2 Pekan 7 Wartawan Meninggal

Bulan Berkabung PWI Jabar

foto

istimewa

ENAM di antara tujuh wartawan yang meninggal dunia dalam dua pekan ini, dari atas searah jarum jam. Suryana, Deddy Gunadi Komar, Agus Purwadi, Digdo Moedji, Yuli Tri Suwarni dan Gantina.

Catatan MAMAN SUPARMAN

(Wartawan Senior)

DUKA tengah menyelimuti keluarga besar korps wartawan khususnya yang ada di Bandung. Memasuki Juli 2021 ini seiring dengan pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, secara berturut-turut, setidaknya tujuh anggota PWI rekan kami sesama wartawan satu persatu menghadap sang Khalik.

Di pengujung Juni lalu, Suryana atau akrab dipanggil Isur mantan wartawan Harian Mandala, dikabarkan meninggal dunia karena tak tahan menghadapi sang Covid-19. Selanjutnya, 1 Juli 2021 Agus Purwadi, mantan wartawan Berita Yudha, yang tinggal di Cijerah juga meninggal dunia.

Lelaki berkumis yang belakangan sempat jadi penyiar Radio Sonata ini pergi untuk selama-lamanya. Tiga hari kemudian, tepatnya 4 Juli 2021, H. Deddy Gunadi Komar Redaktur Bandung Bisnis/Bandung TV yang dulu Redaktur Harian Bandung Pos, juga meninggal dunia. Mantan pengurus PWI Jabar asal Garut yang dikenal akrab dengan rekan seprofesinya ini, juga meninggal karena Sang Covid-19.

Ucapan bela sungkawapun mengalir. Hampir semua wartawan khususnya yang ada di Bandung mengenalinya dan menyatakan kesedihannya. Buktinya, ketika berita kematiannya saya posting di FB, dikomentari lebih dari 100 orang yang menyatakan merasa kehilangan. Deddy memang keluarga wartawan. Dua pamannya, Dede Suryana dan Asep Burhan, mantan wartawan Harian Bandung Pos dan Bandung Post adalah pamannya sendiri. Bahkan Dede Suryana hingga kini masih aktif menggawangi KejakimpolNews.com.

“Dia orangnya santun, dan menghargai seniornya. Tahun 2005, saya berkali-kali diajak almarhum Deddy untuk gabung ke Bandung Post yang ia dirikan. Namun saya saat itu masih sibuk,” kenang Omay Komar.

Malah, kata Omay, karena peran Deddy pula kartu anggota PWI-nya masih bisa diperpanjang. Berikutnya, berita duka itu muncul lagi. Kali ini Digdo Moedji. Orangnya masih muda, usianya belum genap 50 tahun. Wartawan Galamedia ini adalah teman sekantor saya dulu. Wartawan foto andalan Galamedia ini juga mengakhiri profesinya sekaligus hidupnya akibat kanker ganas yang menggerogotinya.

Seakan belum berakhir. Tanggal 7 Juli, wartawan muda Yuli Tri Suwarni yang saya tahu dia dulu sebagai wartawan Jakarta Post, juga meninggal dunia. Istri dari Irfan Junaidi, Pemimipin Redaksi Republika, inipun tak tahan menghadapi ganasnya Covid-19. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Depok.

Belum cukup sampai disitu, mega mendung pun masih tetap menggelayut di kalangan wartawan kota Bandung. Berikutnya, antrean malakul maut ini menghampiri Mochammad Hikayat, wartawan PR, paling senior. Ia meninggal dunia Selasa 13 Juli di rumahnya Kompleks Wartawan "Galih Pawarti" Baleendah.

Wartawan yang juga dosen IKIP (UPI) Bandung ini meninggal karena memang usia lanjut, dan sakit-sakitan. Pak Kayat - begitu biasa saya memanggil Moch. Hikayat ini -, adalah satu di antara wartawan PR yang sangat “spesialis”. Disebut spesialis, karena memang dia adalah wartawan yang juga pegawai negeri sipil (PNS).

Almarhum adalah partner liputan saya di IKIP Bandung pada tahun 80-an. Bersama almarhum Tedy Djukandi (Mandala), Wawan Kartiwa (Bandung Pos), saya dan almarhum Pak Kayat, kerap ngobrol dan bercerita. Di antaranya, ya itu tadi, dia masih diberi toleransi oleh PR yang tidak diberikan kepada orang lain.

Jika kepada orang lain manajemen PR itu “keras” tak boleh merangkap, namun khusus kepada dirinya, PR masih membolehkan kerja rangkap. Ya sebagai PNS, sekaligus juga wartawan. “Saya pernah ditawaran pegawai tetap ku PR, tapi saya nolak sabab teu bisa ninggalkeun PNS di IKIP,” kata Pak Kayat suatu hari.   Dan ternyata PR masih berbaik hati. Pak Kayat tetap wartawan tanpa perlu melepas status PNS nya.

Belum selesai cerita tentang Moch. Hikayat, tetangganya sekompleks di Galih Pawarti, Gantina (wartawan Berita Buana), esoknya atau Rabu 14 Juli giliran dipanggil Yang Mahakuasa. Rekan sebaya saya yang tekun dan profesional inipun akhirnya menghadap Illahi Robbi setelah terkena stroke yang berkepanjangan.

Saya mulai kenal Gantina tahun 1976, saat saya mulai jadi wartawan Gala yang berkantor di Jalan Asia Afrika, seberang Kantor PLN. Kantor Gantina yang telah bergelar haji ini juga berada di samping kantor Gala di Jln. AA. Saat itu dia belum wartawan, melainkan sebagai sirkulasi koran Berita Buana Jakarta.

Tekun dan rajin, hingga akhirnya ia pun tertarik untuk jadi wartawan. Maka dunia sirkulasi ia tinggalkan, dan mulailah menjajaki dunia kewartawanan. Adalah Omay Komar yang saat itu Redaktur Harian Mandala, sering memberinya semangat. “Almarhum Gantina sering minta saran kepada saya, bagaimana cara membuat berita dan meliput. Dia itu orangnya rajin dan tekun, sampai akhirnya dia benar-benar menjadi wartawan Berita Buana,” kata Omay mengenang.

Yang tersisa

Satu hal yang menarik di mata saya, Gantina, almarhum Chevy Rachmansyah (Gala) dan Omay Komar sering bertemu di Jalan Naripan, tempat nongkrong wartawan tempo doeloe (jadul). Dari situ ada cerita menarik. Kami berempat sama-sama menikah tahun 1977, dan 1978 sama-sama punya anak pertama.

Saya, Gantina, dan Chevy sama-sama nyikalan anak perempuan. Hanya Omay Komar saat itu yang putranya laki-laki, tetapi anak kami berempat lahirnya di tahun yang sama : 1978. Kini, Gantina dan Chevy telah pulang ke Rakhmatullah. Tinggalah saya dan Omay Komar yang saentragan, atau sebaya.

Memang kematian adalah soal biasa dan itu pasti akan dialami oleh setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Bahkan di Harian Gala dulu dan kini namanya menjadi Galamedia, sahabat-sahabat saya yang sebaya nyaris punah. Kini tinggal berdua yang kepala 70-an ke atas yang tersisa, yakni saya dan Arya Pandji Indra. Selebihnya, sudah berhimpun di alam baqa.

Bahkan di kompleks wartawan Galih Pawarti pun seperti dikatakan Omay Komar, mayoritas telah tiada. Tiga bulan lalu Suwardjo (PR) yang meninggal menyusul Harry Kartadibrata, Yaya Suhara, Didin Basuni, Lompo Siagian, Zahakir Haris, Aat Soewansa dan sejumlah wartawan lainnya.

“Hanya tinggal beberapa orang saja yang tersisa sekarang,” kata Omay Komar. Ia menyebut yang masih ada sekarang di kompleks wartawan Galih Pawarti dan paling senior adalah, H. Edy Djunaedi (Bandung Pos), Tatang RS (PR), Us Tiarsa (PR/Bandung TV), Hasan Syukur (Tempo), Ujang (Kujang) dan Omay Komar sendiri.

”Itulah yang masih ada sekarang di Galih Pawarti,” kata Omay. Omay setuju jika mereka yang telah tiada itu disebut “pahlawan jurnalis”, karena sebagian besar di antara mereka telah berjasa pada masanya ikut membesarkan nama PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Barat.

Dan mereka sebagian besar bukan saja profesional tanpa cela, melainkan juga turut serta menegakkan panji-panji PWI Jabar dengan kiprahnya - baik sebagai anggota, pengurus atau atlet yang memperkuat Kontingen PWI Jabar ketika berlangsung Pekan Olah Raga Wartawan Nasional.

Hari ini, bulan Juli yang belum genap sebulan, 7 wartawan anggota PWI ini telah tiada. Andai saya pengurus PWI, sudah saya pastikan akan memberi perhatian kepada mereka. Jika segan untuk datang ke rumah duka, paling tidak akan memberikan karangan bunga tanda berduka.

Apalagi, PWI Jabar dalam waktu dekat ini akan mengadakan konferensi untuk memilih pengurus baru PWI Jabar. Alangkah indahnya jika pengurus PWI Jabar sekarang memberikan segenggam empati kepada mereka. Jika perlu, jadikan bulan Juli ini sebagai “Bulan Berkabung PWI Jabar”, sebab memang demikian adanya. Tujuh watawan anggota PWI (baik pemegang Kartu Seumur Hidup maupun kartunya yang sudah habis masa berlakunya) meninggal dalam rentang dua pekan di bulan Juli ini. Semoga.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Tambah Lagi Satu Jenis Makanan Sehari-Hari Presiden R.I. Jokowi
Utang Negara Tanggung Jawab Siapa?
Untuk Bayar Utang Rakyat Diminta Taat Pajak
Semua Presiden R.I. Wariskan Utang
Allah Menciptakan Alam untuk Kesejahteraan Makhluknya