Oknum Anggota Polri yang Menewaskan 6 Anggota FPI Segera Disidangkan