Menolak Seikerei Dalihnya Musyrik, K.H. Zainal Mustofa Dieksekusi Mati

KH Zainal Mustofa, hanya karena menolak Seikerei ia dieksekusi mati penjajah Jepang.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
K.H. Zainal Mustofa bergeming. Ia tetap menolak perintah penguasa jepang Untuk melakukan upacara seikerei. Seikerei adalah tradisi dan upacara penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan dalam-dalam ke arah matahari terbit (Timur).
Perintah agar Kyai harus seikerai tak diindahkan. Dalihnya, cara itu atau perbuatan Itu termasuk musyrik juga syirik, dosa terberat dalam Islam yang sulit memperoleh ampunan Allah.
K.H. Z.Mustofa yang telah 17 tahun malang melintang nyantri di beberapa pondok pesantren itu teguh pendiriannya. Ia tak peduli pemeriksa membentak "ganko!" atau bandel atau "Hatamana ga katai!" (keras kepala) lalu gebrak meja behkan pukulan di kepala.
Karena itulah Kyai pemimpin Pondok Pesantren Sukamanah Singaparna dan 24 santrinya dijebloskan lagi ke dalam sel tahanan.
Selanjutnya, 25 Februari 1944 mereka dikirim ke penjara Dai Nippon di Banceuy dan Sukamiskin, Bandung. Terakhir dikirim ke Kejaksaan Agung di Jakarta. Tapi pada tanggal 25 Oktober 1944 mereka dieksekusi mati di kawasan Ancol Jakarta Utara.
Usai dieksekusi, jenazahnya dikubur di daerah Cilincing, dan baru dipindahkan ke Tasikmalaya tahun 1974. Kemudian pada tahun 1072 Pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan, jasadnya pun dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Karoeng, Kota Tasikmalaya.**