Opini

Utang Negara Tanggung Jawab Siapa?

  • Rabu, 25 Agustus 2021 | 18:24 WIB
foto

istimewa

DEDI ASIKIN

Oleh DEDI ASIKIN

(Wartawan Senior)

ADA yang bertanya tentang utang negara yang sudah berjibun, sejangkung gunung Galunggung itu. "Siapa yang tanggung jawab tuh kang" , "Ya negara atuh namanya juga utang negara," kata akang, atau utang rakyat Indonesia pula. Jadi, setiap warga dari bayi yang baru "nongol" sampai yang sudah siap siap menuju liang lahat, menanggung utang secara tanggung renteng kalau dipukul rata, masing-masing berutang Rp25 juta.

"Andai negara belum bisa bayar, terus saya mati, apa saya bakal dicegat malaikat gak boleh masuk sorga gara-gara utang tanggung renteng itu?" tanyanya pula sebab memang hadits Rasulullah bunyinya begitu.

Saya pikir ini pertanyaan cukup ribet, tapi krusial juga. Namun rasanya otak saya tak cukup terisi untuk menjawab secara jelas dan cerdas pertanyaan itu. Maka berkelitlah saya pakai sedikit akal Abu Nawas. Besoklah aku tulis tuh.

"Iya kang saya tunggu. Banyak juga kali orang pingin tahu tuh" pungkasnya.

Yang kulakukan adalah menemui kiyai untuk mencari jawaban atas pertanyaan seseorang itu. Saya pikir Islam sebagai agama mayoritas bisa menjadi representasi dari permasalahan seputaran utang negara itu. Karena dia tahu saya wartawan dan suka nulis, seperti biasa dia pesan jangan disebut namanya.

Katanya dia sudah moyan  alias  moyan dalam arti kata berjemur di terik sinar matahari setiap pukul 10.00 pagi sesuai anjuran Satgas Covid19. jadi bukan moyan  artinya orang ternama atau kesohor. Jadi dia gak perlu kesohor lagi. 

Tentulah dia cuma bercanda. Ketika semua pertanyaan teman itu saya kopi paste ke pak kiyai dia menyebut jawaban beliau itu cuma ijtihad dia saja. Oleh kerena itu beliau minta tidak usah disebut identitasnya. Kenapa negara harus berutang? Kerena APBN atau APBD devisit. Kenapa devisit? Ada beberapa kemungkinan.

Pertama negara tidak mampu menggali dan memanfaatkan sumber daya alam yang katanya berlimpah ruah. Tesebar di perut bumi 17 ribu pulau dan terendam di kedalaman 9 juta km2 lautan.

Yang kedua mungkin tidak bisa melakukan penghematan secara proposional, profesional dan rasional. Yang ketiga mungkin uang dan kekayaan negara berkurang kerena korupsi yang makin merajalela.

Sampai disini  saya berpikir ini omongan kiyai kok mirip dengan otaknya ekonom ya. Utang negara itu nya, bukan utang pribadi. Jadi diluar hadits yang berbunyi: "Orang yang mati syahid diampuni dosanya kecuali (yang punya) utang" (HR Muslim dari Abdullah bin Umar) atau : "Diri orang mukmin itu tergantung utangnya sampai dilunasi".

Tapi sebenarnya lanjut pak kiyai, ada keterangan lain yang menyebutkan bahwa utang itu bisa dibayar dengan kebaikan. Jadi seseorang yang meningal sebelum membayar utang, kebaikan kebaikannya dikurangi dan diberikan kepada orang yang menderita karena perbuatannya.

Jadi orang yang terpaksa membuat utang dan berat melunasinya berbuatlah sebanyak-banyaknya kebaikan. Siapa tahu bisa mengapus dosa karena utang dan lolos di Yaumil Mahsyar. 'Wallahu alam", kata kiyai.

Penyelenggara negara mulai presiden dan seterusnya yang berada di tubuh eksekutif atau para wakil rakyat, anggota legislatif dan aparat aparat yudikatif, bisa saja mendapatkan siksa karena utang negara yang tidak bisa dilunasi. Itu terjadi jika mereka yang menganut sistem  Trias Politica itu melakukan pelanggaran dengan sengaja sehingga negara terlibat utang yang memberatkan.

Pada dasarnya pemimpin di tiga lembaga dari Trias Politica itu harus membuat peraturan dan kebijakan dengan menganut asas kemaslahatan untuk rakyat. Mereka para penyelenggara negara yang korupsi kulosi dan nepotisme dan menyebabkan negara harus menanggung utang, merekalah yang harus menanggung dosa kerena utang negara itu. Jadi bukan Rakyat secara keseluruhan.

Kalau negara ingin bebas utang yaitu tadi harus melakukan upaya upaya yang membawa maslahat dan manfaat bagi seluruh rakyat. Gali potensi negeri secara optimal, buatkan anggaran belanja negara yang hemat, proporsional, profesional dan rasional. Cegah dan berantas KKN. Insyaallah kita bisa membayar semua utang itu, urai pak kiyai.

Bisa enggak ya? Wallahu alam bishawab.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Banteng Versus Celeng
Politik Gentong Babi, Apaan Tuh?
Jodoh itu Rezeki
Marah-Marah Malah Elektabilitas Unggah
Taliban dan Keajaiban Ilahiah