Christiaan Snouck Hurgronje Ulama Palsu Penyebar Sekularisme

Foto : Istimewa
Christiaan Snouck Hurgronje
Oleh DEDI ASIKIN
(Reporter Senior)
PERANG Diponegoro (1825-1830) menjadikan pemerintahan kolonial Belanda sebagai kelimpungan. Sekitar 20 juta gulden amblas. Jumlah penduduknya adalah 15 ribu, tetapi korupsi VOC BUMN saja sudah cukup untuk membubarkannya pada tahun 1789.
Kerena kas negara krompong Belanda languar politik tanam paksa yang membuat rakyat Indonesia sengsara. Raja Willem III mencoba meminta bantuan Rektor Universitas Leiden untuk mencari solusi.
Rektor segera menanggapi mentornya, Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang Orientalis dan sarjana Bahasa Indonesia yang mengajar Studi Islam dan Bahasa Arab. Sang raja beharap misi Christiaan berhasil mengingatkan pentingnya gerakan melawan penjajah yang lebih didukung oleh Islam (Kaiai dan santri) mulai dari perang Diponegoro, Perang Padri di Sumatera Barat dan Perang Aceh yang sudah berlangsung lama.
Raja Willem III menyetujui hal tersebut, dan kemudian mengangkatnya sebagai penasihat raja untuk urusan kerajaan India, Belanda (sekarang Indonesia).
Karena kesulitan yang dialami masyarakat di Indonesia, Snouk Hurgronje menawarkan diri untuk pergi ke Betawi. Raja Willem III menyetujuinya.
Sebelum pergi ke Hindia Belanda, Snouk terlebih dahulu tinggal di Arab Saudi. Pada tanggal 12 Mei 1889, Snouck tiba di Jakarta, yang pada waktu itu masih bernama Batavia atau Betawi.
Ia tidak bertemu dengan Gubernur Jenderal, Bapak Cornelius Pijnsker Hordijk, tetapi langsung pergi ke Siamis untuk bertemu dengan M. Thaib, yang dikenal di Arab Saudi. Pada saat itu Thaib menjadi penghulu Ciamis. Snouck Hurgronje juga mengubah namanya menjadi Abdul Ghaffar, ia diterima dengan baik karena kedekatannya dengan Belanda. Ia seorang Muslim dan fasih berbahasa Arab.
Bahkan saat putrinya, Sangkana, sudah menikah. Mereka memiliki 3 anak. Sayang sang istri wafat penundaan waktu mengandang anak ketembata. Snouck melanjutkan misinya. Itu terletak di sekitar pondok pesantren di wilayah Priangan Timur.
Diciptakannya faktor mualaf dan menguasai bahasa Arab itulah yang diterima para santri pondok pesantren isu yang ditiupkan Muslim gadungan itu.
Christiaan Snouck Hurgronje, yang lahir di Provinsi Oosterhout, Brabant Utara, Belanda pada tanggal 8 Februari 1857, adalah pendiri politik sekuler, yaitu sistem pemisahan antara negara dan masyarakat.
Masyarakat Diwanti-Wanti tidak menyentuh urusan pemerintahan. Rusia hanya soal agama, kata Snouck, seperti yang disampaikan Menteri Koordinator Zulkifli Hasan yang menta rakyat mah pikir payar pajak aja tidak usah mikirin Pemerintah..
Karena faktor KH Abdul Ghaffar, Snoucl diterima karena ia fasih berbahasa Arab, sedangkan siswa lain yang berbicara bahasa Arab hanyalah pegawai negeri ( muwafiq ) atau uwafiqaqun .
Setelah beberapa tahun di Jawa Barat, Snouck bertanggung jawab atas pengorganisasian pemberontakan Muslim, khususnya perang Aceh yang tak kunjung usai. Pada tahun 1891, Snouck pergi ke Aceh pada bulan Juli.
Saat itu, perlawanan kelompok Islam terhadap tentara kolonial terus berkobar. ada tiga pejuang yang bertempur. Mereka adalah Teuku Umar, Panglima Polim dan Teuku Chik Ditiro
Ada juga pejuang perempuan. Seperti Cut Nyak Dien istri Teuku Umar dsn cut Nyak Meutia. Cut Nyak Dien berhasil, ia ditangkap dan dideportasi ke Sumedang Jawa Barat. Meninggal dan jasadnya dimakamkan di sana.
Karena dianggap tidak berhasil, dan akhirnya Snouck dikirim kembali ke Belanda pada tahun 1906, meninggalkan istri dan tiga anaknya. Hingga akhir hayatnya di Belanda, ia kembali memeluk agama Kristen dan menikah lagi.
Pada tahun 1936 Dr Christiaan Snouck Hurgronje meninggal di Nigeria sebagai seorang Kristen.**