Padepokan Bumi Seni Tarikolot, Gelar Simpul Rasa Membangun Kualitas Reputasi dan Masa Depan

Foto: Whyr
Padepokan Bumi Seni Tarikolot kembali menggelar perjumpaan dengan tagline "Membangun Kualitas Reputasi dan Masa Depan Bersama, di Kebun Rasa, Bumi Seni Tarikolot (BST), Kuningan.
KUNINGAN, KejakimpolNews.com -- Padepokan Bumi Seni Tarikolot kembali menggelar perjumpaan dengan tagline "Membangun Kualitas Reputasi dan Masa Depan Bersama, di Kebun Rasa, Bumi Seni Tarikolot (BST), Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (26/08/2026).
Kegiatan Simpul Rasa ini kata Yusup Oeblet selaku Pupuhu sekaligus pemilik BST, sebagai Ruang Perjumpaan, Berbagi Pengalaman, Merawat Rasa sekaligus mempertemukan gagasan, pengalaman, pengetahuan seni dan kehidupan, ucapnya RBu (26/8/3026)
Perjumpaan ini dihadiri kalangan Pelajar, mahasiswa dan komunitas, masyarakat, pelaku seni dan budaya, lembaga pendidikan, mitra budaya, serta sahabat Bumi Seni, ucapnya Ahad (23/8/2026) pukul 15.30 - 17.30 WIB
Pada pertemuan kali ini, lanjut Oeblet, berbagi dua perspektif yang berbeda namun saling terhubung: kualitas manusia dan organisasi serta musik, tubuh, budaya, dan kehidupan.
Tampil sebagai narasumber M.Yusuf Hadi, S.E., M.B.A. (Praktisi | Leader | Pembelajar Seumur Hidup).
Dalam perjumpaan itu M. Yusup Hadi, berbincang tentang bagaimana kualitas diri dan organisasi dibangun, bagaimana reputasi dirawat, bagaimana kolaborasi dapat membuka masa depan, serta bagaimana pengalaman dapat menjadi pengetahuan yang dibagikan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Senior Percussionist Indonesia Iwan Wiradz, berbagi ilmu dan pengalaman tentang Ritme Tubuh, Ritme Bumi, musik, perkusi, karawitan Sunda, dan world music.
Tentang bagaimana tubuh memiliki ritmenya sendiri, bagaimana musik terhubung dengan bumi, dan bagaimana pengalaman berkesenian dapat menjadi jalan untuk memahami kehidupan.
Pertemuan yang berlangsung tanpa sekat itu membawa pengalaman tersendiri dan membuka kemungkinan kolaborasi baru.
Simpul Rasa bukan sekadar acara, melainkan upaya mempertemukan manusia dengan manusia, gagasan dengan pengalaman, dan seni dengan kehidupan.**
Author: WHJR
Editor: Maman Suparman
