Wisatawan Melonjak Tajam, Jalur Ciater-Lembang-Bandung Macet Berjam-Jam

Gaiskha
Macet dari arah Ciater menuju Lembang terutama di simpang arah ke Kawah Gunung Tangkuban Parahu.
BANDUNG, KejakimpolNews.com - Jelang berakhirnya libur panjang sejak Idul Adha Rabu 27 Mei hingga Hari Kelahiran Pancasila Senin 1 Juni 2026, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota dan Kabuaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) meningkat tajam.
Di KBB misalnya, sejak Minggu (31/5/2026) di antaranya dari mulai Ciater hingga Lembang, jumlah kendaraan meningkat. Akibatnya, kemacetan berjam-jam terjadi di jalur ini.
"Kejadian langka antara Ciater hingga puncak simpang arah Kawah Tangkuban Parahu macet," kata Ginanjar warga Ujungberung.
Menurut Ginanjar, ia mengaku sreing melewati jalur ini setiap akan pergi mengunjungi kerabatnya di Subang. Namun baru Minggu hari itu Ciater hingga Cikole dan Lembang macet, dan merayap.
"Berangkat dari Sagalaherang Subang pukul 14:00 WIB, sampai Lembang pukul 17;30 WIB. Hampir 3,5 jam, padahal biasanya setengah jam sampai Lembang," kata Ginanjar.
Parkir, objek wisata, dan kafe
Banyak pengguna jalan menyebutkan, penyebab utama kemacetan lalu lintas di antaranya banyak kendaraan yang parkir di bahu jalan. Sejak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membersihkan para pedagang, warung dan lapak di sepanjang Jalan, lalu diubah menjadi areal terbuka, banyak wisatawan memarkir kendaraan di bahu jalan.
Ravi, waga Jalan Sukakarya Bandung menyebut, tak hanya banyak mobil parkir di bahu jalan, areal tugu perbatasan Kab. Subang dan Kab.Bandung Barat juga jadi tempat rest area menyebabkan areal tersebut padat dengan wisatawan yang memarkir kendaraan.
"Juga bertebarannya kafe-kafe di hutan pinus Cikole, membuat penumpukan orang di areal tersebut. Padahal dulu sebelum ada kafe-kafe di hutan pinus Cikole, tak ada cerita macet," kata Ravi.
Ia berharap KDM (Kang Dedi Mulyadi) menengok ulang izin pendirian kafe di kawasan hutan pinus. Selain mengancam kelestarian alam dan lingkungan, juga menyebabkan terganggunya arus lalu lintas.
Ravi juga menyoroti pembangunan objek wisata di Kabupaten Subang. Kebun teh Ciater kini beubah fungsi jadi bangunan objek wisata.
"Barangkali keberadaannya haris dikaji ulang, sebab selain mengubah ekosistem, juga menghambat arus lalu lintas," katanya.
Author: Gaiskha
Editor: Maman Suparman