Hari Raya Kurban, K.H. Syakur Asaori: Revolusi Batin, Menyembelih Ego

Yayan Sofyan
K.H. Syakur Asaori, S.Pd.I
CILEUNYI, KejakimpolNews.com - Hari ini, pekik takbir membakar langit, mengguncang semesta. Kita berdiri di sini dengan pakaian terbaik, parfum terwangi, dan senyum paling menawan di Hari Raya Kurban atau Iduladha 1447 H.
Namun, di balik kemegahan ritual ini, izinkan saya melemparkan sebuah pertanyaan yang provokatif, sebuah pertanyaan yang wajib merobek dada kita masing-masing:
"Hari ini, yang kita sembelih itu hewan kurban, ataukah kita sedang memamerkan kemewahan di atas bangkai ego kita yang kian membesar?," kata K.H. Syakur Asaori, S.Pd.I, S.Sos saat khutbah bada salat Iduladha di Masjid Al Mukhlisin, Kompleks Griya Bukit Manglayang RW 21 (GBM 21), Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Rabu (27/5/2026).
Ketahuilah, kata Syakur, ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak sedang diperintah oleh Allah untuk sekadar mengalirkan darah seekor domba. "Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih apa yang paling ia cintai di dunia ini: Ismail—simbol dari keterikatan duniawi, lambang dari kebanggaan, keturunan, dan masa depan," ujar Syakur yang juga jadi imam Salat Iduladha.
"Ketika pisau Ibrahim menyentuh leher Ismail, saat itulah Ibrahim menghancurkan berhala egonya sendiri! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
"Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)," tuturnya.
Syakur pun mengajak untuk lakukan propaganda kebenaran untuk melawan propaganda dunia modern. Zaman ini telah membius kita. Kita dipaksa bertumpuk-tumpuk harta, berlomba-lomba memoles wajah, mempercantik feeds media sosial, dan membangun menara ego setinggi langit.
"Kita menjadi manusia yang sibuk menggemukkan "hewan ternak" di dalam batin kita: kesombongan, ketamakan, iri dengki, dan syahwat kekuasaan!
Kita rajin menyembelih sapi seharga puluhan juta, namun di saat yang sama, kita memelihara watak 'binatang jalang' di dalam hati kita. Kita hancurkan kehormatan saudara kita dengan gosip dan fitnah, kita injak hak orang miskin, lalu kita merasa suci hanya karena memegang kupon daging kurban?,"ungkapnya
Sungguh, sambung Syakur, ini adalah ilusi spiritual yang fatal!
Rasulullah bersabda dalam hadits yang sangat populer:
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, lanjut Syakur, ia adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Menghancurkan cermin yang buram
Sufi agung, Syekh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam kitab masterpiecenya, Al-Hikam, menuliskan untaian kalimat yang menyihir batin:
"Bagaimana mungkin sebuah hati dapat bercahaya, sementara bayangan-bayangan duniawi masih melekat dan mengotori cermin hatinya?"
"Bagaimana cahaya Allah mau masuk ke dalam hatimu jika di dalamnya masih penuh dengan berhala bernama "Aku"? Aku yang paling pintar, Aku yang paling kaya, Aku yang paling shalih, Aku yang paling berkuasa,'ujarnya.
Idul Adha dalam kacamata tasawuf adalah momentum Takhalli—pengosongan diri dari sifat-sifat tercela. Sembelihlah keangkuhanmu! Sembelihlah rasa pelitmu! Sembelihlah ambisi butamu yang siap menghalalkan segala cara!
"Jika hari ini anda pulang dari lapangan kurban hanya membawa sekantong daging tanpa membawa hati yang baru, maka Anda telah gagal menangkap esensi revolusi kurban yang dibawa oleh Ibrahim dan Muhammad .
Jamaah yang Dirahmati Allah," tuturnya.
"Mari kita canangkan sebuah propaganda massal untuk kedamaian jiwa, Mari kita maklumatkan perang total terhadap kepalsuan hidup." katanya.
Sufi besar Imam Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan kita tentang hakikat waktu yang menipu:
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka hilang pulalah sebagian dari dirimu." (Dinukil oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin)
Jangan tunggu esok hari untuk menjadi manusia yang bersih. Detik ini, saat kaki kita masih berpijak di bumi Allah, dekaplah hati sesamamu. Maafkan mereka yang pernah menjatuhkanmu. Singkirkan dendam yang membakar dadamu. Hati yang bening adalah hati yang tidak lagi menyisakan ruang untuk kebencian kepada makhluk Allah," harapnya.
"Mari kita pulang ke rumah dengan memproklamasikan kemerdekaan jiwa kita. Katakan pada dunia: "Aku tidak lagi diperbudak oleh harta, aku tidak lagi didikte oleh pujian manusia, karena pemilik jiwaku hanyalah Allah Azza wa Jalla!"
Sementara itu, ketua panitia kurban, H. Abdul Wahid dan Ketua DKM Al Mukhlisin GBM 21, H. Encep Subhi mengatakan, pada Iduladha tahun ini, pihak panitia menerima titipan 3 ekor sapi dan 3 domba.
"Hewan kurban titipan warga GBM 21 telah disembelih dan alhamdulillah dagingnya telah dibagikan kepada yang berhak," kata Abdul Wahid.**
Editior: Yayan Sofyan