Hotel Hijau Destinasi Wisata yang Sehat

Ilustrasi
Ilustrasi hotel hijau di Bandung yang nyaman dan teduh
Oleh SADIKUN CITRA RUSMANA
(Pengajar FEB Unpas dan Pegiat Ekonomi Media)
PADA minggu terakhir bulan suci Ramadan 1447 H masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam yang beribadah puasa, memasuki saat tibanya mudik.
Mudik adalah proses aktivitas sosial masyarakat yang merupakan tradisi tahunan. Istilah sederhananya pulang kampung setelah ikhtiar mencari rezeki di kota.
Selama perjalanan kota – kampung, pemudik sepanjang perjalanan bisa menikmati suasana khas mudik, udara panas, kemacetan lalu lintas, pedagang asong, dan berbuka puasa di perjalanan.
Sering orang merasa perjalanan mudik itu sebagai wisata rohani dan jasmani. Paket komplet. Katanya, macet mah biasa sebab di Indonesia kemacetan itu sebuah kenikmatan.
Meski demikian kemacetan saat mudik juga menjadi horor ketika perjalanan di sepanjang jalan tol yang panas kapasitas tempat istirahat (rest area) tidak bisa menampung pemudik. Mereka terjebak.
Kemacetan sering terjadi juga di kota besar saat liburan pascalebaran. Kendaraan mengalir pelan memenuhi jalanan. Pengunjung mencari lokasi hiburan, kuliner, atau tempat beristirahat.
Seorang manajer hotel anggota PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) merasa senang kalau di wilayah usahanya jalan-jalan macet oleh kendaraan roda empat.
Katanya, mudik, mencari hiburan, kuliner, dan apa pun yang dicari saat liburan pada akhirnya mencari hotel atau penginapan untuk istirahat. Di situlah surganya usaha hotel.
Tapi apa betul orang kecapaian hanya akan mencari hotel ? Tentu saja, tapi hotel yang ramah lingkungan, sehat, bersih dan murah. Kalau murah belum tentu juga sebab di saat peak season permintaan kamar tinggi harga kamar akan disetel tinggi juga.
Namun setinggi apa pun harga kamar jika orang sudah ingin rebahan dan mandi air bersih harga akan ditebak. Kini saatnya pelaku usaha hotel menyediakan layanan terbaik dengan cara meningkatkan fasilitas lingkungan hotel, baik kamar, makanan sehat, air bersih, taman adem, dan lain-lain. Pokoknya konsep Hotel Hijau.
Hotel hijau, apakah itu? Hotel hijau menyangkut lingkungan sekeliling hotel yang bertujuan memajukan industri penginapan dan pengembangan bisnis di sekitar hotel dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.
Hotel hijau memberikan layanan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang terbaik kepada konsumen dengan prinsip eat localy, buy localy and see localy.
Pendekatan ini secara tidak langsung mendukung kemajuan para pengusaha lokal dan pemberdayaan masyarakat.
Untuk keperluan itu, Manajemen hotel merekrut seseorang yang khusus menangani lingkungan hotel sebagai pakar hotel hijau. Tugasnya adalah meminimalisasi pemborosan penggunaan material yang berbiaya besar dan mencatat penghematan.
Intinya memberikan kepuasan kepada tamu hotel dengan pendekatan konservasi lingkungan hotal yang aman, nyaman, bertahan.
Kebijakan bisnis hotel hijau menerapkan prosedur para pengunjung ikut berpartisipasi dalam penghematan energi, penggunaan sensor elektrik, air daur ulang, dan semua staf dilatih untuk melaksanakan inisiatif penghematan sumber daya hotal.
Menurut S.T. Djajadiningrat (2014), pengembangan Hotel Hijau berkaitan dengan menciptakan pariwisata yang berkonsep hablumminallah dan hablumminannas, keseimbangan terpadu secara vertikal dan horizontal dalam ajaran Islam.
Implementasi konsep hotel hijau meliputi tiga elemen kunci sustainibility yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial. Dengan praktik ini maka hotel hijau bukan hanya sekedar pendukung wisata tapi sudah menjadi tujuan wisata (destinasi).**