Jenderal TNI (Purn) H. Try Sutrisno Wapres ke-6 RI Putra Garut-Surabaya Itu Kini Telah Tiada

Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden
Jenderal TNI (Purn.) H. Try Sutrisno
JAKARTA, KejakimpolNews.com - Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'uun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'fu'anhu.
Telah meninggal dunia ayah/kakek/buyut/kakak kami:
Jendral TNI (Purn) H Try Sutrisno bin Subandi Wapres ke 6 RI pada hari ini, Senin 02 Maret 2026 di RSPAD jam 06.58 WIB.
Demikian rilis berita duka yang disampaikan Keluarga Besar Jendral TNI (Purn) H. Try Sutrisno bin Subandi Wapres ke 6 RI atas meninggalnya Wakil Presiden ke-6 RI Senin 2 Maret pagi tadi seraya mohon dimaafkan segala kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidup. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT.
Senin 02 Maret 2026 di RSPAD jam 06.58 WIB, bangsa Indonesia telah kehilangan Bapak Wakil Presiden ke-6. Jenazah almarhum telah disemayamkan di rumahnya Jl Purwakarta No.6, Menteng, Jakarta Pusat dan akan segera dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata jakarta
Putra Garut-Surabaya
Dikutip dari Wikipedia, Jenderal TNI (Purn) H Try Sutrisno bin Subandi Wapres ke 6 RI Try Sutrisno lahir di Surabaya 15 November 1935 – 2 Maret 2026. Almarhum adalah purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia keenam dari tahun 1993 hingga 1998.
Alm.Try Sutrisno ulusan Akademi Teknik Angkatan Darat pada tahun 1959. Selama kariernya, Try pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (1986-1988) dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (1988-1993).
Ayahnya, Subandi berasal dari Garut, Jawa Barat yang bekerja di Dinas Kesehatan Kota Surabaya sebagai sopir ambulans, dan ibunya bernama Mardiyah yang berasal dari Surabaya adalah seorang ibu rumah tangga. Berarti ia putra Garut-Surabaya,
Alm.Try Sutrisno dan keluarganya pindah dari Surabaya ke Mojokerto. Ayahnya bekerja sebagai petugas medis untuk Batalyon Angkatan Darat Poncowati, memaksa Try Sutrisno untuk berhenti sekolah dan mencari nafkah sebagai penjual rokok dan penjual koran.
Pada usia 13 tahun, Try Sutrisno ingin bergabung dengan Batalyon Poncowati dan melawan tetapi tidak ada yang menganggapnya serius dan ia akhirnya dipekerjakan sebagai kurir.
Try Sutrisno mencari informasi ke daerah-daerah yang diduduki oleh tentara Belanda dan mengambil obat untuk Angkatan Darat Indonesia. Akhirnya pada tahun 1949, Belanda mundur dan mengakui kemerdekaan Indonesia.
Try Sutrisno dan keluarganya kemudian kembali ke Surabaya di mana ia menyelesaikan pendidikannya di SMA Bagian B pada tahun 1956.
Lulus SMA, Try Sutrisno mendaftar di Atekad. Dia berpartisipasi dan lulus dalam ujian masuk, sebelum gagal dalam pemeriksaan fisik. Meskipun demikian, Mayor Jenderal GPH Djatikusumo tertarik dengan Try dan memanggilnya kembali.
Try Sutrisno berpartisipasi dalam pemeriksaan psikologis di Bandung, Jawa Barat, dan ia diterima di Atekad ia berteman akrab dengan Benny Moerdani.
Karier militer
Tahun 1957, Try Sutrisno ikut berperang melawan Pemberontakan PRRI, kelompok separatis di Sumatra yang ingin membentuk pemerintahan alternatif selain Presiden Soekarno.
Setelah menjalankan tugas di Sumatera, Jakarta, dan Jawa Timur, tahun 1972, Try dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Pada tahun 1974, Try terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Soeharto mulai menyukai Try dan sejak saat itu, karier militer Try akan meroket.
Pada 5 Februari 1961, Try Sutrisno mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi pujaan hatinya yaitu seorang guru kelahiran Bandung bernama Tuti Sutiawati dan dikaruniai 7 orang anak yaitu Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari. Salah satu menantunya adalah Ryamizard Ryacudu yang menikah dengan Nora Tristyana.
Tahun 1978, Try diangkat menjadi Kepala Staf di KODAM XVI/Udayana. Setahun kemudian, ia menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya.
Pada tahun 1982, Try diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya dan ditempatkan di Jakarta.
Tahun 1985, ia menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.
Tahun 1986 menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.
Tahun 1988 menjadi Panglima ABRI untuk menggantikan L.B. Moerdani. Sebagai Panglima ABRI, Sutrisno menghabiskan banyak waktu untuk menumpas pemberontakan di seluruh Indonesia. Target langsungnya adalah separatis di Aceh, yang berhasil ditekan pada 1992.
Pada tahun 1990, ada Insiden Talangsari, di mana Try Sutrisno mengulangi tindakannya pada tahun 1984 dengan menindak kelompok demonstran Islam.
Februari 1993, Try berhenti sebagai Pangab dan sebulan sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dijadwalkan bertemu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden baru, anggota MPR dari fraksi ABRI mencalonkan Try Sutrisno untuk menjadi Wakil Presiden.
Secara teknis, anggota fraksi MPR diizinkan untuk mengajukan calon mereka untuk Wakil Presiden. Tapi aturan tak tertulis dalam rezim Soeharto adalah menunggu Presiden untuk mengajukan calon yang dipilihnya.
Anggota dari Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia dengan cepat menyetujui pencalonan Try sementara Golkar berjuang dalam memberitahu anggotanya bahwa Golkar tidak mencalonkan Try sebagai Wakil Presiden.
Soeharto dilaporkan marah karena telah didahului oleh ABRI, tetapi ia tidak ingin adanya perselisihan terbuka. Soeharto akhirnya menerima Try dan Golkar mencoba mengecilkan ketegangan dengan mengatakan telah membiarkan pihak lain dan ABRI mencalonkan kandidat Wakil Presiden mereka.
Selamat Jalan Pak Try, jasanya takkan poernah terlupakan oleh segenap Bangsa Indonesia. Semoga amal baktinya diterima Allah Swt, dan keluarga yang ditinggalkan diperi ketabahan kesabaran dan keikhlasan**
Editor: Maman Suparman
Source: Wikipedia

