Seren Taun Jadi Ikon Budaya Kuningan Dikenal Wisatawan hingga Mancanegara

Foto: Whyr
Upacara adat Seren Taun tahun 1957 Saka Sunda di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan
KUNINGAN, KejakimpolNews.com -- Puncak upacara adat Seren Taun tahun 1957 Saka Sunda di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, berlangsung khidmat dan meriah, Senin (08/06/2026).
Tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun tersebut kembali menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat dalam merayakan rasa syukur, memperkuat persaudaraan, serta menjaga warisan budaya leluhur.
Puncak perayaan Seren Taun dihadiri Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI I Made Dharma Suteja, Anggota DPRD Provinsi Jabar Hj. Ika Siti Rahmatika, Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy, Forkopimda, Kapolres Kuningan, istri almarhum Pangeran Djatikusumah Amelia Djatikusumah, Pupuhu Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Pangeran Gumirat Barna Alam.
Hadir juga Ketua Panitia Seren Taun Dewi Kanti Setianingsih, Pangeran Abdul Gani Natadiningrat, S.E. dari Keraton Kacirebonan, Paden Entol Rahmat Suhadi dari Kasepuhan Cirebon, Lukman Soemadi Soria dan R. Nia Kurniasih dari Kraton Sumedang Larang, serta Pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia I Nyoman Gede Agus Asrama.
Dalam sambutannya, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan, Seren Taun bukan sekadar perayaan panen semata. Seren Taun adalah perjalanan kehidupan yang mengajarkan bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri.
"Ada tanah yang memberi kehidupan, ada air yang menghidupkan, ada matahari yang menerangi, ada sesama yang menguatkan, dan ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi sumber segala keberkahan," kata bupati.
Di tengah arus perkembangan zaman yang semakin cepat, nupati meminta masyarakat tidak boleh kehilangan akar budaya yang menjadi identitas dan kekuatan bangsa.
“Pohon yang besar bukan hanya karena rantingnya menjulang tinggi, melainkan karena akarnya menghujam ke bumi. Begitu pula sebuah bangsa, akan tetap tegak apabila mampu menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya,” katanya.
Bupati merasa bangga karena Seren Taun telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Kuningan yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.
“Ketika orang berbicara tentang Kuningan, mereka tidak hanya berbicara tentang alam yang indah atau kuliner, tetapi juga berbicara tentang Cigugur dan Seren Taun,” ungkapnya.
Seren Taun kata bupati, sebagai 'miniatur Indonesia'. Di sini keberagaman dapat hidup berdampingan dalam suasana harmonis.
"Masyarakat Cigugur telah memberikan teladan bahwa perbedaan keyakinan, budaya, dan tradisi bukan menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan persaudaraan," ungkapnya.
“Keberagaman bukan ancaman, tetapi anugerah. Persatuan bukan berarti harus sama, melainkan bagaimana berbagai perbedaan dapat berjalan bersama menuju tujuan yang sama,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen pemerintah terhadap pelestarian budaya, tambah bupati, Seren Taun akan didorong menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan yang mendapatkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah.**
Author: WHJR
Editor: Maman Suparman