Agar Melek Digital Para Santri Kuningan Dibekali 4 Pilar Literasi

Foto: Whyr
Pelatihan digital marketing dan AI untuk para santri agar melek digital berlangsung di Kecamatan Kramatmulya, Kab.Kuningan, Sabtu (24/10/2026).
KUNINGAN, KejakimpolNews.com -- Dalam menghadapi kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), para santri perlu memiliki kecakapan digital sekaligus memahami etika dan keamanan dalam bermedia.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus pelatihan digital marketing dan AI bertajuk “Santri Melek Digital” dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Kecamatan Kramatmulya, Kab.Kuningan, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” ini digelar melalui kolaborasi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Kecamatan Kramatmulya, Muslimat NU, serta sejumlah mitra dan pihak terkait.
Pelatihan di Aula Kantor Desa Cikaso, diikuti peserta para santri dari pondok pesantren, siswa madrasah, remaja masjid, dan kalangan pemuda desa.
Camat Kramatmulya, Neneng Nurlaela Sari,dalam pesannya saat membuka acara mengapresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut.
Menurutnya, pembekalan keterampilan digital menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan generasi santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ia berharap, keterampilan yang diperoleh peserta dapat mendorong kemandirian ekonomi pesantren melalui promosi produk lokal, produk pesantren, dan potensi desa dengan memanfaatkan berbagai platform digital. Kemampuan tersebut juga diharapkan menjadi bekal bagi santri untuk memasuki dunia kerja maupun merintis usaha secara mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Kuningan, Nana Suhendra, M.Pd., menyampaikan materi mengenai empat pilar literasi digital.
Keempat pilar tersebut meliputi kecakapan digital (digital skills), budaya digital (digital culture), etika digital (digital ethics), dan keamanan digital (digital safety).
Dalam pemaparannya, Nana menjelaskan, literasi digital tidak sebatas kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan aplikasi. Lebih dari itu, literasi digital mencakup kecakapan memahami informasi, menilai kebenaran konten, mempertimbangkan dampak aktivitas di ruang digital, serta memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Pada pilar budaya digital, Nana menekankan pentingnya menerapkan nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan dalam aktivitas di ruang siber.
Sikap toleransi, penghormatan terhadap sesama, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial, menurutnya, harus tetap menjadi pedoman ketika berinteraksi melalui media sosial.
“Ruang digital harus menjadi sarana untuk memperkuat persatuan, menyebarkan kebaikan, dan membangun kolaborasi. Karena itu, santri perlu membiasakan diri menyaring informasi sebelum membagikannya serta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang berpotensi memecah belah masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam materi literasi digital.
Sementara itu, pilar etika digital membahas pentingnya berkomunikasi secara santun, menghormati privasi orang lain, menghindari perundungan siber, serta menghargai hak cipta.
Adapun pada aspek keamanan digital, peserta memperoleh pemahaman mengenai perlindungan data pribadi, penggunaan kata sandi yang kuat, kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan, dan pentingnya menjaga kerahasiaan kode one-time password (OTP).
Selain materi literasi digital dari Diskominfo, kegiatan ini menghadirkan Mohamad Fikry Maulana, Co-Founder Brocuan.id, sebagai tutor praktik digital marketing dan pemanfaatan AI. Materi tersebut memberikan wawasan mengenai penggunaan teknologi untuk mendukung promosi, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan potensi usaha di era digital.
Melalui sesi praktik, peserta diperkenalkan pada peluang pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung proses belajar dan menghasilkan karya secara lebih efektif. Keterampilan digital marketing juga diharapkan dapat membantu santri mempromosikan produk pesantren maupun potensi usaha di lingkungan masing-masing.
Ketua panitia pelaksana, Muhammad Rifkhan, S.Pd., bersama Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kramatmulya, Cece Badarudin, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya mengisi momentum Hari Santri Nasional dengan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi generasi muda.
Melalui pembekalan ini, para santri diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tetap menjunjung nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Dengan demikian, santri dapat berperan aktif dalam membangun masyarakat yang cakap digital, produktif, dan bertanggung jawab menuju Indonesia Emas 2045.**
Author: WHJR
Editor: Maman Suparman