Breaking News! Iie Sumirat Legenda Bulutangkis Si "Pembunuh Raksasa" China Wafat

Foto : Istimewa
Iie Sumirat saat dirawat di RS Hermina Arcamanik Bandung.
BANDUNG, KejakimpolNews.com - Legenda bulu tangkis Indonesia asal Bandung, Iie Sumirat, baru saja mengembuskan napas terakhirnya setelah dirawat di Rumah Sakit Hermina Arcamanik Bandung.
Pebulu tangkis yang dijuluki "Giant Killer" atau pembunuh raksasa China itu meninggal dunia pada Selasa (22/7).
Almarhum Iie Sumirat mengembuskan napas terakhir dalam usia 75 tahun. Ia dilahirkan di Bandung pada 15 November 1950.
Kabar duka itu pertama disampaikan Sekretaris Umum PB SGS, Ma'sum Husain, yang menyatakan bahwa Iie Sumirat sempat dirawat di RS Hermina Bandung dan kritis hingga akhirnya berpulang untuk selamanya.
Bahkan kabar duka semakin menyebar, Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Kota Bandung juga menyatakan duka cita dan memasang banner di medsos yang menyatakan turut berduka cita atas meninggalnya Iie Sumirat dilengkapi dengan narasi turut bela sungkawa dan doa.
Sementara itu Kabid Bidang Luar Negeri PBSI, Bambang Roedyanto, juga turut mengucapkan belasungkawa. "Rest in peace. Legenda bulutangkis Bapak Iie Sumirat," tulisnya.
Iie Sumirat bukan nama asing di Indonesia. Ia salah satu sosok pebulu tangkis yang prestisius. Tak hanya pernah merebut piala Thomas bersama Rudy Gunawan, Liem Swie King, Christian dan Ade Chandra, iapun pernah menjadi juara Sea Games.
Nama Iie Sumirat juga semakin menjulang tinggi saat ia main sebagai tunggal utama dan membawa Indonesia juara Thomas Cup 1979. Iie juga jadi bagian tim Indonesia yang memenangkan Thomas Cup 1976. Saat itu mengalahkan jagoan Denmark Svend Fri.
Dan yang paling mendapat pujian ketika sukses mengalahkan jagoan China Hoe Jiachang yang pada masa itu dianggap pebulu tangkis dunia yang sulit dikalahkan. Namun di Bangkok pada kejuaraan Asia 1976, Iie Sumirat sukses mengalahkan jawara dari Tiongkok ini dan Iie pun mendaat julukan Giant Killer atau pembunuh raksasa.
Pada 1976 itu Indonesia sering juara dan gudangnya pemain berbakat, namun tak pernah bertemu pemain China karena China tak masuk IBF, sehingga tidak pernah ikut rangkaian turnamen di bawah IBF.
Saat itu Hoe Jiachang dianggap lebih jago dari Rudy Hartono, Liem Swie King, dan Indonesia dianggap masih kalah kelas. Namun sayang pemain China yang digembor-gemborkan paling jago itu tak pernah bertemu dengan pemain Indonesia.
Tapi pada Kejuaraan Invitasi Asia, China ikut serta sehingga pemain-pemain mereka beradu kekuatan langsung dengan jagoan Indonesia.
Saat itulah Iie membuktikan diri sanggup mengalahkan jagoan China, dan Indonesia lebih unggul dari China setelah menaklukkan Hou Jiachang.**
Author: Sonni Hadi
Editor: Sonni Hadi

