Mana Fatwa MUI Tentang Imam Mahdi?

Foto: Wikipedia
Ayatollah Khomeini
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
TAHUN 1980 usia saya baru 41 tahun. Masih jagjag belejag mesti sudah lebih dari paro baya kerena rata orang Indonesia waktu itu usia waktu itu masih 60 tahunan
Mumpung masih ingat mau cerita,begini:
Surat kabar Kuwait Al Rai Al-Am tanggal 30 Juni 1980 menurunkan berita dengan headline memakai huruf kapital ditulis besar-besar yakni tentang ucapan Ayatollah Ruhollah Khomeini sang pemimpin Revolusi Iran.
Aki-aki itu berkata, "Al Mahdi yang ditunggu- tunggu akan segera datang. Akan melaksanakan apa yang tidak dapat dilakukan oleh semua nabi termasuk nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya Khomeini yang oleh pengikut panatiknya dipanggil ayatollah rohullah, bicara, para nabi semuanya telah datang dan meletakan dasar dasar keadilan di dunia, tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan nabi Muhammad pun sebagai nabi terakhir tidak mampu melaksanakan tugas itu.
Orang yang akan mampu dan berhasil melaksanakan tugas dan meletakan dasar-dasar keadilan di dunia serta meluruskan segala macam penyimpangan, tidak lain dan tidak bukan adalah Al imam Mahdi Al Muntadzar.
Ucapan Khomeini itu telah pula disiarkan oleh radio Teheran pada tanggal dan hari yang sama.yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya'ban 1400 Hijriah
Tanggal 15 Syaban merupakan hari raya kaum muslimin yang lebih besar dari Maulid Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu kita harus segera bersiap-siap menyambut kedatangan al Imam al Mahdi itu.
Saya, lanjut sang imam Khomeini yang tidak mau menyebut dirinya sebagai pemimpin karena dia lebih besar dari sekadar pemimpin, lebih agung dari sekadar pemimpin.
"Saya juga tidak menyebutnya sebagai orang pertama kerena tidak akan ada orang lain sesudah itu, dan baginya tidak ada orang kedua. Saya tidak dapat memilih kata lain kecuali AL Mahdi Al Muntadzar telah dijanjikan. Oleh kerena itu saya berharap seluruh pejabat pemerintah Iran bersiap siap menyambut datangnya ak Mahdi Al Muntadzar," kata sang Imam.
Reaksi yang amat keras datang dari Sekjen Rabithoh Alam Al-Islami (Liga Islam sedunia) waktu itu, Syekh Ali Al-Faraqa menyikapi, katanya ucapan-ucapan Khomeini itu bertentangan dengan kepercayaan dan prinsip Islam yang benar. Bertentangan dengan kitab suci AL Quran dengan sunnah yang suci, bertentangan dengan para imam dan alim ulama, bertentangan dari ujung kuku sampai ujung rambut tidak kurang sedikitpun.
Dengan mata melotot dan jantung berdetak kencang, Syekh Ali semakin penasaran, apakah orang gaek itu ingin mengingkari bahwa nabi Muhammad telah diutus membawa agama yang paling benar, paling sempurna paling lengkap dan merupakan rosul terakhir?. Apakah dia tidak pernah membaca kandungan bagian awal surat al Maidah ayat 3?.
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.,".
Apakah Khomeini belum pernah mendengar itu, paling tidak dari tetangganya. Nah apa maksudnya dibikin pernyataan yang bukan-bukan selain mau bikin resah kaum muslim?
Itulah semprotan Sekjen Rabithah Alam Al-Islami Syeikh Ali AL Faraqan.
Bagi saya (penulis) latar belakang ucapan Khomeini itu penuh muatan politis. Dia memang sedang memimpin revolusi Iran. Ingin mengubah bentuk negara dari monarki menjadi republik dan mengusir Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi. Begitu bencinya dia kepada raja yang totaliter itu padahal sesama penganut Islam Syi'ah?
Mana fatwa MUI?
Semua orang tahu terlebih yang suka baca koran denger radio atau menonton televisi dan mencari informasi bahwa di negeri kita ini ada sebuah organisasi nondepartment tetapi diakui negara sangat dihormati umat, yakni yang bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Dan orang-orangnya termasuk pilihan yang disukai, ibarat mobil bekas dokter mesinnya masih sip meski bukan gres, asembling apalagi build up. Orang orang yang duduk disitu cukup mumpuni keislamannya. Memang ada kesan suara alim ulama sering kali terdengar lunak dan lirih. Tapi bagi saya, suara lunak lebih baik dari pada tidak bersuara sama sekali.
Dalam kaitan ucapan Khomeini dan sanggahan Sekjen Rabithah Alam Al-Islami banyak umat Islami menunggu petunjuk Majelis Ulama. Bagimana fatwa MUI yang harus jadi pegangan dan keyakinan.
Menyimak ucapan Sekjen Rabithah Alam Al Islami bahwa Khomeini sedang didorong oleh kepentingan politik bahwa dia anti-Amerika yang berpuluh tahun melindungi raja yang totaliter dan memanfaatkan minyak Iran dengan semena-mena itu urusan mereka oke oce saja. Tapi ketika susah mengobrak abrik keyakinan umat, persoalan menjadi lain hal.
Seingat saya sampai hari ini belum ada fatwa MUI tentang bakal hadirnya AL mahdi al Muntadzar itu.**