Balap Liar dan Perang Sarung Memicu Tawuran dan Kekerasan

Foto: Whyr
Kapolsek Kuningan AKM Bambang Poernomo,SH.
KUNINGAN, KejakimpolNews.com -- Bulan Ramadan ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ibadah, bukan aksi yang memicu keresahan publik. Seperti balap liar, perang sarung bahkan menjual, membeli dan membakar petasan, yang dapat membahayakan keselamatan serta mengganggu warga yang melaksanakan ibadah.
Hal itu ditegaskan Kapolsek Kuningan AKP Bambang Poernomo, S.H., saat dikonfirmasi terkait situasi Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) wilayah pada bulan Ramadan, Sabtu (28/02/2026)
"Terpantau konvoi kendaraan pada malam hari bahkan ada yang menggunakan knalpot brong. Kami akan menindak tegas mereka terutama kalangan remaja," katanya.
Menurut Kapolsek, kebiasaan remaja tersebut tidak hanya melanggar aturan lalu lintas, tetapi justru berpotensi memicu konflik di jalanan.
"Kami mengimbau khususnya kalangan remaja untuk menghindari balap liar dan penggunaan knalpot tidak standar atau knsl pot brong. Pastikan kendaraan laik jalan dan seluruh dokumen berkendara lengkap. Ini demi keselamatan bersama," tegas AKP Bambang.
Menyoroti aktivitas remaja di malam hari, seperti perang sarung yang dulu dianggap sekadar permainan tradisional, namun kini berpotensi terjadi tawuran. Kasus perang sarung ini kerap terjadi di berbagai daerah, dan pada akhirnya berujung tawuran.
"Untuk mengantisifasi hal ini, orang tua harus memastikan anak-anak sudah di rumah maksimal pukul 22.00 WIB. Perang sarung sering berujung tawuran, dan kami tidak ingin ada korban selama Ramadhan,” kata Bambang.
Kepada segenap lapisan masyarakat AKP Bambang minta untuk mengaktifkan kembali kegiatan ronda malam secara bergilir. Aktivitas ini dinilai efektif menekan potensi pencurian rumah kosong saat warga melaksanakan salat Tarawih.
"Mari kita jaga lingkungan bersama. Aktifkan ronda malam untuk mengantisipasi pencurian dan gangguan kamtibmas lainnya. Keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab bersama," pintanya.**
Author: WHJR
Editor: Maman Suparman