Daripada Polemik Lupakan Sawit!

Foto: Istimewa/via mcr
Kebun Kelapa
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
ENDING Maulana tokoh petani jagung di Tasikmalaya Selatan menyarankan, daripada jadi polemik warga Jawa Barat Lebih baik melupakan keinginan bertanam sawit.
Lebih baik kata dia, menanam kelapa biasa saja, atau aren (bahan gula aren) dikombinasikan dengan jagung. Itu lebih baik khususnya bagi warga petani Tasikmalaya Selatan
Ucapan dan pendapat tokoh petani jagung di Tasikmalaya Selatan cukup mendasar dan beralasan kuat. Sebabnya, dulu sejak zaman penjajahan sampai awal kemerdekaan Tasik Selatan itu sempat menjadi penghasil kopra terbesar.
Tanaman kelapa itu berjejer mulai Cipatujah yang waktu Itu masih merupakan sebuah desa di Kecamatan Bantakalong Salopa hingga Cikalong Sepanjang 104 km dari Ciheras ke garis pantai Lautan Hindia.
Bahkan pohon kelapa itu ditanam juga sampai Pangandaran di Selatan Kabupaten Ciamis.
Salah satu indikasinya adalah galendo Ciamis yang merupakan produksi hilirisasi dari kelapa. Galendo Ciamis masih terkenal dan diperdagangkan sampai sekarang sebagai oleh-oleh perjalanan
Produksi kopra yang merupakan hilirisasi dari kelapa mencapai tonase dengan lalu lintas uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Jangan lupa nilai rupiah waktu Itu sangat tinggi.
Sekarang produksi kopra boleh dikata sudah terhenti cuma tinggal sedikit dan sporadis secara orang perorang. Itu terjadi kerena meningkatnya perdagangan kelapa muda. Bahkan sekarang mulai melirik ke buah kelapa kopyor.
Ending punya visi yang boleh dibanggakan jika masarakat mulai kembali menanam kelapa biasa dengan misalnya menanam bibit varietas hibrida yang produksinya lebih besar. Gula aren atau gula kawung adalah gula yang banyak dicari masarakat.
Untuk menanam aren diperlukan teknologi sepesial yang belum ditemukan melalui kajian secara ilmiah.Tapi Ending yakin bisa ditemukan. Artinya memang matching jika dikombinasikan dengan peningkatan tanaman jagung yang sudah mulai berkembang dengan produksi 250 ton.
Pemerintah kata Ending harus turun tangan secara totalitas. Mulai dari penyuluhan cara tanam yang baik perluasan lahan dan modal kerja serta penerapan teknologi tanam yang lebih modern.
Dari pada jadi polemik berkepanjangan, Lebih baik potong kompas atau buat jalan tol alam pikir. Begitu alam pikir Ending Maulana yang tak salah kalau ditapsirkan mewakili petani Tasikmalaya Selatan.
Mudah mudahan manfaat dan maslahat.**