Korban Keracunan MBG di Cibatu Garut Terus Bertambah, Hingga Rabu Malam 63 Pasien Sesaki Puskesmas

Foto: One
Barak Puskesmas Cibatu mulai dipenuhi pasienm mayoritas santri yang diduga keracunan menu MBG.
GARUT, KejakimpolNews.com -- Korban diduga keracunan menu makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, yang terjadi Selasa (21/7/2026) terus bertambah. Hingga Rabu malam sekira pukul 23:00 WIB korban sudah 63 orang masuk ke Puskesmas Cibatu hingga sesaki barak dan ruangan rawat inap.
Mereka umumnya merasakan mual dan muntah serta sakit perut usai menyantap malam menu makanan paket MBG yang didistribusikan oleh SPPG Yayasan Al Halim.
Diberitakan, insiden itu terjadi pada Selasa (21/7/2026). Sejak pagi, dapur SPPG Yayasan Al Halim menyalurkan ribuan paket makanan ke Pondok Pesantren Al Mansuriah dan sejumlah sekolah penerima manfaat. Sekitar pukul 09.00 WIB, makanan mulai disantap oleh para santri. Sebagian lainnya dibawa pulang untuk dikonsumsi di rumah.
Namun hanya berselang beberapa jam, Puskesmas Cibatu mulai didatangi para penerima manfaat dengan keluhan yang hampir sama, yakni mual, muntah, pusing, dan diare. Dugaan keracunan makanan pun langsung mencuat.
Hingga Rabu (22/7/2026) pukul 13.30 WIB, sebanyak 18 orang masih menjalani perawatan di Puskesmas Cibatu. Mereka terdiri dari santri dan guru Pondok Pesantren Al Mansuriah, serta penerima manfaat dari Posyandu Cikukulu, PAUD Al-Mukhtar, SDN 1 Sukanagara, dan SDN 4 Sukanagara.
Namun pesien mayoritas para santri terus berdatangan ke Puskesmas Cibatu. Mereka mengaku sakit perut, mual dan muntah setelah melaha menu MBG yang dikonsumsi pada hari itu terdiri atas nasi putih, telur bumbu rendang, tempe asam manis, sayur sop, dan susu.
Meski demikian, penyebab pasti munculnya gejala belum dapat dipastikan karena masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan petugas.
Dapur MBG yang dikelola Yayasan Al Halim di Desa Sindangsuka diketahui melayani sekitar 2.241 penerima manfaat yang tersebar di 23 sekolah dan tiga titik pelayanan, sehingga insiden ini menjadi perhatian serius mengingat cakupan distribusinya yang cukup luas.
Petugas kesehatan bersama unsur pemerintah dan aparat langsung bergerak mengevakuasi korban ke Puskesmas Cibatu, melakukan pendataan, berkoordinasi dengan instansi terkait, serta mengamankan sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
Kasus ini menambah daftar insiden dugaan keracunan yang berkaitan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Hasil pemeriksaan laboratorium kini menjadi kunci untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus menentukan langkah evaluasi agar keamanan pangan dalam program tersebut benar-benar terjamin.**
Author: One
Editor: Maman Suparman
