Raket, Kok, dan Merah Putih

  • 3 jam lalu
foto

Foto: Kemenpora

Tum Bulutangkis Indoendia meraih medali emas di Asian Games 2026 setelah 28 tahun menunggu,

Oleh HARI SINASTRIO
(Pengamat Sosial dan Olahraga)

Kalau bicara bulu tangkis atau badminton, rasanya sulit bagi orang Indonesia untuk tidak ikut terbawa perasaan.

Ada kenangan masa kecil. Badminton begitu membudaya. Ada shutle cock atau bola bulu angsa yang dipukul bolak balik, atau menurut lidah bangsa kita itu menyebutnya kok saja. Ada lahan kosong dijadikan lapangan, di kampung di kota ramai main badminton, bahkan gegap gempita kala pertandingan Agustusan. Ada raket yang senarnya putus.

Di level nasional dan internasional, Ada pertandingan yang pasti akan ditonton beramai-ramai. Jika tahun 1960-an zamannya Ferry Soneville cukup di radio, dan tahun 1970-an di televisi hitam putih.

Dan tentu saja saat nonton bareng nada satu hal yang paling ditunggu: Indonesia menang!

Dulu, kalau televisi menayangkan pertandingan bulutangkis, suasana rumah bisa berubah seperti stadion.

Bapak-bapak serius di depan televisi. Anak-anak ikut menonton meskipun belum terlalu mengerti aturan permainan. Kalau pemain Indonesia tertinggal, suasana mendadak sunyi.

Begitu pemain kita mendapatkan angka...
"Ayo... ayo... ayo!"
Begitu menang, satu rumah bisa ikut bersorak.
Begitulah bulutangkis ataui badminton.
Ia bukan sekadar olahraga.
Ia sudah menjadi bagian dari cerita hidup banyak orang Indonesia.

Era Rudy Hartono

Generasi kita pernah mengenal Rudy Hartono. Nama yang bagi penggemar badminton zaman dulu tidak perlu banyak penjelasan.

Kemudian muncul Liem Swie King yang terkenal dengan smes kerasnya yang kemudian terkenal dengan istilah "King Smash". Ada Tjun Tjun dan Johan Wahyudi.
Ada Christian Hadinata, Ada Icuk Sugiarto.

Di era tahun 1970-an itu pemain Indonesia sulit dikalahkan. Ada tujuh nama pebulutangkis Indonesia yang selalu tampil menjadi juara silih berganti. Mereka ketujuhnya dijuluki 'Magnificent Seven'.

Sesuai namanya, tujuh pemain putra yang berprestasi internasional. Mereka bermain dalam sektor tunggal dan ganda.

Ketujuh pemain itu yakni Rudy Hartono, Liem Swie King, dan Iie Sumirat untuk sektor tunggal. Lalu ada pasangan Christian Hadinata/Ade Chandra dan Tjuntjun/Johan Wahyudi.

Lalu generasi berikutnya menghadirkan Ricky Subagja-Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, dan kemudian Taufik Hidayat.

Nama-nama itu bukan sekadar daftar juara. Mereka adalah bagian dari sejarah. Mereka membuat anak-anak Indonesia bermimpi menjadi pemain bulutangkis.

Dulu mungkin kita bermain di lapangan kampung. Lapangan di alam terbuka. Yang kalau main malam diterangi lampu neon yang di tempel di tiang kayu.

Raket belum tentu bagus.
Sepatu pun kadang seadanya.
Tetapi mimpi?
Tetap setinggi langit.

Tapi yaitu tadi, belakangan Indonesia sepertinya begitu sulit menjadi jawara. Yhomas Cup lepas, Piala Sudirman, lolos, Juara All Englan jangan mengejar juara seperti Rudy Hartono, untuk sampai finalpun sulit. Apalagfi putri, sejak Susi Susanti gantung raket, tak ada pengganti yang sepadan.

Generasi Baru

Tahun 2026, kita kembali melihat cerita lama tentang kemenangan yang hampir membuat jantung copot.

Di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, tim beregu putra Indonesia berhadapan dengan China. Awalnya bukan cerita yang menyenangkan. Jonathan Christie pemain rangking 1 Dunia harus mengakui raja bulutangkis China, Shi Yu Qi, disusul ganda andalan Indonesia Fajar Alfian/Moh. Sohibul Fikri, rangking 2 Dunia juga harus terkapar melawan ganda China Liang Wei Keng/Wang Chang. Dan Indonesia tertinggal 0-2.

Kalau ini pertandingan di kampung, mungkin sudah ada yang mulai berkata:
"Wah, beres ieu mah..."
Tapi pertandingan belum selesai. Dan para pemain Indonesia ternyata belum mau menyerah. Alwi Farhan memperkecil ketertinggalan dengan mengalahkan Li Shi Feng.
Kemudian Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menyamakan kedudukan dengan meluluhlantahkan He Ji Ting/Liu Ye. Dari 0-2 menjadi 2-2.

Tinggal satu pertandingan. Satu kesempatan. Satu pemain harus berdiri membawa harapan seluruh tim. Muncullah Moh Zaki Ubaidillah yang akrab dipanggil Ubed.

Anak muda. Namanya mungkin belum sebesar nama-nama legenda yang pernah kita kenal.
Tetapi malam itu, ia mendapatkan kesempatan untuk menulis namanya sendiri dalam sejarah.
Dan ia tidak menyia-nyiakannya.
Ubed menang. Tampil perkasa dengan mengalahkan andalan terakhir China Weng Hongyang.

Indonesia menang 3-2, dam tgentu saja medali emas!

28 Tahun Menunggu

Ada sesuatu yang membuat kemenangan ini terasa semakin istimewa. Indonesia harus menunggu 28 tahun untuk kembali meraih emas beregu putra bulutangkis Asian Games.

Bayangkan. Hampir tiga dekade. Selama itu pula generasi berganti. Anak-anak yang dulu menonton Rudy Hartono dan Taufik Hidayat kini mungkin sudah menjadi bapak atau bahkan kakek. Dan sekarang mereka melihat generasi baru berdiri di podium.

Begitulah olahraga. Yang kita lihat bukan hanya pertandingan. Tetapi juga perjalanan waktu.

Dulu Kita Menonton

Mungkin suatu hari nanti, anak-anak yang sekarang melihat Zaki Ubaidillah dan kawan-kawan mengangkat medali emas akan bercerita kepada anak-anak mereka:

"Dulu, waktu Asian Games 2026, Indonesia tertinggal 0-2 dari China. Tapi akhirnya menang 3-2."
Lalu anaknya bertanya:
"Siapa yang menentukan?"
Jawabannya,"Namanya Zaki Ubaidillah."

Begitulah legenda terbentuk. Bukan dalam sehari. Bukan karena nama besar. Tetapi karena ada satu momen ketika seorang atlet berdiri di bawah tekanan dan berkata kepada dirinya sendiri,"Saya belum selesai."

Bulutangkis dan Indonesia

Itulah sebabnya bulutangkis atau badminton selalu punya tempat khusus di hati orang Indonesia. Olahraga ini mengajarkan sesuatu yang sederhana: jangan cepat menyerah.
Ketinggalan bukan berarti kalah. Terdesak bukan berarti selesai. Dan selama kok belum jatuh untuk terakhir kalinya...

Pertandingan belum berakhir.
Dari lapangan kampung hingga arena Asian Games.
Dari raket sederhana hingga podium emas.
Dari Rudy Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Icuk Sugiarto, Susi Susanti, Taufik Hidayat dan generasi-generasi sebelumnya...

Kini tongkat estafet itu berada di tangan generasi baru. Mereka punya tugas yang tidak ringan:
Menjaga tradisi.
Bukan untuk hidup dalam bayang-bayang para legenda.
Tetapi untuk menciptakan legenda mereka sendiri.
Dan kita
Kita tinggal menikmati pertandingannya.
Sesekali boleh tegang.
Sesekali boleh ngomel di depan televisi.
Kalau kalah, kecewa.
Kalau menang...
teriak sekampung!

Karena begitulah kita mencintai bulutangkis.
Merah Putih boleh berganti generasi.
Pemain boleh berganti nama.
Tetapi kecintaan kita pada bulutangkis Indonesia... semoga tidak pernah berganti.

Selamat, Tim Bulutangkis Putra Indonesia

Terima kasih sudah membuat kita kembali percaya:
bahwa pertandingan belum selesai sebelum angka terakhir diperoleh.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Tanggul Irigasi Longsor di Kutawaringin Kab. Bandung, 2 Rumah Rusak Berat Tergerus
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Sampai Juga ke Bandung, Pemkot Siapkan Mitigasi Untuk Antisipasi Dampak
Wagub Jabar Berharap, Bandung Harus Terus Maju dan Jadi Kebanggaan Jawa Barat
Duh, Usai Diresmikan Bupati, Jembatan Gantung Pongpet di Pangandaran Ambruk
Dentuman dan Getaran Sabtu Malam di KBB dan Cimahi Kagetkan Warga, BMKG Beri Penjelasan Ilmiah