Pengantin Baru Maulana dan Putri Minta Maaf Insiden "Pesta Rakyat", Wabub Garut itu Menangis di Depan Jasad Korban

Foto : Istimewa
Wabup Garut Putri Karlina dan Maulana Akbar menangis di hadapan jasad bocah .Vania Aprilia (8 tahun) korban tewas Pesta Rakyat.
GARUT, KejakimpolNews.com - Pesta rakyat dalam rangka memeriahkan pernikahan Wakil Bupati Garut Putri Karlina dan Maulana Akbar, putra Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi Jumat 18 Juli lalu terus jadi perbicangan publik.
Maulana dan Putri sendiri sepertinya cukup terpukul dengan tragedi Pesta Rakyat yang menelan tiga korban tewas, satu anggota Polri, satu ibu rumah tangga dan satu lagi anak perempuan.
Ketiga korban adalah :
1.Vania Aprilia (8 tahun), warga Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat
2.Dewi Jubaedah (61 tahun), warga ber-KTP Jalan Lontar II, Koja, Jakarta Utara
3. Brigadir Cecep Saeful Bahri (39 tahun), anggota Polres Garut.
Pengantin baru inipun mengakui telah mendatangi satu persatu keluarga korban, dan sambil menitikan air mata Putra KDM dan putri Kapolda Metro Jaya Irjen.Pol. Karyoto menyatakan minta maaf kepada semua keluarga korban dan para korban,
Bahkan ketika menengok keluarga Vania, Putri menangis sambil bersimpuh di hadapan jasad bocah yang tewas mengenaskan karena berdesak-desakan. Permohonan maafnya diterima keluarga Vania.
Kejadian di Pendopo Kabupaten Garut pada Jumat 18 Juli 2025 yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia itu di luar ekspektasinya. Bahkan keduanya juga siap diperiksa Polri untuk dimintai keterangan.
Keduanya juga mengakui telah menerima berbagai informasi dari sejumlah pihak mengenai kerumunan warga yang menyebabkan peristiwa tragis di area Pendopo. Tetapi siapa yang mestinya bertanggung jawab, Maulana dan Putri menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk menyelidiki dan mengambil keputusan.
“Kami tidak dalam posisi menentukan siapa yang bersalah. Itu merupakan wewenang aparat kepolisian,” ucap Putri.
Maula panggilan Maulana Akbar dan Putri menyatakan kesiapannya mengikuti segala prosedur yang diperlukan, dan akan bertanggung jawab sepenuhnya jika memang ada hal-hal yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Dalam kesempatan itu Maula berulang memohon maaf atas insiden tersebut. Sesekali ia menyeka bola matanya yang sembab menahan tangis, Putra KDM ini menyatakan tidak ada niatan jahat dari acara pesta rakyat tersebut.
"Saya mohon permohonan maaf untuk semuanya, tidak ada maksud dan niatan dari kami untuk melukai hati dan para keluarga korban," katanya.
Ihwal ide pembagian makanan gratis muncul secara spontan. Menurutnya, banyak warga yang sudah berkumpul sejak siang untuk menunggu malam hiburan yang disiapkan keluarga besar kedua mempelai.
Melihat kondisi warga yang antusias, makanan yang tersedia pun akhirnya dibagikan untuk masyarakat.
Semua itu katanya bukan untuk memberikan hal yang cuma-cuma. Ketika warga sudah mulai berkumpul dari siang hari menunggu acara malam hiburan, dirinya berpikir daripada warga hanya berdiri menunggu dan makanan masih banyak, maka makanan itu dibagikan saja.
Maulana sendiri tidak mengetahui bagaimana kericuhan dan pembagian makan gratis bisa menyebar begitu luas sehingga menimbulkan kekacauan. Ia katanya tengah menelusuri penyebab terjadinya kekacauan tersebut.
"Konsep kami bersama istri, dilakukan secara terbuka tanpa penutupan, tanpa penyekatan, tanpa pengumuman. Entah dari mulut siapa tercipta istilah makan gratis itu setelah jam 1 siang, itu yang sedang saya dalami," kilahnya.**
Author: Gaiskha
Editor: Saman Suparman