Ada Mayat Kentut" Teater Sado Penuh Satire dan Refleksi Sosial

Foto: Whyr
Komunitas Teater Sado menggelar pementasan dengan lakon “Ada Mayat Kentut” di Gedung Kesenian Raksawacana,Kuningan, Sabtu malam (24/01/2026).
KUNINGAN, KejakimpolNews.com — Komunitas Teater Sado kembali menegaskan eksistensinya sebagai kekuatan penting seni pertunjukan Indonesia melalui pementasan lakon “Ada Mayat Kentut” di Gedung Kesenian Raksawacana, Jl. Veteran 52 Kuningan, Sabtu malam (24/01/2026).
Meski duduk lesehan ratusan penonton bersama Bupati Dian Rachmat Yanuar, Staf Khusus Menteri Jebuayaan RI Bidang Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri Nisa Rengganis dan pejabat terkait seniman, budayawan, pelajar, mahasiswa, guru dan masyarakat umum memadati gedung kesenian.
Tak urung para penonton pecah dalam tawa dan hanyut dalam satire serta refleksi sosial yang tajam tapi menghibur.
Ketua Komunitas Teater Sado, Edi Supardi, di sela acara menyampaikan, pementasan ini tidak sekadar menghibur, melainkan ruang refleksi sosial yang dikemas dengan bahasa teater yang komunikatif.
“Lewat humor dan kekonyolan di atas panggung, kami mengajak penonton bercermin pada realitas sosial — tentang kekuasaan, kepentingan, dan tanggung jawab kemanusiaan,” ujar Edi Supardi.
Lakon satu babak berdurasi sekitar 30 menit ini merupakan karya legendaris Aan Sugianto Mas, yang pernah dipentaskan di berbagai kota di Jawa Barat dan Yogyakarta (2002) dan mendapat apresiasi luas.
Pementasan kali ini, disutradarai oleh D. Ipung Kusmawi didukung penata musik Wihendar.
Pementasan ini mempertemukan aktor lintas generasi Teater Sado. Tiga aktor yang terlibat dalam pementasan 24 tahun silam — D. Ipung Kusmawi, Edi Supardi, dan Cecep Ahyani —kembali naik panggung bersama generasi baru Teater Sado, yakni Deni Hamzah, Moh. Khairun, dan Raka.
Menariknya, pementasan “Ada Mayat Kentut” juga melibatkan aktor anak-anak sebagai bagian dari struktur dramatik pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi penanda penting proses regenerasi dan investasi masa depan Teater Sado.
Menurut Edi Supardi, pelibatan anak-anak tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang komunitas. “Anak-anak ini adalah benih dan harapan masa depan Teater Sado. Mereka kami libatkan agar tumbuh bersama nilai, disiplin, dan kesadaran berkesenian sejak dini,” tuturnya.
Pementasan “Ada Mayat Kentut” menjadi puncak rangkaian kegiatan publik Teater Sado yang didukung Dana Hibah Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sebelum pementasan utama, digelar parade seni kolaboratif bertema “Alam: Tafsir Bunyi dan Tubuh”, yang menghadirkan sejumlah seniman mendunia dari berbagai disiplin seni.
Parade seni dibuka oleh Komunitas AKAR Kuningan dengan sajian musik karimba yang mengusung pesan pelestarian hutan dan lingkungan, khususnya kawasan Gunung Ciremai, sebagai bagian dari tafsir bunyi atas relasi manusia dan alam.
Maestro Yusuf Oeblet, seniman mendunia, tampil memukau dengan menyajikan lagu-puisi “Sado di Simpang Jalan” melalui permainan piano yang reflektif dan emosional. Karya ini menjadi ruang penghormatan terhadap sosok pendiri Teater Sado, Aan Sugianto Mas, yang berpulang pada tahun 2018.
Tak kalah memukau Pentas kolaboratif Nani Dewi Sawitri, penari Topeng Losari mendunia, cucu dari maestro Mimi Dewi Sawitri,l ini menampilkan gerak tari yang energik, magis, dan sarat nilai tradisi sebagai tafsir tubuh atas alam dan ingatan budaya.
Kolaborasi seni mencapai puncaknya saat Iing Sayuti, seniman tari kontemporer mendunia asal Indramayu, tampil bersama Nita Hernawati, deklamator Teater Sado. Eksplorasi gerak tubuh yang kuat berpadu dengan pembacaan puisi-puisi karya WS Rendra, menghadirkan pengalaman artistik yang menggugah dan menggetarkan batin penonton.
Bupati Dian RY menyampaikan apresiasi atas konsistensi Teater Sado dalam berkarya dan mengajak masyarakat menjadikan kebudayaan sebagai pendekatan penting dalam pembangunan daerah.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sado Aan Sugianto Mas, Bias Lintang Dialog, menegaskan, seluruh rangkaian acara merupakan penanda tuntasnya program publik Teater Sado yang didukung Dana Hibah Kebudayaan. Bias Lintang Dialog mengajak penonton memekikan motto kerja Teater Sado dengan penuh gelora: “Erek-erek, moal-moal.”.**
Author: Whyr
Editor: Maman Suparman

