Tak Ada Kado Istimewa di HUT ke-20 Kota Tasikmalaya, 30 Orang Luncurkan "Kota Resik".

  • Rabu, 20 Oktober 2021 | 10:41 WIB
foto

Foto: Istimewa

SALAH Satu sudut ruang terbuka di Pusat Kota Tasikmalaya lengang tanpa ada keramaian.

TASIKMALAYA, KejakimpolNews.com - Tak ada hal istimewa dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Kota Tasikmalaya. Setiap tahun diperingatinya dengan upacara dan kegiatan sidang paripurna DPRD. Pun demikian peringatan kali ini tak jauh berbeda dengan kegiatan tahun sebelumnya.

Ruang sidang DPRD penuh dengan anggota yang masing-masing mengenakan pakaian tradisional. merekapun ikut serta dalam upacara di halaman Balai Kota, dan ini berlangsung seperti biasa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan untuk kado usia yang ke- 20 ini, yang pernah terjadi adalah pengangkatan pejabat defenitif Wali Kota pengisi sisa waktu. Hal ini disebabkan wali kota sebelumnya tersandung kasus korupsi sehingga harus "masantren" di KPK.

Di tengah berkecamuknya politik Kota Tasikmalaya termasuk biisingnya suara jargon yang didengungkan calon jagoannya untuk menjadi  orang nomor satu di Kota Tasikmalaya mendatang, menjadi "kue bolu dan lilin" HUT ke-20-nya. Itulah dasar pandangan kado ulang tahun kali ini.

Di sudut lain, sejumlah seniman, kreator dan literasi memiliki cara berbeda dalam memberikan kejutan serta dianggap akan memberikan kontribusi, pemikiran yang tak lekang oleh waktu juga terbatas oleh zaman.

Peluncuran sebuah buku yang diberi judul KOTA RESIK adalah sebuah refleksi, peninjauan, penelaahan serta penggambaran dan lain sebagainya. Dalam ukuran memberikan karya sepanjang perjalanan rentang waktu 20 tahun kota ini. Tak tanggung tanggung para penulis buku tersebut bukan orang sembarangan dengan nota bene pencitraan.

Mereka terdiri dari sastrawan, budayawan, praktisi akademis, tokoh agama, masyarakat biasa hingga pengusaha dan ilmuwan serta wartawan. Tiga puluh orang bukanlah jumlah sedikit. Bisa disebut inilah kali pertama pengarang buku hampir memenuhi ruangan satu kelas di sebuah sekolahan.

Di sini mereka mencurahkan bidangnya masing masing menuangkan tulisan di buku tersebut. Tentu tujuannya selain mereview, kilas balik juga memberikan sebuah terobosan di tengah ingar bingarnya teknologi mumpuni. Era digitalisasi serta serba jaringan internet, menjadi sebuah alasan terkumpulnya para penulis tersebut.

Dalam penelusuran data, ke-30 orang pengarang yang tergabung dalam "kelas" buku Kota Resik adalah Nizar Machyuzaar Eugen, Ilam Maolani, Inda Hindasah dan Alfin menuangkan sorotan di dunia pendidikan. Untuk mengorek tulisan sejarah dibebankan kepada Muhajir Salam, Iwan R Jayasetiawan Neo dan Adi Hasriadi.

Sementara di ekonomi dipercayakan pada Edy Suroso dan Asep Chahyanto. Mengorek dunia Kesehatan ditulis Asep Sufyan. Dibidang sosial politik disuguhkan Yusuf Abdullah, Dadan Alisundana, Maulana Janah dan Mang Eper. Dalam persoalan gender dipersembahkan Hotum Hotimah. Untuk bidang Seni dan budaya Nazarudin Azhar, Bode Riswandi, Irvan Mulyadie, Yusran Arifin.

Bidang pertanian Dedi Sufyadi. Untuk Olahraga Irvan Chris. Bidang pariwisata dan Kuliner ditulis Iwoq Abqory serta Rino Sundawa Putra. Ruang publik dipercayakan pada Hendri Hendarsah. Sementara Tangan kreatif dibedah Bambang Arifianto. Untuk aktivis dan pemuda ditulis Taufik Rahman. Komunitas oleh Vudu Abdul Rahman. Terkait mahasiswa dibahas Wafa Amrillah dan Suminar Wili.**

Editor : Maman Suparman

Reporter: Budi Ombik

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Lebih Baik Hidup dari Sampah daripada Hidup Menjadi Sampah!
Anis Mata dan Fahri Hamzah "Gelorakan Tanam 10 Juta Pohon" di Cibiruwetan
Meminimalisasi Emisi Gas, Bus Listrik Diujicobakan di Bandara Soekarno Hatta
Belasan Karung Sampah Dipungut dari Halte Bus TMB Cinunuk
Penyebab Kecelakaan di Tol di Antaranya karena "Micro Sleep", Apakah Itu?