Mengenang Perjalanan H.Oce Permana Sambil Silaturakhmi Wartawan

Silaturakhmi para wartawan sambil mengenang almarhum Oce Permana.
Catatan MAMAN SUPARMAN
"JANTUNG saya teh, ceuk dokter mah teu bisa dipasang ring, tapi kudu by pass. Teu aya pilihan, Ahhh pasrah we saya mah," .
Ucapannya masih terngiang di telinga saya dan juga beberapa rekan lainnya dari mulut sahabat kami H.Oce Permana empat tahun lalu. Ia menyebut, dirinya memang terkena gangguan jantung. Namun katanya, dokter menyebut sudah tak bisa dipasang ring lagi, melainkan harus operasi pintas, by pass.
Ucapan tersebut dilontarkan Oce -- demikian jika kami memanggil -- ketika kami dan sejumlah rekan dan sahabat Oce diundang hadir untuk makan di rumah makan "Sunda Buhun" yang dikelola putranya, di Jalan Garut, Kota Bandung, Sabtu 17 Desember 2022.
Hari itu Oce meminta sahabat dekatnya Omay Komar mengajak sejumlah rekannya untuk bertemu sambil makan-makan. Saya, Omay Komar, M.Baedarus, Yaumar Yasin, Nanang Solihin, dan Dede Suryana, hadir atas undangannya.
Di rumah makan itu kami bersuka ria bercengkrama dan ngobrol ngaler ngidul. Tampak Oce begitu ceria dan menemani kami makan sambil sesekali ngobrol tentang masa lalu, masa kini dan tentang penyakit yang dialaminya. Di antara ucapannya yang tertulis di atas itulah yang masih kami ingat.
Pasalnya, persis sebulan setelah itu tepatnya Rabu 18 Januari 2023, ada WhatsApp (WA) masuk diawali Innalillahi.... dan setelah kubaca ternyata isinya dari sejumlah rekan mengabarkan bahwa H.Oce Permana wartawan senior itu telah meninggal dunia.
Saya tentu saja kaget, sebab baru sebulan lalu kami bertemu. Namun sejenak saya sadar Kullu nafsin dzaiqotul maut artinya adalah "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian" (Al An Kabut ayat 57).
Hari itu juga saya menghubungi Omay Komar yang kebetulan yang bersangkutan sedang ibadah Umrah ke Tanah Suci. Omay cukup kaget, dan saya minta rekan Omay agar di Tanah Suci di Raudhah Masjid Nabawi dan Masjidil Haram mendoakan Oce.
Omay sendiri mengakui, tiga hari sebelum berangkat umroh pada 16 Januari 2023, dirinya sempat menjenguk almarhum yang saat itu dalam keadaan koma di RS Al Islam. Dan itulah pertemuan terakhir dengannya kendati tak bisa diajak ngobrol,
Selanjutnya setelah ia berada di Tanah suci sohib kentalnya itu memang meninggal, Omay sendiri tak sempat takziyah dan ikut mengantar ke pemakaman di TPU Rancacili.
Memang setiap yang bernyawa termasuk manusia seperti halnya saya, kami dan kita semua bakalan maut, dan hakikatnya kita semua sedang antre menunggu panggilanNya, soal waktu hanya Allah Swt yang Mahatahu.
Kami sejumah rekan almathum dan sahabat rekan tetangga dan istri anak menantu dan cucunya, sama-sama berangkat ke rumah duka dan ikut menyaksikan pemakamannya di TPU Rancacili. Ratusan orang ikut mengantar hingga TPI sesak, pertanda rekan dan balad almarhum banyak juga.
Ihwal kematian memang "pasti" dan random tak memandang usia, tua muda, bayi atau aki-aki, siapa yang dikehendaki takdirnya, itulah yang bakal dialami semua orang. Buktinya setelah Oce Permana, rekan kami lainnya yang saat itu ikut hadir, Dede Suryana pun mengikutinya, padahal usianya masih di bawah saya atau Oce.
Mengenang Almarhum
Empat tahun silam terus berlalu, Sabtu 3 Oktober 2026, saya mendapat berita dari rekan Omay Komar. Katanya Bu Hj.Anna Gardinasari, istri almarhum H.Oce Permana mengundang mantan rekan dan sahabat suaminya sesama wartawan di Kota Bandung untuk berkumpul sambil mengenang kembali almarhum yang sudah berada di alam Barzah.
Undangan kepada kami para sahabat dan rekan Oce juga disampaikan Anna melalui Boedi Azwar saat konferesi daerah PWI Jabar di Hotel Horison.
Bahkan rencana semakin dimatangkan ketika Asep Rachmat Hidayat juga mendapat amanat dari Anna saat bertemu di SOKSI tentang keinginan keluarga besar Oce Permana ini kumpul-kumpul ngariung sambil mengenang almarhum.
Di rumah makan yang juga dikelola putranya, Resto Rumpun Sunda di Jalan Lombok 45 Bandung, kami diterima keluarga besar almarhum Oce Permana. Ny. Hj. Anna Gardinasari, dan semua putra menantu dan cucu-cucunya menyambut kami yang jumlahnya sekira 30 orang.
Di antara tamu atau rekan kami, masih tampak H.Dedi Asikin wartawan yang masih rajun menulis di KejakimpolNews.com. Walau usianya susah 86 tahun, ia masih tampak jagjag waringkas dan sengaja datang jauh-jauh dari Tasikmalaya karena katanya ingin berjumpa dengan rekan-rekan wartawan yang secara usia masih berada di bawahnya.
Selain H.Dedi Asikin yang mantan wartawan Mandala, juga Bu Hj.Endah Suhaedah yang kini menginjak 82 tahun. Ia adalah wartawati Bandung Pos satu kantor dengan almarhum Oce Permana.
"Asa ka anak ka Oce teh, budak wanian," kata Bu Endah yang juga bersuamikan H.Hamzah Ibrahim yang kini telah almarhum.
Dalam acara tersebut selain diisi dengan silaturahmi sesama rekan maklum sudah lama tidak bertemu, sejumlah orang memberi kesaksian atau testimoni tentang sepak terjang almarhum.
Saya sendiri mengenal Oce saat saya menjadi wartawan Gala di Jalan Asia Afrika, dan Oce di Mingguan Giwangkara. Kami sering berjumpa saat mencuci cetak foto di rumah Otang di Jalan Sasak Gantung Bandung. Otang adalah rekanan wartawan Bandung tempat mencuci film dan mencetak foto juga menjual film.
Sejak tahun 80-an ini kami saling mengenal dan sering meliput bersama di antaranya di Kejaksaan, Kepolisian, Pengadilan Negeri Bandung.
Namun Oce termasuk yang piawai bersosialisasi dengan berbagai narasumber, termasuk dengan sejumlah pejabat, pengusaha, penguasa, sipil, militer, dan polisi. Rupanya Oce lebih senang meliput dunia kriminal dan juga kepolisian termasuk dunia malam.
Namanya kian berkibar dan populer khususnya di kalangan wartawan, tiga serangkai dengan dua sahabatnya Omay Komar dan almarhum Martin Wiriadi. Hingga rekan Imam Wahyudi dari Pikiran Rakyat menyebutnya Trio OMO (Omar Komar, Martin Wiriadi, Oce Permana).
Dan sebutan itu sangat populer saat itu dalam dekade tahun 1980 hingga 2000, apalagi sejak Oce menjadi wartawan Harian Bandung Pos.
Bahkan Omay Komar sahabat paling dekat dalam testimoninya menyebut, kenal Oce jauh sebelum jadi wartawan. Masa usia SD 10 tahunan, setiap pagi Omay mengakui sering bertemu Oce di seputar Alun-Alun Bandung, bukan bermain layaknya anak-anak melainkan menjual koran untuk jajan sehari-hari.
Dan ternyata dari penjual koran eceran ini semakin lama semakin menyintai dunia koran, hingga setelah dewasa para cilik penjual koran ini benar-benar bergelut dengan koran bahkan menjadi wartawan. Omay Komar menjadi wartawan Harian Mandala, dan Oce Permana terakhir di Bandung Pos.
Pasca-Bandung Pos "tiarap" Oce yang dulu menjadi wartawan Giwangkara juga di Bandung Pos ini, dan juga Omay tak lantas ikut "mati" dunia jurnalistik yang ia tekuni lantas mendirikan tabloid Expose. Namun tak lama, akhirnya Omay dan Oce membuat media baru, BOM bersama Aat Suwansa (almarhum).
Kecintaan pada dunia perkoranan terus ditekuni hingga akhirnya sesuai perkembangan zaman, ketika industri media cetak mulai kolaps diseret arus digitaliasi, maka Oce pun menghentikan produksi mingguan BOM nya.
Ihwal kecintaan dalam dunia kewartawanan dan popularitas Oce di jagat jurnalistik, diakui pula oleh Imam Wahyudi mantan wartawan PR. Dia pula yang memberi julukan Trio OMO karena memang peran ketiga orang (Omay, Martin, Oce) di dunia kewartawanan patut diacungi jempol. Tak hanya bergaul dengan sesama wartawan, tetapi juga dengan dunia lainnya.
Siang itu di rumah makan Rumpun Sunda, kami dan 30 orang wartawan lainnya memang jujur mengakui eksistensi almarhum H.Oce Permana dalam dunia wartawan.
Ketika rekan lainnya beralih profesi seperti Omay Komar memilih menjadi seorang penunggu toko miliknya, Imam Wahyudi sempat menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, dan sejumlah wartawan ada yang menjadi dosen, penguasaha dan profesi lainnya, namun Oce hingga akhir hayatnya hanya dikenal sebagai wartawan saja.
Jikapun ia sempat menjadi Humas KONI Kota Bandung, jadi Pengurus Futsal Kota Bandung dan aktif di PWI, nama Oce Wartawan masih tetap melekat sampai akhir hayat.
Tapi entah bagaimana, dari tiga orang putra almarhum Oce yang semuanya laki-laki, tak seorangpun yang mengikuti jejak ayahnya sebagai wartawan. Mungkin tak menjanjikan apalagi masa sekarang, ada yang jadi ASN dan kiper Persib yang kini menggeluti dunia perbankan, juga penguasaha rumah makan.
Benar kata wartawan senior Dedi Asikin yang kini masih aktif menulis walau usianya 86 tahun,"Jika ingin kaya, jangan jadi wartawan. Sebab wartawan bukan untuk mencari kekayaan melainkan profesi separuh hobi walaupun kata orang profesi ini bergengsi," katanya.
Selamat jalan rekan Oce, juga rekan wartawan yang telah mendahului kami. Semoga amal baik mereka diterima Amal baiknya. Inya Allah dan pasti kami juga akan menyusul, tapi entah kapan.**
Editor: Maman Suparman