Pesan-Pesan Uwa Ajengan Santri Kelana Ulama Berkharisma

Foto : Istimewa
K.H. Khoer Afandi.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
KETIKA mendengar gurunya, K.H. Zaenal Mustofa dieksekusi mati oleh tentara Jepang, Uwa Ajengan (Khoiron Afandi) marah besar. Lalu beliau membangun laskar santri dsn bergabung dengan Hizbullah / Sabilillah.
Uwa ajengan itu adalah nama lain dari K.H. Khoer Afandi, pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya dan Pondok Pesantren Miftahul Khoer di Cibeureum kota Tasikmalaya.
Lahir dikampung Pagumuyan Desa dan Kecamatan Cigugur, Kabupaten Ciamis tanggal 22 September 2923. Nama kecilnya biasa dipanggil adalah Onong Husen. Ayahnya Abdul Hasan Rumbai adalah keturunan Raja Mataram (Islam). Sementara ibunya keturunan Dalem Sawidak, Bupati Sukapura yang sangat islami.
Setelah tamat HIS neneknya menyarankan agar Onong mesantren kepada K.H. Ahmad Sanusi Gunung Puyuh Kabupaten Sukabumi. Onongpun pergi mesantren secara berkelana dari satu pondok ke pondok lain.
Pertama di Cigugur, kemudian berpindah-pindah berdasarkan bidang pelajaran yang akan didalami, yakni:
- Ilmu Tauhid di Sukamanah di Singaparna. Ternyata uwa adalah santri langsung K.H. Zaenal Mustofa pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Sukamanah Singaparna.
- Ilmu Fiqih belajar di Cikalang.
- Tafsir Asmaul Husna di KH Achmad Sanusi Gunung Puyuh, Kabupaten Sukabumi.
- Ilmu Alat Kitab-kitab Ibtida.
- Ilmu Falaq di K.H. tuan Mansur di Jembatan Lima Grogol Jakarta Barat.
- Ilmu Faroidh/tentang Waris di KH Mahfudz Babakan Tipar Sukabumi.
Setelah merasa cukup ilmu pengetahuan tentang Islam, Uwa Ajengan yang sudah menggunakan nama Khoer Afandi pulang ke Tasikmalya dan mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Huda di Manonjaya pada tanggal 7 Agustus nu 1967. Kemudian menyusul Pondok Pesantren Miftahul Khoir di Cibeureum Kota Tasikmalaya.
Dalam waktu yang relatif singkat nama dan kemajuan Pondok Pesantren Miftahul Huda yang ditopang dengan nama Khoer Afandi menyebar ke seantero Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Anak muda waktu itu bangga menjadi santri Miftahul Huda. Ribuan santri kemudian menyebar dsn mendirikan pesantren di kampungnya masing-masing.
Tapi ketahanan fisik uwa ajengan tidak cukup kuat untuk menopang kerja yang padat siang dan malam. Uwapun mulai sakit-sakitan. Terakhir dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Tetapi taqdirAllah turun pada hari Jumat 26 November 1994 beliau berpulang ke Rahmatullah. Istrinya umi Hj Siti Masyitoh dan putra sulung K.H. Abdul Fatah yang biasa dipanggil Aa mendampingi disisi kiri dan kanan.Mereka melepas dan mentalkinkan almarhum sebelum melepas napas terakhir.
Ada amanat uwa yang diingat dan disampaikan Aa kepada keluarga dan para santri yang harus dijalani:
- Shalat diawal waktu,
- Cari ilmu sampai ketempat jauh (utlubul ilmi walau bu shin).
- Jaga aqidah sebagai Ahlu Sunnah Waljamaah.
- Mun hayang maju ulah liren (berhenti).
- Ulah embung disebut bodo.
- Nu tumiba kadiri lantaran diri sorangan.
- Nu paling nyaah kadiri ngan diri sorangan.
- Perbanyak teman.
- Teman seribu masih kurang. Musuh satu kebanyakan
Amanat itupun secara estafet disampaikan kepada Himpunan Alumni Miftahul Huda (Himada) yang dibentuk sampai perwakilan Daerah. Selamat jalan Uwa Ajengan semoga bahagia disisi Allah di surga yang sejuk yang mengalir sungai sungai di bawahnya, holidiina fiha abada.**