Mantan Pejabat Disebut-Sebut

Tak Cuma Korupsi, Dadang Pun Didakwa Pencucian Uang

foto

Dokumen/kjp

Tiga terdakwa korupsi RTH yang sudah divonis. Tomtom Dabbul Qomar, Kadar Slamet dan Herry Nurhayat. Kini giliran Dadang Suganda diadili

BANDUNG.kejakimpolnews.com,- Setelah dua eks. anggota DPRD Kota Bandung dan satu pejabat teras Pemkot  Bandung divonis penjara dalam kasus korupsi pengadaan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH), kini giliran makelar tanah yang mulai disidangkan.

Terdakwa Dadang Suganda alias Dadang Demang sang makelar tanah tersebut, mulai jalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor, Pengadilan Negeri (PN) Bandung Senin (23/11).

Di hadapan Majelis Hakim yang dipimpin Benny T. Eko Supriyadi, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK diketuai Haerudin mendakwa Dadang melakukan tindak pidana korupsi pengadaan tanah dalam kurun waktu pencairannya pada tahun 2011 hingga tahun 2012.

Bukan saja dakwaan korupsi, JPU KPK juga mendakwa Dadang dengan Undang Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan total keseluruhan Rp 87.7 miliar.

Bahkan dalam dakwaannya, JPU menyebut di antaranya ada tiga orang peiabat Pemkot Bandung yang menerima uang yakni mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada, mantan Sekda Edi Siswadi dan mantan Kepala DPKAD Kota Bandung Herry Nurhayat.

Dalam tindakannya, terdakwa warga Jln.A H Nasution Ujungberung Bandung itu telah melakukan beberapa kali perbuatan melawan hukum yang merugikan negara Rp 87 miliar.

Uang senilai tersebut berasal dari hasil pengadaan beberapa bidang tanah untuk RTH Kota Bandung pada Desember 2011. Pengadaan tanah RTH Kota Bandung untuk tanah pertanian, pencairan dilakukan pada april 2012.

Selanjutnya pengadaan tanah untuk sarana pendidikan, pencairan dilakukan pada Juli 2012. Pengadaan tanah untuk kantor kecamatan Antapani, pencairan pada Agustus 2012. Pengadaan tanah pertanian pencairan November 2012. Pengadaan tanah untuk sarana pendidikan (lanjutan) pencairan pada November 2012.

Kemudian pengadaan tanah untuk sarana lingkungan hidup ruang terbuka hijau APBD perubahan tahun 2012.

"Total keseluruhan mencapai Rp 87,7 miliar," ujar Tim JPU KPK.

JPU KPK juga mendakwa dengan Tindak Pidana Pencucian Uang di Berdasarkan pasal 3 UU Tipikor tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo.Pasal 65 ayat (1) KUHPidana. Dan kedua pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 65 ayat (1) KUHPidana.

Khusus dakwaan korupsi, terdakwa ada kaitannya dengan tiga terdakwa sebelumnya, yakni eks anggota DPRD Tomtom Dabbul Qomar dan Kadar Slamet, serta eks Kepala DPKAD Herry Nurhayat, telah melakukan korupsi senilai Rp 19.7 miliar.

JPU mengatakan, bersama dengan Tomtom, Kadar dan Herry, terdakwa Dadang turut serta terlibat dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk sarana lingkungan hidup RTH tahun anggaran 2012.

Saat itu Dadang disebut meminta diikutsertakan sebagai pihak yang mengadakan tanah sarana lingkungan RTH. Dalam mengadakan tanah untuk RTH itu terdakwa mengoordinasikan pihak lain berperan sebagai penerima kuasa menjual yang dibuat secara proforma dalam akta kuasa menjual untuk mencari tanah yang akan dijual kepada Pemerintah Kota Bandung.

Dari aktvitasnya itu dia menerima uang beberapa kali secara bertahap sebagai keuntungan penjualan tanah kepada Pemerintah Kota Bandung.

Dalam pengadaan tanah untuk RTH itu, terdakwa berupaya mempercepat proses administrasi dan ganti rugi kegiatan pengadaan tanah untuk sarana lingkungan hidup-RTH pada DPKAD Kota Bandung serta memberikan sejumlah keuntungan penjualan tanah RTH Bandung tersebut kepada Dada Rosada, Edi Siswadi dan Herry Nurhayat.

JPU menambahkan. tiga nama tersebut tak asing di lingkungan Pemkot Bandung. Dada Rosada diketahui merupakan eks Wali Kota Bandung, Edi Siswa di eks Sekda Bandung dan Herry Nurhayat eks Kepala DPKAD.

Perbuatan Dadang ini menimbulkan kerugian negara Rp 69 miliar berdasarkan penghitungan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rl.

Untuk memberi kesempatan kepada terdakwa menyusun eksepsinya, majelis hakim menunda sidang.**

Editor: Maman Suparman

Bagikan melalui
Berita Lainnya