Mengenang, Kombes Pol (Purn) Drs. Dade Achmad, Mantan Kabid Humas Polda Jabar

Foto : Istimewa
Kombes Pol (Purn) Drs.Dade Achmad
BANDUNG, KejakimpolNews.com - Bagi wartawan senior, khususnya yang meliput di Polda Jabar sejak 2006-2010, terkejut mendengar Kombes (Purn) Pol Drs. Dade Achmad, mantan Kabid Humas (Kadispen) Polda Jabar telah berpulang ke Rahmatullah, Senin (27/4/2025).
Apalagi sebelumnya, pernah penjabat sebagai Wakapolres Garut (1997-2000) saat Polwil Priangan, siapa yang tak kenal dengan Dade Achmad yang sangat dekat dengan wartawan kerap berdiskusi dan sumbang saran.
Usai purnatugas jadi aparat "Pengayom, Pelindung dan Palayan" masyarakat, sejumlah wartawan sempat menemui di rumahnya di Jalan Mandala 8 no 151, Kelurahan Jtihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung beberapa waktu lalu.
Dade Ackmad yang pernah menjabat Ketua RW 11 ( 2017-2020) saat itu sempat berdiskusi dan diwarnai senda gurau, terutama terkait sosoknya sebagai anggota Polri.
Ternyata, ikan di laut tak otomatis menjadi asin hanya karena hidup di lingkungan berkadar garam tinggi dan aroma korup-hedonistik yang ditudingkan banyak orang pada lingkungan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tak membuat Dade Akhmad hanyut dalam sistem yang bertentangan dengan suara hatinya.
Dade Achmad dengan santai menceritakan terkait perjalanan karirnya dalam institusi Polri dari mulai jabatan Kaur Pensat (1983-1986) hingga jabatan terakhir Kabid Humas (Kadispen) Polda Jawa (2006-2010).
Terkhusus, Dede Achmad menyebut jabatan sebagai Wakapolres Kabupaten Garut (1997-2000) menempati posisi istimewa dalam hatinya karena ikatan batin antara dirinya dengan masyarakat Garut ternyata terus berlangsung sampai sekarang saat dirinya telah menjalani masa pensiun.
"Jujur, kami umroh tahun 2006 dibiayai oleh mereka," ujar Dade didampingi istrinya, Dewi Indrani yang atlet dan pelatih tim menembak Jabar periode 1984-2008.
Tiga tahun menjadi orang kepolisian nomor dua di Kota Dodol itu, Dade menginstruksikan para anggotanya untuk konsekuen dalam artian memberlakukan standar tunggal dalam penetapan aturan,
"Para polisi lalulintas sebelum turun ke jalan melakukan razia pada pengendara umum harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan di markas meliputi kelengkapan kendaraan dinas mereka dan surat-surat, termasuk SIM dan STNK,” kata anggpota Resimen Mahawarman Universitas Padjadjaran Bandung ini.
Begitu mendapati fakta bahwa sebagian anggotanya tidak memiliki persyaratan itu, Dade langsung menyuruh mereka melengkapi kekurangan tersebut,
"Masa kita menilang masyarakat sementara polisinya sendiri melakukan pelanggaran," katanya.
Pola sentuh
To protect and to serve bagi Dade Achmad yang alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad Bandung dan angota Menwa ini bukanlah sekadar slogan kosong, dia menerapkan ‘pola sentuh’ dalam menyempurnakan pengabdian kepada masyarakat.
Setiap polisi yang menjadi bawahannya diperintahkan untuk menjalankan pola itu dalam berhubungan dengan masyarakat yang intinya terfokus pada tiga hal, yakni silaturahmi, tatap muka, dan komunikasi.
Anggota Polri ditekankan untuk lebih banyak berinisiatif menyambangi masyarakat di wilayah tugas mereka. "Jangan tunggu mereka datang melapor, usahakan menjalin kedekatan agar masalah yang mungkin muncul dapat segera dideteksi dan ditanggulangi hingga tidak perlu menambah angka kriminalitas dalam statistik,”ucap Dade Ahkmad.
Deukeut, picontoeun
Bagusnya, kata Dade Achmad, polisi juga banyak membaca agar bisa ‘nyambung’ saat berkomunikasi dengan masyarakat.
"
Ya deukeut, gaul, picontoeun,”imbuh Dade Achmad.
Dade pun memaparkan kriteria ideal polisi di matanya dalam bahasa Sunda yang bermakna bahwa polisi harus dekat dan mampu membaur dalam masyarakat serta menjadi figur panutan.
"Polisi hendaknya tidak tergiur dengan keuntungan sesaat yang berisiko merusak moralnya, senantiasa terbuka dalam menampung aspirasi masyarakat, dan menunjukkan keteladanan dalam tiga bentuk, yakni penampilan rapi, ucapan yang santun, dan konsisten dalam artian dia juga taat pada aturan yang diterapkannya pada masyarakat," ungkapnya,
Saat menjabat Wakapolres Garut, Dade mengarahkan para kapolsek untuk melakukan patroli keliling, mengikuti berbagai acara pengajian bahkan kenduri, dan setiap muncul kasus, langsung turun ke lapangan tanpa harus disuruh atau dilapori terlebih dahulu.
Dia bahkan mengimbau semua anggotanya yang muslim untuk mendirikan salat lima waktu di masjid dengan berpakaian dinas lengkap.
"Secara psikologis akan muncul perasaan aman saat masyarakat melihat polisi salat berjamaah bersama mereka...yah,minimal terpaksa mikir-mikir dulu kalau mau mencuri sandal orang lain," katanya sambil tersenyum.
Bahkan para tahanan yang berada di lingkup daerah kerjanya tak luput dari perhatian Dade.
"Setiap minggu, saya suruh mereka apel. Saya menghampiri mereka untuk mengingatkan bahwa tindak kejahatatan yang telah mereka lakukan pada akhirnya justru menyengsarakan keluarga sendiri," katanya mengngatkan.
"Anak-istri yang tak jelas sumber nafkahnya selama mereka ditahan, pendidikan anak yang terganggu ditambah beban mental karena punya ayah pelaku kriminal, orangtua yang terpaksa menanggung malu. Dengan cara ini ternyata efektif menyentuh mereka hingga termotivasi untuk berkelakuan baik," tambahnya.
Pun dalam menjaga keharmonisan keluarganya, Dade menerapkan ‘pola sentuh. "Setiap ada kesempatan saya selalu menelpon ke rumah untuk bertukar kabar dengan anak-istri," tuturnya.
”Kami berusaha menjaga komunikasi dan kepercayaan di antara kami. Bukan hanya ‘pola sentuh’, prinsip konsekuen pun diberlakukannya dalam keluarga. Anak-anak saya tak boleh belajar mengendarai motor sampai mereka cukup umur sesuai aturan hukum," ujarnya.
Kerap Berdiskusi
Pun saat menjabat Kabid Humas Polda Jabar mengantikan Kombes Pol Istanto (2006-2010), Dade Ahkmad sangat dekat dengan wartawan. Bahkan kerap ngopi bareng dan berdiskusi.
"Insya Allah, saya sebagai Kadispen Polda Jabar sangat terbuka dan tak akan membeda-bedakan wartawan dari media mana. Semua sama, tanpa ada wartawan, semua informasi kepolisian, khususnya Polda Jabar tak akan diketahui khalayak," kata Dade saat ini di sebuah kantin di Mapolda Jabar.
Kini Dade Achmad tinggal nama dan telah dimakamkan di TPU Cikutra Blok F dengan prosesi militer, Senin (27/4/2026) siang.
Kepergian Dade Ahhmad untuk selamanya, sejumlah wartawan yang dulu meliput di kepolisian, khususnya Polda Jabar terkejut. Di antaranya, Abah Opik, Aam Permana (AP), Dono Darsono, Rahmat Ginanjar (Ragin) dan Dedi Suheri (Suhe) mengaku terkejut.
"Jujur, saya terkejut mendengar Pak Dade Achmad meninggal. Itulah usia, rahasia Allah. Semoga Pak Dade husnul khatimah dan di mata saya, khususnya dan umumnya wartawan yang meliput di kepolisian, Pak Dade orang baik, santun dan sangat dekat dengan wartawan," ujar Dono.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, mewakili Kapolda Jabar dan jajaran turut berduka atas kepergian Dade Akhmad.
"Innalilahi wainaillaihi rojiun, semoga Pak Dade Akhmad yang telah mengabdi untuk negara husnul khatimah, keluarga yang ditinggalkan sabar serta tawakal," kata Hendra.
Dede Akhad yang pernah jadi Kaur Pensat (1983-1986), Wakapolres Garut 1997-2000, Dansatgas operasi pemulihan keamanan di Aceh (2002-2003),
Kabid Humas Polda Jabar (2006-2010) ini, meninggalkan istri, Dewi Indriani, 2 putri (Ajeng dan Ayu), dan 1 putra (Habil) serta 3 cucu.**
Editor: Yayan Sofyan