Leman, Tukang Becak Resmi Buka Pameran Tunggal Republik Sandal Jepit

foto

Foto: Whyr

Leman (65) tukang becak dari Cirebon membuka pameran Presiden Sandal Jepit.

KUNINGAN, KejakimpolNews.com -- Seniman Asep Dheny, yang dikenal melalui identitas artistiknya Republik Sandal Jepit, kembali menghadirkan sebuah peristiwa seni melalui pameran tunggal ke-7.

Pameran lukisan bertajuk “Smakin Kesini, Smakin Kesana”, resmi dibuka oleh Leman (65) seorang tukang becak tua renta di Gramedia Grage Mall Cirebon, Sabtu (07/11/2026).

Pameran tunggal yang akan berlangsung hingga 30 November 2026 ini, dikuratori oleh Made Casta, seniman budayawan Cirebon, yang turut mengawal pembacaan gagasan dan pesan artistik di balik karya-karya Asep Dheny.

Disela pembukaan Asep Dheny menuturkan, Pameran ini bukan sekadar perayaan perjalanan berkesenian, melainkan sebuah ruang refleksi, kritik sosial, dan perenungan terhadap kondisi kehidupan masyarakat hari ini.

Melalui simbol sandal jepit, Asep Dheny mengajak publik membaca kembali realitas kehidupan: tentang manusia, kekuasaan, kepentingan, pergeseran nilai, hingga arah peradaban yang semakin sulit ditebak.

Tema “Smakin Kesini, Smakin Kesana” dipilih sebagai ungkapan satir atas fenomena disorientasi sosial. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya perubahan zaman, manusia justru kerap kehilangan arah, sementara nilai-nilai kemanusiaan perlahan terpinggirkan oleh kepentingan dan ambisi.

Sandal jepit selama ini dianggap benda sederhana dan remeh menjadi metafora utama dalam karya-karya Asep Dheny. Ia menghadirkan perspektif dari titik paling dekat dengan tanah, tempat kehidupan rakyat kecil berpijak, sekaligus menjadi simbol kesederhanaan, kebebasan, dan suara mereka yang kerap tidak terdengar.

Seperti dalam acara seremonial biasanya Pembukaan pameran seni lazimnya dibuka oleh pejabat, tokoh publik, atau kalangan seniman, namun Asep Dheny justru memilih seorang tukang becak untuk membuka pameran tunggalnya.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Tukang becak dipandang sebagai representasi masyarakat kecil yang setiap hari mengayuh kehidupan, mengantarkan orang lain menuju tujuan, sementara nasibnya sendiri sering kali tidak menjadi perhatian.

Keputusan ini sekaligus menjadi pesan artistik dan sikap kritis bahwa seni tidak semestinya hanya berdiri di ruang eksklusif, berputar di antara kalangan elite, atau menunggu legitimasi dari mereka yang memiliki kekuasaan.

Bagi Asep Dheny, siapa yang membuka pameran bukanlah persoalan siapa yang paling tinggi kedudukannya, melainkan seberapa dalam makna yang dibawanya.

Tukang becak yang sehari-hari mengayuh roda kehidupan justru diberi kehormatan membuka ruang pertemuan gagasan dan karya seni. Sebuah simbol bahwa seni seharusnya kembali kepada manusia, bukan hanya menjadi milik mereka yang mampu menikmatinya.

Pameran tunggal ke-7 ini juga menjadi penegasan keberadaan Republik Sandal Jepit sebagai identitas artistik yang konsisten mengangkat persoalan sosial melalui bahasa visual yang jenaka, absurd, satir, tetapi tetap menyimpan kedalaman filosofis.

Melalui pameran ini, Asep Dheny seolah ingin menyampaikan, di tengah dunia yang semakin maju, manusia tidak boleh lupa pada tempatnya berpijak.

Sebab, terkadang mereka yang dianggap kecil justru menyimpan makna yang besar. Dan mereka yang setiap hari mengantarkan orang lain menuju tujuan, pantas mendapat kesempatan untuk membuka jalan bagi seni.

Smakin kesini, smakin kesana. Barangkali bukan dunia yang kehilangan arah, melainkan manusia yang terlalu sibuk menentukan tujuan hingga lupa ke mana seharusnya melangkah.**

Author: WHJR
Editor: Maman Suparman

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Becak Listrik Mulai Operasi di Bandung dan Soreang Tapi Sepi Peminat
Potret Kemuliaan Mulyono, "Setiap Jumat Gojek Ini Pri/Gratis"