Menolak Lupa: Konflik Sunni-Syi'ah Sampang Berdarah

Foto: Salam online
Inilah foto para korban kekerasan Sampang Madura dilatarbelakangi konflik Syi'ah dan Sunni.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SECARA global ketegangan antara kelompok penganut Islam Sunni dengan Syi'ah mulai mengendur. Ini terjadi berkat membaiknya hubungan bilateral antara Arab Saudi (pusat Sunny) dengan Iran (mayoritas Sy'ah ) sudah mulai membaik. Mereka juga sedang terus melakukan upaya perbaikan hubungan diplomatik.
Kondisi itu juga merembet ke Indonesia. Saya masih ingat, konflik membara dan berdarah antara pengikut sunny dengan syi'ah.
Tahun 2012 kejadiannya, saat itu pengikut islam Sunni Indonesia (mayoritas) menyerang perkampungan penganut syi'ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Omben, Sampang, Kabupaten Sampang Madura.
Ratusan rumah dihancurkan dan dibakar hingga rata dengan tanah. Peristiwa berdarah itu menelan korban seorang tewas dan tujuh orang luka luka. Konflik keagamaan antara kelompok Syiah dan anti-Syiah (Sunni) ini melibatkan kekerasan fisik, pengusiran, hingga pembaiatan ulang pengungsi ke ajaran Sunni, mencerminkan ketegangan intolerans
Amarah penganut Sunni itu dipicu ceramah Tajul Muluk pemimpin Syi'ah Kabupaten Sampang yang mendiskreditkan paham Sunni. Karena tak lagi punya rumah? 300 kepala keluarga (KK) penganut Syi'ah terpaksa mengungsi ke Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Mereka ditempatkan di rumah susun Puspa.
Selama hampir 10 tahun hidup berdempetan tentu tak nyaman. Upaya untuk bisa pulang ke kampung halaman mulia dilakukan. Tahun 2020 ada gerakan baiat kembali dari Syi'ah ke paham Sunni.
Kedua pemerintah yakni Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Sampang turun tangan menjadi
Jembatan rekonsiliasi. Tajuk Muluk ikut aktif mendorong baiat. Tokoh tokoh masyarakat Sunni di Sampang mau menerima mereka asal tidak kembali ke paham Syi'ah.
Tahun 2022 sebanyak 53 KK bisa pulang ke kampungnya. Tahun 2026 ini masih ada 265 KK dengan naik bus kembali ke kampung halamannya. Tinggal 3 KK lagi yang belum baiat.
Yang jadi persoalan sekarang, mereka tidak punya tempat tinggal karena rumah tinggal merekaa dahulu sudah rata dengan tanah .
Tapi Bupati Sampang Selamet Junaidy yang menjabat untuk kedua kalinya berjanji akan membantu membangunkan rumah untuk mereka.
"Kalau tidak dari APBD, dari pribadi saya," janjinya.
Deputi ahli staf kepresidenan Rumadi mengklaim kondisi itu bukti bahwa negara tidak pernah absen dalam setiap persoalan masyarakat. Damai itu pasti lebih nyaman dari pada bersengketa terus.**

