Terminal Liar di Kolong Jembatan Tol Cisumdawu, Pemprov Jabar Segera Menertibkan

Yayan Sofyan
Terminal liar tempat ngetem angkot mencari penumpang di kolong jembatan Tol Cisumdawu semakin semrawut.
CILEUNYI, KejakimpolNews.com - Terminal bayangan atau terminal liar di kawasan Jalan Bandung-Garut, tepatnya di kolong jembatan Tol Cisumdawu (Simpang Susun Cileunyi) sudah lama dibiarkan beroperasi hingga semakin lama semakin kumuh dan semrawut.
Buruknya pengelolaan di wilayah tersebut yang sampai saat ini terabaikan seakan Pemkab Bandung membiarkannya. Faktanya belum juga ada upaya penataan. Bahkan, selain terminal liar, kolong jembatan kini ada show room dan bengkel mobil.
Setelah sekian lama semrawut, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi pun menyoroti kumuhnya kawasan Simpang Susun Cileunyi, khususnya kondisi di kolong jembatan Tol Cisumdawu.
Bahkan, Dedi Mulyadi sengaja menggelar pelantikan sejumlah ASN di kolong jembatan Tol Cisumdawu dihadampingi Wabug Jabar, Erwan Setiawan dan Sekda Jabar, Herman Suryatman.
Kang Dedi Mulyadi (KDM) atau "bapa aing", Gubernur Jabar ini terusik dan langsung menginstruksikan Sekda Jabar, Herman Suryatman untuk bergerak melakukan penataan.
Usai membersihkan sampah yang menumpuk dan berserakan, Herman pun mengaku pihaknya siap bergerak melanjutkan penataan dengan menertibkan kios liar hingga angkot yang mengetem sembarangan.
"Ya akan melakukan penertiban parkir liar dan angkot hingga bus yang ngetem sembarangan di kolong jembatan Tol Cisumdawu," kata Herman, Jumat (4/7).
Herman mengungkapkan, upaya penataan di kawasan Simpang Susun Cileunyi, selain sesuai arahan KDM, juga bertujuan supaya lingkungan tetap terjaga, termasuk agar area tersebut lebih indah dan bermanfaat bagi masyarakat.
"Membongkar warung-warung kumuh dan kaki lima (PKL), untuk kemudian direlokasi dan ditata ke tempat yang lebih baik agar kawasan Simpang Susun Cileunyi tertib dan indah," terangnya.
"Pemprov Jabar akan melakukan pemberdayaan para pelaku usaha dan masyarakat sekitar kolong jembatan Tol Cisumdawu agar berpola hidup bersih, tertib dan produktif," tukas Herman.
Meski Pemprov Jabar berencana menertibkan angkot yang mengetem liar, namun belum ada penjelasan detil terkait pengelolaan ke depannya seperti apa.
Maraknya angkot mengetem kerap jadi sumber kemacetan. Pasalnya, kawasan Simpang Susun Cileunyi ini menjadi akses kendaraan dari sejumlah arah, yang melintas pun mulai dari roda dua hingga empat bahkan lebih seperti truk, bus dengan volume tinggi.
Padahal, Infrastruktur di Kabupaten Bandung bagian Timur, saat ini sudah semakin berkembang, seperti berdirinya Tol Cisumdawu hingga megahnya Stasiun Kereta Cepat Indonesia-Cina (KCIC) Tegalluar, Whoosh.
Sayangnya, di kawasan tersebut tidak tersedia layanan terminal, sehingga kondisi jadi semrawut dampak menjamurnya kendaraan umum yang sembarang mangkal di ruas jalan, bahkan berpotensi menimbulkan aktivitas armada gelap alias tak berizin.
Sementara itu, Pengamat Transportasi Publik sekaligus Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Serijowarno menuturkan, perlunya dihadirkan layanan terminal agar kondisi lalu lintas tak semrawut.
"Harusnya segera dibangun terminal resmi, jangan dilama-lama atau ditunda. Dampaknya jadi muncul terminal bayangan," katanya melalui seluler telepun.
Djoko mengungkapkan, fungsi terminal sejatinya adalah untuk menampung moda transportasi umum. Baik sekadar transit menurun-naikkan penumpang, hingga mangkal atau mengganti armada.
"Kalau gak dibangun terminal, pasti bakal sering timbul kemacetan, lalu lintas terganggu dan pastinya pengendara akan dirugikan, merasa tidak nyaman," terangnya.
Menjamurnya transportasi umum yang parkir hingga mangkal, alias menurun-naikkan penumpang di ruas jalan kawasan Simpang Susun Cileunyi itu, dikarenakan tidak adanya layanan transit atau terminal resmi, guna jadi tempat pergantian armada atau mangkalnya transportasi umum.
Djoko menyebutkan, pihak Pemkab Bandung perlu fokus dalam pembenahan transportasi publik, termasuk dengan segera mendirikan layanan terminal, baik Tipe B atau C.
"Tujuannya agar aktivitas pemberhentian transit kendaraan publik, dapat dilakukan secara terpusat. Supaya mengurangi angkutan gelap, juga mencegah menjamurnya terminal liar, angkot-angkot mangkal di sembarang tempat," ujarnya.
Djoko pun memaparkan, terminal penumpang tidak perlu dibuat mewah seperti bandara, yang paling penting adalah fungsinya dapat maksimal.
"Bukan bangun mall, jadi ngapain harus mewah-mewah. Banyak terminal setelah diresmikan masih belum memberikan kontribusi maksimal, jadi yang penting fungsinya," ungkapnya.
"Layanan angkutan umum sedang mengalami krisis kepercayaan dari publik. Keberadaan angkutan umum ke depan mesti menjadi perhatian serius pemerintah," pungkas Djoko.**
Author: Yayan Sofyan
Editor: Yayan Sofyan