Musibah Dalam Sudut Pandang Islam

foto

Dedi Asikin

DEDI ASIKIN

Oleh DEDI ASIKIN

(Wartawan Senior)

DAHSYAT dan sangat mengerikan. Saya tidak kuat lama-lama menatap foto dan sejumlah video tentang peristiwa gempa Cianjur itu. Hanya kalimat istirja "inalillahi wainnailaihi roji'un" yang tergumam dari bibir saya yang kelu. Seraya merenungi kepanikan saudara-saudara yang terkena musibah itu.

Teriakan histeris jeritan ibu-ibu serta anak anak yang terungkap dalam vídeo yang diunggah teman-teman di grup WastApp, FaceBook dan Instagram membuat perasaan serasa disayat sembilu.

Saya rasa ini musibah besar. Jumlah korban terahir menurut rilis Kominfo dan BPBD Cianjur 252 orang meninggal dan 31 masih dalam pencarian.377 orang masih dalam perawatan dibeberapa RS. Ada 2.834 rumah hancur. Belum termasuk fasilitas ibadah, pendidikan dan perkantoran.

Selain itu dikabarkan ada 7 ribu lebih orang mengungsi. Kejadian itu merupakan rangkaian panjang dari musibah yang terjadi sebelumnya. Banjir dan longsor di Garut, Tasik Selatan, Bogor , Cadas Pangeran Sumedang, Indramayu,Medan, Kalteng dan tempat tempat lain.

Musibah itu dalam bahasa Arab berasal dari kosakata ashaaba, yushiibu, musyibaatan. Kata KH Siddiq dalam tafsir al Jawi beberapa ahli fiqih jumhur mengatakan makna musibah itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa orang atau kelompok orang.Terkadang menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan ( kullu makhruuhin yahuluu bi al insan).

Seumpama gempa, banjir, longsor, tabrakan, pesawat jatuh dsb. Secara umum Islam memandang musibah itu sebuah taqdir. Itu sudah digariskan Allah pada "grand book", buku besar di louhul mahfuzh jauh sebelum manusia itu diciptakan. Ada yang menyebut 50 ribu tahun sebelum Kalimat "qun fayaqun" Allah tentang penciptaan manusia. Wallahualam.

"Tiada satu bencanapun menimpa bumi dan dirimu melainkan sudah tertulis dalam kitab (louhul mahfuzh) sebelum kami menciptakanya. Yang demikian itu mudah bagi Allah" ( QS Al Hadid 22).

Adapun tujuan diturunkanya musibah antara lain untuk menilai derajat keimanan orang atau sebuah kaum, mengingatkan pada ketaatan iman. meningkatkan derajat, menghapus dosa dan meningkatkan pahala.

Simak pula hadits Rasulullah SAW:"Sesungguhnya besarnya pahala itu seiring dengan beratnya cobaan. Sesungguhnya Allah bila mencintai seseorang atau kaum akan memberinya cobaan".

Renungi pula firman Allah : " Dan sesungguhnya akan kuberikan kepadamu dengan sedikit cobaan , rasa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berita gembira kepada orang orang yang ketika ditimpa musibah lalu mengucapkan inalillahi wainnailaihi roji'un" (QS Al Baqarah 155 - 156).

Matinya seseorang yang baik itu adalah syahid. Tanda-tanda orang yang mati syahid antara lain: - Terkena penyakit Tha'un, kolera, disentri. Yang wafat kerena serangan Covid-19 sepertinya termasuk katagori itu. Insya Allah. - Meninggal kerena tenggelam/hanyut, tertimpa pohon, tembok, mati di medan perang , membela agama Allah.

Kiat orang Islam menghadapi musibah adalah sabar, ridha dan tetap tegak dalam iman. Untuk para korban musibah baik gempa Cianjur maupun peristiwa lain, mari kita ucapkan kalimat istirja " Inalillahi wainnailaihi roji'un", seraya mendoakan semoga mereka diampuni dosanya diterima amal ibadahnya. Diberi tempat di janatun Na'imNa'im, surga yang sejuk yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Khalidiina fiiha abada.Kekal selamanya. Kepada keluarga yang ditinggal semoga diberi kekuatan lahir batin, ikhlas dan tahah. Aamiin Allahumma aamiin Fibaroqati , Alfatihah. **

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Alhamdulillah Arab Saudi Kalahkan Argentina
Jokowi Dukung Sini Dukung Sana, Kemana Telunjuk Bertuah?
Kadrun, Cebong, Kampret, dan Dosa Jariyah
Ganjar Pranowo Disanjung dan Dirundung, Akankah Diusung?
Jalan Terjal dan Berliku Anies Baswedan