Tarekat Sayuriyah di Ciburial Kabupaten Bandung

Foto : Istimewa
Kebun sayur mayur di Pondok Pesantren Al Ittiqaf saat dikunjungi Presiden Joko Widodo.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
TAREKAT Sayuriyah. Nama aliran tasawuf tersbeut memang nonsen alias tidak ada . Tidak ada nama tarekat Sayuriyah, itu cuma iseng dan candaan K.H. Fuadz Affandi, Pemimpin Pondok Pesantren Al Ottifaq Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.
Sebuah represi kebanggaan setelah berhasil menjadikan pondok pesantren itu sebagai penghasil sayur mayur terbesar di Bandung Selatan. Maka iapun bercanda ini adalah Tareka Sayuriyah.
Nama-nama tarekat yang ada di dunia Islam dan berkembang di beberapa negara termasuk Indonesia memang sudah dikenal di masyarakat. Di antaranya:
- Qadha riyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani di Baghdad.
- Naqsyabandiyah didirikan Syekh Bahauddin Al Naqsyabandiyah di Turkistan
- TQN gabungan dua tarekat besar yakni Tarekat Qadariyah dsn Naqsyabandiyah (TQN) yang dimodifikasi oleh Katib Al Sambas di Kalimantan
- Dadhiriyah didirikan oleh Chasan Al Sadzily yang merupakan terdekat modern tanpa harus meninggalkan hal-hal yang duniawi,
- Rifa'iyah didirikan oleh Ahmad bin Ali Al Rifai.
- Samawi yah didirikan oleh Muhammad bin Samawi, berkeembang di negara-negara Asia tenggara termasuk Indonesia.
Dll
K.H, Fuadz Affandi adakah cucu pendiri Pondok Pesantren Ciburial dan putra dari KH Ahmad Rifai. Nama kecilnya adalah Udin Suandi. Ia dikenal sebagai anak nakal yang suka membantah kepada orang tua. Dalam sopan santun misalnya. ia tidak mau disuruh merunduk di depan orang tua. Ia hanya mau tunduk dalam ruku dan sujud ketika sholat.
Saking jengkelnya, orang tua terutama ibu rela " mengusir" sang anak ke luar kampung. Mula-mula ia dititipkan kepada kakeknya di Sukasari Kota Bandung. Lalu ikut pamannya di Parakan Muncang Kabupaten Sumedang.
Usia 15 tahun pergi sendiri ke Banjar Patroman Kabupaten Ciamis, mesantren d KH Holil. Di sana dia benar-benar hidup mandiri. Tidak pernah lagi meminta bekal dari orang tua di kampung.
Di Banjar ia ikut Kyai Holil mengembangkan agrobisnis dengan menanam berbagai tanaman produktif yang menghasilkan uang. Sekitar dua tahun di sana, bersama beberapa teman sepondok pergi ke Lasem di Kabupaten Rembang Jawa Tengah.
Di sana mereka nyantri di Pondok Pesantren Alhidayah. Kebetulan Pemimpin Pondok Persantren K.H. Mahsun adalah teman mondok kakeknya (KH Mansyur) di Bangkalan Madura. Jadi ada korelasi kekeluargaan dan menjadi santri kesayangan. Terutama oleh istri kyai yang biasa dipanggil Mbah Putri.
Mbah Putri sangat sayang kepada Udin Suandi. Bahkan Mbah Putri juga yang mengganti nama Udin Suandi menjadi Fuadz Afandi yang berarti kira-kira orang yang punya kedudukan.
Lasem Itu kota pelabuhan nelayan di pinggir Laut Pantura. Lasem juga kota tua penghasil batik berkualitas tinggi secara turun temurun. Dan Fuadz Affandi larut dalam pergaulan dengan para nelayan dan para pengrajin batik.
Rupanya Fuadz termasuk manusia petualang. Setelah menimba ilmu agama dari ZH Mahsun, ia meneruskan hidup sebagai santri kelana. Ia pergi ke beberapa pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan juga ke Banjar Patroman menemui KH Holil.
Ia juga menjadi santri kelana di Sarang dan Lamongan Jawa Timur. Ketika sedang di sana dia dijemput oleh semua saudara-saudaranya dari Ciburial. Ayahnya, K.H. Abdul Rifai sakit keras dan ingin mewariskan pondok kepada si pembangkang .
Terpaksa Fuadz pun ikut pula. Sang ayah memang sepertinya sudah menunggu ajal.
Semua saudara-saudaranya mendesak supaya Fuadz mau menerima menjadi pemimpin pondok. Mereka saudara-saudaranya berjanji akan membantu segala usaha dan langkahmu mengembangkan pondok.
Setelah mendengar janji semua saudara-saudaranya, barulah dia bilang di depan ayahnya, "Muhun abdi sanggem".
Sebelum meninggal sang ayah sempat menikahkan si pembangkang itu dengsn seorang gadis bernama Sa'adiah yang ia kenal waktu tinggal bersama pamannya di Parakan Muncang.
Yang pertama dia lakukan adalah memberi nama pondok peasantrennya karena kakeknya (KH Mansyur) tahun 1934 hanya memberi nama Pondok Pesantren Ciburial saja. Maka oleh Udin "Fuadz" diberi nama Pesantren Itu "Al Ittifaq" yang berarti kesepakatan, perjanjian atau konsensus.
Setelah memberfi nama, ia membangun jalan untuk kendaraan besar sepanjang 2 km dari Ciburial ke jalan raya dan menyukseskan dipasangnya jaringan listrik ke Ciburial Ciwidey - Rancabali.
Selanjutnyau ia mengajak para santri dan masyarakat sekitar pesantren untuk bareng bareng menanam sayur mayur, karena memandang kultur tanah sangat cocok untuk tanaman holtikultura.
Dua tahun kemudian Ciburial telah menjadi penghasil sayur mayur di selatan Kabupaten Bandung. Tiap hari puluhan truk keluar mengangkut sayur mayur ke Bandung dan Jakarta. Talenta kyai yang suka humor dan lebih senang dipanggil "Mang Haji" itu piawai menyejajarkan antara bisnis dan silaturakhmi.
Sayur mayur Itu dipasok ke pusat-pusat pertokoan di Bandung dan Jakarta seperti Hero dan Yogya. Gilirannya nama Ciburial dan Al Ittifaq menjadi tenar di Nusantara, bahkan juga di dunia.
Presiden Soeharto, Presiden Habibibie sampai Presiden Joko Widodo pernah datang kei Ciburial. Mereka terkagum-kagum dan bibirnya berdecak, sambil mengacungkan jempol tangan.
Bagi yang tidak mengikuti jalan dan kesulitan yang dihadapi Fuadz tentu dengan mudah berkata, "Hebat kali ni kyai".
Padahal Fuadz sendiri mengerahkan segala daya upaya dengan keringat dan suka duka.
Tapi Kyai yang suka bercanda itu masih tetap suka menyebut pondok pesantren Al Ittifaq menganut paham tasawuf atau tarekat Sayuriah.**