Buruh Dunia di Jenewa Tegur PBB: Sampai Kapan Palestina Hanya Jadi Bahan Pidato?

Foto : Istimewa
Delegasi buruh dari berbagai negara gelar aksi solidaritas di kawasan Broken Chair, Jenewa, Rabu (3/6), mereka mengeritik lambannya PBB atas penyelesaian Palestina,
JENEWA, KejakimpolNews.com – Kesabaran buruh dunia terhadap mandeknya penyelesaian konflik Palestina tampaknya mulai habis.
Di tengah berlangsungnya Sidang ke-114 International Labour Conference (ILC), delegasi buruh dari berbagai negara menggelar aksi solidaritas di kawasan Broken Chair, Jenewa, Rabu (3/6), sembari melontarkan kritik terbuka terhadap lambannya sikap komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Bagi para peserta aksi, Palestina tidak bisa terus-menerus ditempatkan sebagai agenda yang hanya dibahas dalam forum, diperdebatkan dalam resolusi, lalu dilupakan ketika sidang berakhir.
Di tengah pidato-pidato tentang keadilan sosial, hak asasi manusia, dan perlindungan pekerja, mereka mempertanyakan konsistensi dunia internasional yang dinilai gagal menghadirkan keadilan bagi rakyat Palestina.
"Berapa banyak lagi konferensi yang harus digelar sebelum dunia bertindak?" menjadi pertanyaan yang mengemuka di antara para peserta aksi. Mereka menilai berbagai pernyataan solidaritas tidak lagi cukup jika tidak diikuti langkah nyata untuk menghentikan penderitaan yang terus berlangsung.
Delegasi Indonesia dari FSP LEM SPSI, Muhamad Sidarta, menegaskan bahwa perjuangan untuk Palestina bukan sekadar isu politik luar negeri, melainkan persoalan kemanusiaan yang menyangkut hak fundamental suatu bangsa untuk hidup merdeka dan bermartabat.
Pemilihan lokasi Broken Chair menjadi simbol yang sarat makna. Monumen berkaki patah yang berdiri tepat di depan kompleks PBB itu seolah menjadi cermin kegagalan dunia internasional dalam menyembuhkan luka kemanusiaan yang terus menganga di Palestina.
Di jantung diplomasi global tersebut, buruh dunia mengirim pesan yang sulit diabaikan: keadilan tidak boleh berhenti sebagai slogan, sementara rakyat Palestina terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kredibilitas lembaga-lembaga internasional dipertaruhkan ketika nilai-nilai yang mereka gaungkan tidak diwujudkan dalam tindakan yang dirasakan langsung oleh korban konflik.
Bagi para buruh yang berkumpul di Jenewa, dunia sudah terlalu lama berbicara. Kini saatnya bertindak.**
Author: One
Editor: Maman Suparman