Minat Menurun Masuk Pondok Pesantren, Alarm Buat Pak Kyai

Foto : Istimewa
Pondok Pesantren Husnul Khotimah di Kuningan yang semakin eksis.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
MENARIK, tulisan Anas Nasikin dalam majalah Hukum Global Media yang Jumat kemarin saya baca. Adik saya itu mengungkap adanya penurunan minat masyarakat masuk pondok pesantren pada tahun 2026 ini. Selain prihatin saya berharap gejala itu cuma kasuistis tidak menyeluruh.
Tahun 2015 ketika kami, Pokja Wartawan Kemenag mengunjungi sekitar 40 pondok pesantren di Jawa Barat ada kesan variabel. Masih ada pondok yang magnet atau daya tariknya masih tinggi. Ada yang biasa. Bahkan juga ada yang menurun. Ada pondok yang jadi rebutan. Sebut saja misalnya Darunnajah di Cipinang Kabupaten Bogor dan Husnul Khatimah di Kuningan.
Pondok Pesantren Husnul Khatimah sampai terpaksa mengadakan testing masuk. Soalnya tahun itu pendaptar ada 1.700 orang sementara ruang yang tersedia hanya 700. Pesantren Syahid milik konglomerat Syahid Gito Sarjono di Ciputri Kabupaten Bogor meski biayanya mahal tetap laris.
Kalau warning Anas Nasikin Itu memang gejala umum tentu kita semua prihatin. Sebaiknya jangan sampailah Itu pondok pesantren yang sudah berusia 500 tahun itu hilang begitu saja gegara kurang peminat.
Pondok pesantren itu mode pendidikan Islam yang hanya ada di Indonesia. Di negara lain bahkan di Arab Saudi tempat kelahiran Islam juga tidak ada. Pakistan yang kadung mendekritkan diri sebagai negara Islam baru mau coba-coba.
Tahun 2013 ada utusan dari Pakistan yang datang ke Indonesia. Niatnya semacam studi banding kemungkinan bisa mengembangkan pondok pesantren di negeri yang sering dijuluki Negeri Pegunungan yang menawan. Saya belum mendapat konfirmasi lagi apakah pondok pesantren disana berjalan atau tidak.
Menanggapi kasus ini, maka semua pihak harus rambaterata tidak menyerah pada keadaan. Kiyai harus berbenah. Ada catatan tentang munculnya dekadensi moral yang terjadi di sejumlah pesantren yang dilakukan oknum ustaz/pengajar. Misalnya perundungan dan pelecehan seksual.
Selain itu manajemen pondok harus ditata ulang. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat teruskan membangun seribu kobong yang digagas gubernur Ahmad Heryawan. Pemerintah Pusat meneruskan dan meningkatkan Bos Pesantren dan bea siswa untuk santri. Jangan sampai masih ada ruang Kobong berukuran 3 kali 3 meter dijejali 10 santri. Berdempetan kaya ikan tuna dalam kaleng sarden
Pokoknya itu pondok pesantren sayang kalau sampai hilang.
Do something every one!**