Diteror Usai Unggah Kasus Air Keras, Ketua Badko HMI Jabar Diancam Bernasib Seperti Andrie Yunus

Foto: One
Ketua Badko HMI Jawa Barat, Siti Nurhayati Barsasmy (kanan) tengah memberi keterangan pers.
BANDUNG, KejakimpolNews.com - Teror datang cepat, nyaris tanpa jeda. Hanya beberapa saat setelah unggahan itu dipublikasikan, ancaman mulai berdatangan, menyasar langsung keselamatan Ketua Badko HMI Jawa Barat, Siti Nurhayati Barsasmy.
Unggahan yang ia buat bukan tanpa alasan. Ia menyoroti dugaan aktor intelektual di balik kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Namun, respons yang datang justru bukan klarifikasi melainkan intimidasi.
“Dalam pesan itu, saya diminta untuk diam. Bahkan mereka menyebut posisi ibu saya,” ujar Siti dengan nada tegang saat ditemui di sekretariat Badko HMI Jabar, Jalan Sabang Kota Bandung , Senin petang (30/3/2026).
Ancaman itu tidak berhenti pada satu pesan. Siti mengaku, pengirim misterius itu dengan gamblang memperingatkan dirinya untuk menghapus unggahan tersebut—atau menghadapi konsekuensi yang mengerikan.
“Mereka bilang, kalau saya tidak menghapus foto atau video itu, saya akan bernasib seperti Bang Andri,” katanya.
Gelombang teror semakin terasa ketika akun resmi Instagram Badko HMI Jawa Barat ikut disasar. Pesan langsung (DM) masuk sekitar pukul 17.00 WIB, kali ini dengan ancaman yang lebih luas tidak hanya menyasar individu, tetapi juga organisasi.
“Pesan itu ditujukan ke ketua umum, agar menyampaikan ke saya. Kalau tidak dihapus, organisasi akan dihancurkan,” ujarnya.
Tak hanya melalui pesan pribadi, ancaman juga muncul terang-terangan di ruang publik digital. Dua akun anonim meninggalkan komentar bernada serupa di unggahan Instagram milik Siti, isinya memaksa penghapusan konten dengan ancaman kehancuran organisasi.
Situasi semakin mencekam ketika ancaman itu terasa nyata dan dekat. Tak lama berselang, aparat kepolisian dari Polres Garut mendatangi kediamannya.
Kedatangan mereka bukan tanpa sebab melainkan untuk memastikan keselamatan Siti di tengah bayang-bayang intimidasi yang mengintai.
“Polres Garut datang ke rumah untuk memastikan keamanan saya. Mereka juga mengecek data-data,” katanya.
Meski berada dalam tekanan, Siti memilih belum melaporkan secara resmi ke pihak berwajib. Ia mengaku khawatir proses hukum justru mengalihkan fokusnya dari upaya mengawal kasus kekerasan yang ia soroti.
“Saya memilih langsung ke media. Saya ingin fokus mengawal kasus ini,” tegasnya.
Namun, langkah pengamanan tetap disiapkan. Ia memastikan akan berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk perlindungan lebih lanjut. Dukungan pun mulai berdatangan, termasuk dari Komisi III DPR RI yang disebut akan ikut mengawal keselamatannya.
“LPSK sudah menghubungi. Dari Komisi III juga akan ikut mengawal,” ujarnya.
Meski teror hanya terjadi dalam satu hari, bayang-bayang ancaman itu belum sepenuhnya hilang. Siti mengaku tetap waspada.
“Alhamdulillah setelah itu tidak ada lagi. Tapi saya tetap menjaga keamanan,” katanya pelan.
Di balik layar digital, pesan-pesan anonim itu mungkin telah berhenti. Namun rasa mencekam dan pertanyaan tentang siapa dalang di balik teror masih menggantung di udara.**
Author: One
Editor: Maman Suparman