Sidang Kasus KM.50

Kronologis Tewasnya 6 Laskar FPI, 4 Ditembak Mati di Dalam Mobil karena Melawan Polisi

foto

Ilustrasi

ILUSTRASI penembakan

JAKARTA, KejakimpolNews.com - Kasus dugaan pelanggaran Hak Asssi Manusia (HAM) unlawfull kiling atau yang lebih dikenal dengan “Kasus KM 50” yakni penembakan yang menyebabkan 6 anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) pengawal Habib Riziek Shihab (HRS) mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (18/10/2021).

Di hadapan majelis hakim diketuai M.Arif Nuryanta dengan dua hakim anggota Suharno dan Elfian, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua terdakwa anggota Polri yang sidangnya displitzing atau dipisah, keduanya masing-masing Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella.

Dalam pembacaan dakwaan, untuk kedua terdakwa, JPU menyebut, masing-masing terdakwa Primer melanggar pasal 338 KUH Pidana jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana yakni pembunuhan, dan Subsider pasal 351 ayat (3) KUH Pidana (penganiayaan) jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUH Pidana.

Seharusnya, yang akan diadili ini tiga orang anggota Polri, namun seorang tersangka yakni Ipda Elwira Priadi Z meninggal dunia dalam sebuah kevcelakaan lalu lintas. Jadi hanya dua orang saja yang diadili yakni Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella.

Kronologi kasus

Dalam dakwaan, JPU merinci kronologi terjadi penembakan pada 6 orang anggota laskar FPI tersebut. Katanya, kasus ini berawal dari tidak hadirnya Habib M Rizieq Shihab (HRS) untuk diperiksa sebagai saksi terkait kasus protokol kesehatan, padahal pemanggilan ini untuk kedua kalinya.

HRS diduga menghindari pemeriksaan dengan berbagai alasan. Saat itu Polda Metro Jaya menerima informasi bahwa pendukung HRS bakal menggeruduk dan mengepung gedung Polda Metro Jaya dan melakukan aksi anarkis.

Menurut JPU, untuk mengantisipasi, diperintahkan anggota Polda Metro Jaya, yakni terdakwa Briptu Fikri R, terdakwa Ipda M Yusmin O, Ipda Elwira Priadi Z (meninggal dunia), saksi Aipda Toni Suhendar, Bripka Adi I, Bripka Faisal KA, dan Bripka Guntur P. Mereka ditugaskan menyelidiki rencana penggerudukan (FPI) tersebut.

Rencana pengerudukan (laskar FPI)  antara lain didasari pada laporan informasi yang diterima polisi dengan nomor R/LI20/XII/2020/Subdit 3/Resmob tanggal 5 Desember 2020 lalu tentang rencana penggerudukan dan pengepungan Polda Metro Jaya pada 7 Desember 2020 saat pemeriksaan HRS.

Untuk itulah anggota Polda Metro Jaya ditugaskan memantau simpatisan HRS di perumahan The Nature Mutiara Sentul, Kabupaten Bogor. Mereka menggunakan 3 mobil pada Minggu 6 Desember 2020, pukul 22.00 WIB.

Saat itu rombongan HRS meninggalkan perumahan mengendarai 10 mobil. Di tengah perjalanan, mobil yang dikemudikan Bripka Faisal KA yang ditumpangi Briptu Fikri R, Ipda M Yusmin O, Ipda Elwira PZ (telah meninggal), dihalangi oleh mobil Chevrolet Spin warna abu-abu dan Toyota Avanza warna silver di pintu keluar tol Karawang Timur pada Senin 7 Desember 2020 pukul 00.05 WIB.

JPU menyebut, tepat di Jalan Interchange Kabupaten Karawang, mobil Toyota Avanza yang dikemudikan anggota FPI itu menyenggol mobil polisi itu. Meski sempat mengejar, mobil polisi yang ditumpangi dua terdakwa lantas dipepet oleh mobil Chevrolet Spin.

Dari mobil Chevrolet itu, empat orang keluar sambil membawa senjata tajam menghampiri mobil polisi. Seorang di antaranya menyerang dan membacokan senjata tajam ke kaca depan mobil. Polisipun lantas memberikan tembakan peringatan ke arah atas sambil berteriak polisi dan meminta keempatnya tak bergerak, anggota FPI itu lalu berlari ke arah mobilnya.

Selanjutnya, muncul dua orang lagi dari mobil anggota FPI itu mengarahkan tembakan ke mobil polisi sebanyak 3 kali. Polisi membalas tembakan tersebut ke arah keduanya lantaran para anggota FPI itu berencana kabur. Anggota FPI bernama Faiz AS pun tertembak di bagian tangannya oleh Bripka Faisal KA.

Walaupun tertembak, anggota FPI itu berhasil kabur sehingga terjadi aksi saling kejar mengejar yang mana diwarnai aksi saling tembak pula di antara kedua pihak itu. Disitu, Briptu Fikri R dan Ipda M Yusmin O mengarahkan tembakannya ke arah penumpang di bagian belakang, sedangkan anggota FPI yang melakukan penembakan berada di bagian depan pengemudi.

Mobil polisi sempat tertingal, namun di Rest Area KM.50 Tol Karawang Barat, polisi menemukan mobil anggota FPI itu karena menabrak pembatas jalan dan mobil yang terparkir. Bripka Faisal KA, Briptu Fikri R, Ipda M Yusmin O, dan Ipda Elwira PZ lantas menghampiri mobil anggota FPI dan meminta penumpangnya turun dan menggeledahnya.

Ketika diperiksa, ada 6 orang anggota FPI, dua di antaranya tergeletak di jok yang ternyata sudah meninggal. Keempat yang masih hidup diminta tiarap dengan kondisi tak terborgol atau terikat, padahal kata JPU wajib bagi polisi untuk memborgol atau mengikat tangan pelaku kejahatan saat tertangkap.

Keempatnya bernama M Reza, A Sofiyan, K Suci Khadavi P, dan L Hakim. Selanjutnya masih kata JPU, keempatnya dimasukan ke dalam mobil untuk dibawa ke kantor polisi, Briptu Fikri R, Ipda M Yusmin O, dan Ipda Elwira PZ pun mengawalnya hanya saja mereka mengabaikan SOP pengawalan dan pengamanan tersebut.

Ditembak di perjalanan

JPU mengungkap, saat dalam perjalanan, (anggota FPI) M Reza dibantu L Hakim mencekik leher Briptu Fikri, sedangkan A Sofyan dan M Suci Khadavi turut membantu menyeroyok dan menjambak Briptu Fikri. Ipda M Yusmin Ohorella mengurangi kecepatan kendaraannya agar Ipda Elwira Pradi Z leluasa menembak.

Selanjutnya Ipda Elwira menembaki L Hakim sebanyak 4 kali dan A Sofiyan sebanyak 2 kali. Padahal, kata JPU lagi, seharusnya Ipda M Yusmin O menepikan kendaraannya sebagai pengendali kendaraan sekaligus pimpinan rombongan sesuai hierarki kepangkatan dan senioritas tindakan utama dan pertama harus dilakukan menepikan kendaraannya sekaligus menghentikan pengeroyokan dan percobaan perampasan senjata itu.

Kalaupun terpaksa bisa menggunakan senjata api hanya sekadar melumpuhkan mengingat keempat anggota FPI itu tak lagi memiliki senjata tajam atau senjata api sebagaimana pasal 44 ayat 2 Perkap RI No. 8 tahun 2009 tentang penyelenggaraan tugas kepolisian.

Tapi ini sebaliknya, membiarkan Ipda Elwira PZ memanfaatkan senjata apinya, mengarahkan langsung ke L Hakim dan A Sofiyan, lalu menembak ke sasaran yang mematikan di bagian dada, yang mana tindakan tersebut dengan sengaja merampas nyawa orang lain dengan cara melakukan penembakan tanpa memperkirakan akibatnya bagi orang lain.

"Setelah terlepas dari cekikan sudah merasa aman, entah apa dalam benak Briptu Fikri R, tanpa rasa belas kasihan dengan sengaja merampas nyawa orang lain dengan cara melakukan penembakan pada dada kiri M Reza sebanyak 2 kali dan M Suci Khadavi sebanyak 3 kali," kata JPU.

Setelah keempat anggota FPI itu tertembak hingga tak bernyawa, Ipda M Yasmin menepikan kendaraannya lalu melaporkannya ke Kompol Ressa F Marassa Bessy. Ketiganya lalu diperintahkan untuk membawa keempat anggota FPI itu ke RS Polri guna dilakukan penanganan medis.

Dalam sidang itu, baik terdakwa Briptu Fikri Ramadhan maupun Ipda M Yusmin Ohorella, tidak mengajukan eksepsi atau bantahan atas dakwaan JPU, melalui tim penasihat hukumnya, pihaknya akan mempelajari dahulu dakwaan.**

Editor: Maman Suparman

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Sungai Astana Gede Meluap, 8 Rumah di Desa Cibiruwetan Kebanjiran
Dana Kompensasi PLN Dipakai Membangun Jalan dan Drainase
Alhamdulillah Covid-19 Kota Bandung Kian Berkurang, 9 Kecamatan Nol Kasus
Ketika Diterjang Banjir Diakhiri Endapan Lumpur yang Tebal
Gegara Pembunuhan, 12 Kios di Gerbang di TPU Raga Sampurna KBB Dibongkar