Ketika Uluran Tangan Prabowo Ditolak Para Mullah

Foto : Istimewa
Presden ke-delapan Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
JUJUR sejatinya hati saya sedikit sedih ketika uluran tangan presiden ke delapan Republik Indonesia Prabowo Subianto ditolak para think tank kebijakan pertahanan negara Islam Iran.
Rupanya ingin menjadi pewaris para founding father kita sejak Sukarno sampai Suharto dengan politik luar negeri bebas dan aktif (free and aktif).
Begitu pecah perang antara Republik Islam Iran vs Amerika Serikat plus Israel, Prabowo segera mengulurkan tangan untuk menjadi juru damai di antara mereka. Namun para Mullah menolaknya seraya menyatakan akan meneruskan perang.
Sesungguhnya niat batin Presiden Republik Pancasila itu boleh dibilang kelewat batas. Kalau dia selain meneruskan langkah pendahulunya mungkin terinspirasi oleh ayat 10 surat ke 49 (Al-Hujurat) Inamal muminunna ihwatun (Sesungguhnya di antara mumin Itu bersaudara) fiaslihu baina ahwa uhum watuqallahu laallakum turhamun, (Jika ada di antara mereka ada yang bertikai, damaikanlah, supaya kamu dirahmati Allah).
Karena bertikai itu bukan sesama mukmin maka bunyi ayatnya jadi sedikit berubah menjadi sesama manusia itu bersaudara. Tetapi ingat ada ijma jumhur ulama-ulama memberi fatwa bahwa mengubah (menambah atau mengurangi) satu huruf atau titik pun didalam ayat Alquran hukumnya kufur alias kafir, Nauzubillah mindzalik (Semoga Allah melindungi kami dari perkara (buruk) itu.
Doa dan harapan kita terakhir untuk mas Bowo semoga menjadi nakhoda yang membawa kita jaya di lautan. Jales Veva Jaya Mahe. Tidak perlu dia punya tongkat Nabi Musa. Dia cuma perlu jujur benar dan transparan. Jangan cuma mengaum tapi juga harus menerkam. Satu kata dengan perbutan.**

