Cetak Buku, Rugi Bandar

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
JIKA dihitung-hitung tulisan saya selama tiga tahun (2019+2022) mungkin ada sekitar 500 judul menyangkut berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, sosial, budayda dan sedikit agama (epolisosbudag).
Dulu awal tahun 2023 ada niat mau membentuk panitia kecil untuk memilih dan memilah tulisan itu yang berkualitas dsn memiliki nilai pmbelajaran dan keteladan. Rencananya akan diterbitkan dalam bentuk buku dan dipublis. Tapi niat itu, terpaksa dibatalkan. Atau lebih tepatnya digagalkan oleh keadaan.
Begini, Tahun 2023 mendadak turun rilis hasil penelitian UNESCO. Badan otoritas PBB (United Nation Educational Scientific and Cultual Organization) itu berkesimpulan bahwa minat baca masyarakat Indonesia itu masih rendah. Bahkan sangat rendah.
Dirjen Unesco Audrey Zoulay menyebut hanya satu dari seribu orang Indonesia yang masih suka membaca. Aundrey perempuan asal Prancis yang masih muda dan cantik (namanya juga perempuan) baru saja terpilih kembali sebagai Dirjen unesco. Dia menjabat dua periode dan baru tahun 2025 diganti oleh Ahmad Khaled Al Anany dari Mesir.
Kata Audrey ada berbagai faktor yang membuat bangsa Indonesia itu kedul baca. Di antaranya masalah daya jangkau ketempat pendidikan ( sekolah) relatif jauh, terutama di luar Jawa seperti Kalimantan dan Papua. Juga sangat kurangnya ruang baca seperti perpustakaan. Selain itu, juga faktor budaya dan kebiasaan dari leluhur atau orang tua.
Hitung hitungan secara ekonomis, kalau buku saya yang rencananya diberi judul "Menunggu maut menjemput" dicetak 10.000 maka yang laku hanya 10 buku saja. Rugi bandar dong kalau begitu.
Saya juga tidak tahu siapa di Indonesia ini yang bertanggung jawab dan mampu merubah reading habbit bangsa ini menjadi pelahap buku? Presidenkah?
Teman teman di grup diskusi "Ngadu Bako" tak yaqin itu. Paling-paling cuman dalih yang keluar seperti kenaikan nilai dollar Presiden (Prabowo), cukup menjawab bahwa masyarakat di desa tidak bertransaksi dengan dolar tapi dengan rupiah. Kalau dulu mungkin dia bilang dengan benggol.
Saya dan teman-teman di grup diskusi ngadu bako tetap berharap ada yang tampil dengan konsep dan road map operasional yang tepat, tidak seperti MBG (Makan Bergizi Gratiis) malah jadi Makan Beracun gratis.
Rugi bandar jikia saya tetap mencetak buku.**