Kurnia Lirahmat, Khatib Solat Iduladha: Berkurbanlah dengan Ikhlas, Jangan Terkesan Ria

Maman Suparman
Ustaz Kurnia Lirahmat,B.A.,Lc saat berhutbah di depan jemaaah solat Idul Adha di lapangan GSG Kompleks Taruna Oarahyangan Ujungberung Bandung Rabu 23 Mei kemarin.
BANDUNG, KejakimpolNews.com - Daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah Swt, yang akan dinilai oleh Allah hanya ketakwaan.
Oleh karenanya, berkurbanlah dengan ikhlas dan berharap kelak di hari akhir akan berjumpa dangan wajah Allah. Jadi yang dinilai olehNya saat kita berkurban bukan sanjungan bukan pula pujiannya. tetapi nilai ketaqwaan dan keihlasannya.
Demikian disampaikan Ustaz Kurnia Lirahmat, BA,Lc., khatib sekaligus imam pada salat Iduladha di lapangan Gedung Serba Guna (GSG) RW.02, Kompleks Taruna Parahyangan, Ujungberung, Kota Bandung Rabu (27/5/2026) pagi.
Di hadapan ratusan jemaah pada salat Iduladha 1447 Hijriyah, Ustaz mengawali khutbahnya dengan mengutip Surah Al-Hajj ayat 37 yang intinya, "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.".
Untuk itu maka ibadah Iduladha yang ditandai dengan menyediakan hewan kurban merupakan momentum yang tepat untuk beribadah. Tapi jangan terkesan ria, terkesan ingin diketahui orang banyak, ingin disanjung, dan bangga dengan pengumuman kepada orang banyak melalui pengeras suara.
Untuk itu kata ustaz yang juga Pemimpin Pondok Pesantren Maqi, Ujungberung ini, kata ikhlas harus tumbuh dari dalam hati pengurban. Ikhlas beribadah dan selalu istiqomah untuk menjalankan segala perintah Allah.
"Jangan sebaliknya, beribadah hanya mencari momentum. Hari ini beribadah tetapi di lain waktu atau tempat lain berbuat maksiat. Yang begini ini tidak menunjukan ketaqwaan," kata khatib mengigatkan.
Ikhlas dan taqwa kata khatib, telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam dialog sebagaimana tersurat dan tersirat dalam Al-Qur'an, Surat Ash-Shaffat ayat 102 yang diabadikan sebagai fondasi sejarah perintah kurban.
Dialog ini menonjolkan prinsip musyawarah, kasih sayang, serta ketundukan dan ketakwaan serta keikhlasan mutlak kepada Allah Swt.
Berikut adalah inti dialog yang mengharukan tersebut yakni diawali dengan dialog kedua ayah dan putra ini. Mereka berdua bermusyawarah dulu membicarakan tentang Nabi Ibrahim mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Ismail.
Nabi Ibrahim tidak langsung bertindak sewenang-wenang. Beliau mengajak Nabi Ismail putranya berdiskusi untuk meminta pendapat dan konfirmasi.
Nabi Ibrahim: "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?"
Nabi Ismail: "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Itulah gambaran betapa tunduk dan ihlasnya mereka, sebab di saru sisi bagaimana hati seorang ayah yang diperintah menyembelih putra kesayangannya, namun jawaban Ismail sang putra ternyata tidak menolak, ia ikhlas untuk melaksanakan perntah Allah.
Itulah ciri ihlas, dan kita memang harus ambil hikmah dari dialog ayah dan putra yang kini jadi momentum Iduladha. Untuk itu, maka kita sebagai umat Islam harus tetap istiqomah mencari keihlasan dan ketaqawaan ini.
"Jangan terhenti, terus Istiqomah dalam mencari kebaikan, keihlasan dan beramal. sebagaimana yang diminta minimal 17 kali dalam sehari semalam saat kita salat, pasti dibacakan surat Al Fatihah, salah satu ayatnya berbunyi: ihdinash-shirâthal-mustaqîm
Artinya, kata khatib, kita sekalian meminta petunjuk ke jalan yang lurus, dana selalu meminta agar Allah memberi taufik kepada kita juga berharap agar kita bisa bertemu dengan Allah Swt kelak di akhir zaman.
Untuk itu Khatib juga mengingatkan dengan permintaan sebagaimana tesirat dalam Al Fatihah, harus kita jalankan dengan semangat istiqomah dalam mencari kebenaran.
Banyak hal yang diungkapkan ustaz Kurnia Lirahmat dalam khutbahnya pagi itu. Intinya mengingatkan bahwa salah satu nilai ketaqwaan ini adalah keihlasan dalam berbuat sesuatu tentang kebenaran.**
Editor: Maman Suparman