Di Markas Ini, Yang Tua Tak Pernah Jadi Kenangan yang Ditinggalkan

Sonni Hadi
Pertemuan dengan para senior di Markas Menwa Mahawarman, Jalan Surapati,Bandung.
BANDUNG, KejakimpolNews.com — Suasana siang itu tak biasa. Di sebuah sudut Markas Menwa Mahawarman, Jalan Surapati, seorang pria sepuh duduk perlahan, tangannya menggenggam tongkat. Seragamnya sudah lama ia tanggalkan. Tenaganya pun tak lagi sama. Tapi hari itu, ia kembali disambut seperti dulu—sebagai bagian dari barisan.
Beberapa anggota muda mendekat. Menyalami. Membungkuk sedikit, penuh hormat. Tak ada aba-aba komando, tak ada teriakan latihan. Yang ada hanya kehangatan—yang terasa tulus.
Di tengah derasnya arus mudik yang mulai menyita perhatian kota, Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat justru memilih arah sebaliknya: kembali ke masa lalu, menemui mereka yang pernah membangun fondasi organisasi ini, satu per satu.
Bantuan sosial dibagikan. Tapi yang lebih terasa bukan isi paketnya—melainkan cara mereka diberikan.
Komandan Menwa Mahawarman Jabar, Ali Budiman—alumni Institut Teknologi Bandung (ITB)—tak berdiri jauh memberi instruksi. Ia justru turun langsung, menyapa para sesepuh, menggenggam tangan mereka, mendengar cerita yang mungkin sudah jarang ada yang mau dengar.
“Kalau bukan kita yang ingat mereka, siapa lagi,” ucapnya lirih, di sela obrolan dengan seorang warakawuri.
Di antara para penerima bantuan, ada para janda anggota yang telah lama berpulang. Ada yang datang ditemani anak, ada yang sendiri. Wajah-wajah itu menyimpan cerita panjang—tentang pengabdian, kehilangan, dan bertahan dalam sunyi.
Rencana awal panitia sebenarnya ingin lebih personal: bantuan diantar langsung ke rumah. Namun realitas berkata lain. Banyak anggota sudah lebih dulu mudik, lalu lintas pun makin padat. Akhirnya, semua dipusatkan di markas.
Keputusan yang awalnya terasa sebagai keterbatasan, justru berubah jadi momen yang tak tergantikan.
Seorang sesepuh tiba-tiba bercerita tentang masa mudanya—tentang latihan keras, tentang dinginnya malam saat bertugas, tentang hari-hari ketika menjadi Menwa berarti siap untuk apa saja. Di depannya, anggota muda duduk diam, menyimak. Bukan karena diwajibkan, tapi karena mereka ingin tahu.
Di ruangan itu, waktu seperti berjalan mundur. Tak banyak yang menyadari, Menwa Mahawarman bukan sekadar organisasi kampus. Ia adalah bagian dari sejarah panjang negeri ini—kelanjutan dari Tentara Pelajar Indonesia. Lahir di tengah situasi genting tahun 1964, saat negara menghadapi konfrontasi Dwikora.
Markas di Jalan Surapati pun bukan tempat biasa. Ia pernah jadi saksi ketegangan di masa G30S/PKI. Dari sana, ribuan anggota lahir, berproses, lalu kembali ke masyarakat dengan jalan hidup masing-masing.
Kini, sebagian dari mereka telah menua. Sebagian hidup sederhana. Bahkan mungkin terlupakan.
Namun tidak di tempat ini. Di sudut lain, seorang ibu memeluk erat paket bantuan yang baru diterimanya. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca. “Masih diingat,” katanya singkat—namun cukup untuk menggambarkan segalanya.
Di usia ke-62 tahun, Mahawarman mungkin tak lagi identik dengan barisan tegas dan latihan keras semata. Hari itu, mereka menunjukkan wajah lain: tentang merawat, tentang menghargai, tentang tidak meninggalkan.
Karena bagi mereka, menjadi Menwa bukan hanya soal pernah berjuang.
Tapi tentang tetap pulang—dan menemukan bahwa keluarga itu masih ada.**
Editor: Sonni Hadi



