Swarha, Hotel dan Toko Lawas Ikon Bandung

Foto : Istimewa
Hotel Swarha, lantai atasnya sudah lama mati suri alias terbengkalai. Sedangkan lantai bawahnya tetap menjadi pertokoan.
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
GEDUNG Swarha identik dengan Kota Bandung. Bangunan tua yang tak pernah berubah sejak dibangun tahun 1930 atau sejak 97 tahun lalu sebagai toko dan hotel itu terletak di seberang Alun-Alun dan bersebelahan dengan Masjid Agung.
Bangunan bergaya Nieuw Bouwen (Art Deco Modern) ini dirancang khusus oleh arsitek sekaligus profesor dan Rektor Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung - yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung - ITB)
asal Belanda terkenal C.P. Wolff Schoemaker.
Pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, gedung Swarha berfungsi sebagai tempat menginap utama bagi ratusan wartawan asing dan lokal karena lokasinya yang strategis di dekat Kantor Pos Besar.
Pengusaha Tajir
Nama Swarha berasal dari singkatan nama pemilik pertamanya, yaitu Said Wiratmana Abdurrachman Hassan yang lahir tahun 1895.
Ia seorang pengusaha tajir di Bandung sejak era kolonial Belanda dan Jepang sebagai pendiri perusahaan impor bernama Sunda Nippon Swarha Trading yang khusus pengadaan barang langsung dari Jepang.
Swarha dan NU
Perkembangan NU di Bandung dimulai tahun 1930-an sejak Swarha menjadi aktivis organisasi keagamaan yang didirikan Rais Akbar KH Hasyim Asy'ari tahun 1926 di Surabaya.
Berkat Swarha yang memimpin NU Bandung sejak 1931-1941, Bandung terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraaan Muktamar NU ke-7 tahun 1932.
Pergerakan NU Bandung pada masa kepemimpinan Swarha tercatat paling progresif. Selain ditopang kerabat sesama pengusaha tajir asal Palembang dan Pekalongan, ia disokong tokoh Sunda sekaligus Bupati Bandung yang keenam yang berkuasa dari tahun 1794 hingga 1829 dan dianggap sebagai Bapak Pendiri Kota Bandung.
Era NU di Bandung saat itu juga menjadi tempat penting bagi kebangkitan perempuan NU yang digagas Nyai Hajjah R. Djuaesih. Ia pelopor yang memperjuangkan hak dan kebangkitan perempuan untuk mendirikan wadah khusus kaum hawa dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU).
Keliling Dunia
Sebagai pengusaha pribumi yang tajir, Swarga memiliki relasi dagang internasional.
File koran De koerier (edisi 26 Februari 1936) pada berita berjudul “Naar het Buitenland Swarha” mengabarkan bahwa Swarha pernah melakukan perjalanan ke Filipina, Tiongkok, dan Jepang.
Perjalanan ke luar negeri Swarha juga diberitakan koran Sipatahoenan (edisi 16 Mei 1936) dengan berita berjudul “Ngadjadjah Tatar Wetan: Perdjalanan Djoeragan S.W.A.R. Hasan Wiratmana ka Pilipina djeng ka Japan”.
Selain perjalanan ke tiga negara, Swarha tercatat pernah melakukan perjalanan bisnis ke beberapa kota di Eropa antara lain di London, Brussel, Berlin, Wina, Budapest, Istanbul.
Sedangkan negara di benua Asia yang sempat dikunjung antara lain Manila, Shanghai, dan Tokyo. Selain ke beberapa negara muslim seperti Saudi Arabia, Mesir dan Syria.
Kini Swarha yang dulunya hotel, dan selanjutnya di era tahun 1970-an menjadi tempat kos-kosan, pemiliknya tercatat seorang pedagang kain yang dikenal dengan Toko Indra yang bernama Merry.
Ajang Sengketa
Ketika Wali Kota Bandung saat itu dipimpin Ateng Wahyudi (1983-1993), sempat menjadi sengketa. Bahkan Merry selaku pemiliknya diminta agar memotong tiga lantai hotel tersebut, karena selain telah "mati" tak berpenghuni, juga tidak boleh melebihi tinggi Mesjid Agung. Namun entah bagaimana, tak terlaksana.
Memang gedung di sebelah kanan Masjid Raya Bandung dan dekat Alun-Alun itu bukan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, melainkan milik pihak swasta/pribadi dan sempat mengalami sengketa internal perdata/lelang di masa lalu.
Status Kepemilikan gedung merupakan aset milik perorangan (dibangun oleh H. Said Wiratmana Abdurrachman Hassan sekitar tahun 1950-an), sehingga tidak tercatat sebagai aset atau dalam sengketa langsung dengan Pemkot Bandung.
Sengketa terjadi awal 1980-an, gedung ini sempat terlibat dalam sengketa hukum dan perkara lelang kepemilikan antara dua pihak pemenang lelang (Mary Chandra dan Abdul Kadir Mohamad).
Saat ino lantai dasar gedung masih dimanfaatkan untuk toko pakaian/kain yang bernama Indra, sedangkan lantai atasnya telah lama terbengkalai atau "mati suri" sejak era 1970–1980-an.**