Rahasia Hidup Satu Abad

Foto : Istimewa
Mahathir Mohamad dan istri Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali (meninggal dunia pada usia ke-100), Senin (28/9) pagi.
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
ISTRI dari mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad, Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali, meninggal dunia pada usia ke-100, Senin (28/9) pagi.
Siti Hasmah yang lahir tahun 1926 mengembuskan napas terakhir di National Heart Institute, Malaysia.
Perlu diketahui, Mahatir Mohammad suami almarhumah lahir 1925 atau sudah berusia 101 tahun. Berprofesi sebagai dokter dan politikus senior. Ia berkali-kali menjabat Perdana Menteri Malaysia meski usia saat itu sudah lebih 70 tahun.
Rahasia Hidup Satu Abad
Rahasia hidup Mahatir Mohammad dan istrinya hingga satu abad umumnya berasal dari kombinasi kebiasaan hidup sehat, aktivitas mental, dan menjaga hubungan sosial yang baik.
Sebagai pasangan yang sama-sama berlatar belakang dokter, keduanya memahami betul bagaimana menjaga sinergi antara tubuh, pikiran, dan ikatan emosional. Seluruh kegiatan itu ditopang dengan bergerak aktif.
"Makan Untuk Hidup"
Prinsip "Makan untuk Hidup" menjadi rahasia mengapa hidup sehat dan panjang umur. Bagi Mahathir dan istri makan sebagai penopang hidup. Tapi harus disiplin menjaga porsi makan.
Kebiasaan uniknya selama menjalanlan filosofi "makan untuk hidup" Mahatir sekeluarga kerap berhenti makan sebelum kenyang, atau ketika makanan mulai terasa sangat lezat.
Hal ini menjaga berat badannya tetap stabil di angka 60–62 kg selama 40 tahun terakhir, padahal hidup berkelimpahan.
Aktivitas Pikiran
Menjaga ketajaman otak bagi Mahatir dan istri sebagai keharusan. Ia berasumsi, otak itu sebagai otot. Artinya, otak akan melemah jika tidak diaktifkan. Itu sebabnya, usia lanjut bukan alasan untuk menunda kebiasaan membaca dan menulis. Bahkan, berdiskusi dan memberikan wawancara pada media.
Resiliansi Emosional
Sikap positif itu bagi Mahatir dan istri sebagai tujuan hidup (sense of purpose).
Yakni, kecenderung melihat tantangan penuaan sebagai bagian dari perjalanan, bukan akhir dari segalanya (resiliensi emosional).
Ketika resiliensi seseorang meningkat, sistem saraf menjadi lebih adaptif dan tidak mudah terjebak dalam mode fight-or-flight (lawan-atau-lari) yang sering memicu rasa cemas berlebih.**