Musuh Dalam Selimut

  • 7 jam lalu
foto

Ilustrasi

Ilustrasi "Tumbila" atau kutu busuk, kerap dianggap musuh dalam selimut.

Oleh HARI SINASTRIO
(Pengamat Sosial Politik)

ORANG Sunda punya istilah unik untuk menyebut musuh dalam selimut, yaitu Tumbila alias kutu busuk. Binatang kecil yang bersembunyi di balik kasur, tidak kelihatan, tetapi diam-diam mengisap darah. Kalau sudah bersarang, bukan perkara mudah untuk memberantasnya.

Dalam pengertian umum, musuh dalam selimut adalah orang yang berada di lingkaran sendiri. Satu kelompok, satu perahu, bahkan mungkin satu meja makan, tetapi diam-diam menyimpan kepentingan yang berbeda.

Begitulah kira-kira gambaran yang sedang menjadi perhatian kita di lingkaran besar pemerintahan sekarang. Ada yang disebut-sebut sebagai Tumbila.

Bahkan, sekarang Tumbila itu kabarnya sedang diadu boksen alias saling tinju.

Saya sebagai rakyat jelata —meminjam istilah Kiky Saputri—d ibuat bingung bin lieur.

Kurang apa coba? Jabatan mentereng, pangkat sudah tinggi dan maksimalis, bintang jasa sudah berjajar di dada. Soal kekayaan, entahlah, mungkin sudah cukup untuk tujuh turunan. Tetapi kok masih ada saja persoalan yang membuat gaduh?

Ibarat kata iklan kursi Ligna, "Sudah duduk lupa berdiri."

Kalau sudah begitu, susah membedakan mana kawan dan mana lawan. Dalam istilah Sunda, teu apal mana musuh mana kawan, jol jeletot!

Saya pribadi tentu tidak harus sepakat dengan seluruh program Presiden Prabowo. Tidak apa-apa, bukan? Dalam demokrasi, berbeda pendapat itu hal biasa. Kritik juga diperlukan agar pemerintahan tidak merasa selalu benar.

Tetapi kalau persoalannya sudah menyangkut kehormatan kepala negara, keamanan informasi negara, dan kepercayaan dalam lingkaran pemerintahan, tentu harus ditangani secara serius.

Apalagi kalau benar ada praktik penyadapan atau tindakan lain yang melanggar hukum. Persoalannya bukan lagi sekadar urusan pribadi atau persaingan antarpetinggi. Ada marwah negara yang harus dijaga.

Tumbila memang makhluk kecil, tetapi jangan salah. Justru karena kecil dan pandai bersembunyi, keberadaannya sering tidak terdeteksi. Ia bekerja dalam senyap, tahu-tahu darah sudah diisap.

Ibarat kasur yang sudah menjadi sarang tumbila, membersihkannya bukan perkara gampang. Kadang-kadang, jalan terakhir adalah membuang kasurnya sekalian.

Tentu saja, dalam urusan negara, tidak bisa asal buang atau asal tuduh. Harus ada bukti, penyelidikan, dan proses hukum yang jelas. Siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kita berharap persoalan ini segera terang benderang. Jangan sampai musuh dalam selimut terus dipelihara hanya karena berada dalam satu perahu kekuasaan.

Sebab, yang namanya Tumbila, kalau dibiarkan berkembang biak, bukan hanya membuat penghuni kasur tidak bisa tidur. Seluruh isi rumah pun bisa ikut terganggu.

Rakyat jelata hanya ingin satu hal: negara aman, pemerintahan bekerja, dan kepercayaan publik tetap terjaga.

Jangan sampai sibuk beradu boksen di dalam perahu, sementara rakyat yang berada di darat hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ulah nepi ka kasur nagara pinuh ku tumbila! (Jangan sampai kasur negara dipenuhi kutu busuk.).**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Konferensi Asep-Asep Hasilkan "Deklarasi Bandung", ini Harapan Ketua PWI Jabar
Pemadaman Karhutla di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai Ditinjau Kapolres Kuningan
Kapolda Jabar Instruksikan Bidang Propam Tindak Anggota Nekat Pakai Vape
HUT ke-75 Humas Polri, Polda Jabar Gelar Donor Darah dan Baksos
Polrestabes Bandung Ciduk 8 Terduga Penyerangan ke Pasar Induk Caringin yang Tewaskan 2 Korban