Para Tokoh Berharap, Cileunyi Gabung Pemkot Bandung Daripada Kab.Bandung Timur Cuma PHP

foto

Foto : Istimewa

Wacana Kabupaten Bandung Timur hanya wacana, tokoh berharap Cileunyi Gabung Kota Bandung.

CILEUNYI, KejakimpolNews.com -- Wacana pembentukan Kabupaten Bandung Timur (KBT) yang ingin pisah dari induknya, Kabupaten Bandung kembali kembali jadi sorotan dan dipertanyakan.

Mereka yang mempertanyakan tersebut, sejumlah tokoh masyarakat. Pasalnya, hingga saat ini, pegiat KBT yang dilanjutkan oleh pegiat dengan wadah Paguyuban Masyarakat Bandung Timur (PMBT) tak jelas ujungnya alias sekadar Pemberi Harapan Palsu (PHP).

Mereka yang mempertanyakan, sekaligus buka suara ini, selain tokoh pemuda, agama, budayawan dan tokoh masyarakat, juga dari kalangan akademisi.

Diketahui, KBT ini diwacanakan puluhan tahun oleh sejumlah aktivis dan pegiat. Dari mulai wadah Komite Masyarakat Bandung Timur (Kombat),

Komite Rakyat Bandung Timur (Kerabat) dan Pengawasan Pembangunan dan Percepatan Pemekaran Kabupaten Bandung Timur (KIP4KBT) hingga Paguyuban Masyarakat Bandung Timur (PMBT). Namun wacana KBT jalan di tempat.

"Jujur, meski wacana KBT saat ini dilanjut PMBT, teu puguh juntrungnya. Saya nilai ini PHP saja," kata H. Koharudin, salah seorang tokoh masyarakat Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Senin (28/9/2026).

Menurut Dudin, sapaan Komarudin yang mantan ketua RW, pengurus BPD dan pegiat dalam mengusung KBT puluhan tahun ini, wacana KBT ternyata, selain PHP, juga hanya omon-omon dan jadi komiditas politik.

"Terlepas dari 15 kecamatan yang diwacanakan dan 11 kecamatan yang masuk KBT dengan calon ibu kotanya Solokanjeruk (Cileunyi tak masuk) tak dipersoalkan. Intinya, kita ingin gabung dengan Kota Bandung saja," tandas Dudin.

Mengapa ia ngebet Cileunyi agar masuk ke Kota Bandung dan pisah dengan Kabupaten Bandung. Dudin menjelaskan, ada sejumlah alasan dan faktor Cileunyi, termasuk juga mungkin Kecamatan Cimenyan serta Cilengkrang.

Alasannya, dijelaskan Dudin, Cileunyi lebih dekat ke Kota Bandung yang dinilai lebih efektif dan efesien dalam sisi pelayanan publik dibanding dengan Kabupaten Bandung saat ini.

Selain itu, sambung Dudin, Cileunyi agar gabung ke Kota Bandung dilatar belakangi persoalan yang tergolong urgen. Misalnya sampah, kemacetan, bangunan liar, semrautnya kabel udara dan kian kumuhnya kawasan kolong jembatan Tol Cisumdawu.

"Belum lagi proyek revitalisasi Pasar Cileunyi Rp 4,6 miliar yang konon katanya mangkrak. Termasuk penggalangan dana untuk pembelian lahan Masjid Besar Cileunyi Rp 20 miliar kini mandeg karena baru terhimpun dana Rp 500 juta," ujar Dudin.

"Belum lagi pembangunan Kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di lahan eks Terminal Cileunyi hingga kini belum juga selesai. Sekali lagi, kita lebih condong Cileunyi gabung Kota Bandung agar terurus tak seperti saat ini menyimpan sejumlah persoalan," ungkap Dudin.

Cileunyi Masagi Dipertanyakan

Hal senada dilontarkan sejumlah tokoh pemuda, masyarakat, agama, budayawan dan akademi dari Cileunyi. Mereka pun sama apa yang dikatakan Dudin agar Kecamatan Cileunyi gabung ke Kota Bandung ketimbang ke KBT atau agar pisah dengan Kabupaten Bandung.

"Betul, kita lebih condong gabung ke Kota Bandung saja. Alasannya sama apa yang disampaikan Pak Dudin," kata Enang Samyu, tokoh masyarakat dari Desa Cinunuk diamini Yoyon Darsono, seorang budayawan.

Menurut Enang, kondisi Cileunyi saat ini dinilai menyimpan sejumlah persoalan yang belum tersentuh dan kian memprihatinkan.

"Kecamatan Cileunyi dengan visi dan misi "MASAGI" (Maju, Aman, Sejahtera, Agamis, Giat, dan Inovatif) ironis. Cileunyi MASAGI dinilai paradoks dengan fakta di lapangan. Kita berharap dalam waktu dekat sejumlah pihak duduk bersama urun rembuk untuk menyiapjan langkah ke arah tersebut," tandas Enang.

Sementara itu, salah seorang akademisi yang juga pemerhati publik mendukung sejumlah tokoh masyarakat yang meminta agar Cileunyi gabung ke Kota Bandung.

"Harus segera ditindaklanjuti agar Kecamatan Cileunyi genah, merenah, tuminah, tidak seperti saat ini menyimpan sejumlah persoalan," pungkas dosen sebuah perguruan tinggi negeri di Jatinangor ini.**

Editor: Yayan Sofyan

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Bimbingan Perkawinan Moment Krusial, Kepala KUA Cileunyi: Kawin Lain Heureuy
Prakarsa KSAD: Mesin Pemusnah Sampah di TPS Ciwastra Mampu Olah 5 Ton per Jam
Perayaan Hari Jadi Kota Bandung Tahun Ini Digelar Lebih Sederhana, Tak Ada Pawai Mobil Hias
Demi Mudahkan Warga Beragam Layanan Publik Dibuka Melalui Gebyar Bandung Utama 2026
Pemkot Luncurkan Halo Bandung Super App: Layanan Kota dalam Satu Genggaman Sebagai Kado HJKB