Potret Kemuliaan Mulyono, "Setiap Jumat Gojek Ini Pri/Gratis"

foto

Ridhazia

Mulyono setiap Jumat tak terima bayaran gojek.

Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)

KEMULIAAN tidak butuh kekuasaan atau kekayaan materi. Melainkan lahir dari karakter, ketulusan, dan dampak nyata bagi sesama.

Dan, esensi kemuliaan itu terpancar begitu indah dari sosok pengojek jalanan bernama Mulyono.

Di balik awan mendung ekonomi negeri ini dimana biaya hidup melambung, lapangan kian kerja menyempit, dan ketidakpastian menjadi santapan sehari-hari, Mulyono membuktikan bahwa ketulusan hati tidak bisa didevaluasi oleh krisis apa pun.

Mengetuk Pintu Langit

Kerendahan hati Mulyono melekat pada dirinya selama belasan tahun bahwa hari Jumat bukan lagi lagi hari mencari rupiah, melainkan momentum untuk mengetuk pintu langit.

Setiap hari Jumat, dari fajar menyingsing hingga malam menjemput, Mulyono tidak menerima uang sepeserpun dari jasa mengantar penumpang.

Ketika ditanya apakah ia tidak takut rugi seharian mengojek tapi tak menerima uang sepeserpun, malah nombok bensin.

Ia menjawab ringan, semua itu wujud pilihan yang didasari keyakinan kalau enam hari kerja lainnya sudah lebih dari cukup.

Filosofi ini diekpresikan dalam tulisan di belakang jaket Mulyono yang lusuh : "Setiap Jumat Gojek ini Fri/Gratis"

Penghulu Segala Hari

Di kalangan muslim, apa yang dilakukan Mulyono sebagai ekspresi atas keyakinan bahwa hari Jumat disebut sebagai "Jumat Berkah" karena dianggap sebagai hari yang paling mulia (sayyidul ayyam)

Bagi seorang pekerja sektor informal seperti pengojek, merelakan pendapatan satu hari penuh bukan keputusan yang mudah. Namun, bagi Mulyono, hari Jumat tetap membelah jalanan, menerjang debu, dan memeras keringat sepenuhnya untuk mencari keberkahan dan berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Senyum tulus para penumpang yang terbantu, doa-doa lirih yang terucap di atas motornya, serta rasa syukur yang mengalir, menjadi "mata uang" yang jauh lebih bernilai bagi hidup Mulyono ketimbang uang rupiah.

Oase Kehidupan

Kisah Mulyono adalah tamparan sekaligus oase. Bahwa sekecil apa pun profesi , dan seburuk apa pun kondisi ekonomi yang sedang menjerat negeri ini, ruang untuk berbuat baik selalu terbuka lebar bagi yang memiliki kemuliaan hati.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Becak Listrik Mulai Operasi di Bandung dan Soreang Tapi Sepi Peminat
Grandfinal Putri Hijabfluencer Indonesia, Dorong Modest Fashion Kota Bandung Mendunia
Tarekat Sayuriyah di Ciburial Kabupaten Bandung
Sepeda Koran dan Kabar Baik dari Tanah Pasundan