Dampak Musim Kemarau

Ketika Waduk Saguling, Cirata, dan Jatigede Surut, Warga Sekitar Jadikan Kebun Palawija dan Mencari Tutut

foto

Istimewa

Waduk Jatigede, Cirata dan Saguling airnya menyusut, dimanfaatkan warga dengan menanam palawija dan mencari tutut atau keong sawah.

BANDUNG BARAT, KejakimpolNews.com -- Musim kemarau saat ini ternyata berdampak surutnya permukaan air di Waduk Saguling dan Cirata Kabupaten Bandung Barat (KBB) serta bendungan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

Surutnya permukaan air yang signifikan di tiga waduk ini dimanfaatkan masyarakat membuka lahan pertanian musiman dengan menanam berbagai jenis tanaman palawija.

Seperti di Waduk Saguling, tepatnya di Desa Bojonghaleang, Kecamatan Saguling, KBB mengalami penyusutan dratis terdampak kemarau dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah titik waduk berubah menjadi daratan.

Di kawasan Blok Sungai Cireundeu, terlihat daratan terdampak penyusutan hingga tengah waduk. Sejumlah warga pun menggarap lahan tersebut untuk menanam seperti cabai, terong, mentimun dan pakcoy.

"Sejumlah warga menanam tanaman jenis tanaman palawija tersebut karena memiliki masa panen relatif cepat dan dinilai sesuai dengan kondisi musim kemarau," kata Supriadi (40), seorang perangkat Desa Desa Bojonghaleang, Kecamatan Saguling, Rabu (26/8/2026).

Sementara itu, Manajer Sipil PLTA Saguling, Praja Mukti Ediatmaja ketika dikonfirmasi mengatakan, kondisi tersebut memang berkaitan dengan musim kering yang tengah berlangsung sebagaimana diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Namun, kata Praja Mukti, kondisi tinggi muka air Waduk Saguling saat ini masih di batas operasi normal yaitu 638 mdpl.

Praja Mukti mengatakan, pada kondisi kemarau, batas atas tinggi muka air Waduk Saguling berada di angka 640 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan batas operasi bawah berada pada 636 mdpl.

Dengan demikian, sambungnya, posisi muka air saat ini masih berada di antara batas aman operasi pembangkit listrik.

Cirata

Menyusutnya permukaan air serupa dialami juga Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata, Kabupaten Bandung Barat. Warga sekitarpun sama memanfaatkan surutnya permukaan air untuk menanam padi dan tanaman palawija di tepian danau waduk.

Seperti dilakukan sejumlah warga menanam padi dan palawija di tepi genangan Cirata, kawasan Gunungkuda, Desa Margalaksana, Kecamatan Cipeundeuy, KBB.

Kegiatan bertani di tepi Cirata saat permukaan air surut terdampak kemarau ini dilakuk warga di lahan luasnya bervariasi dari 200 hingga 400 meter persegi yang muncul ke permukaan. Sejumlah tanaman palawija diantaranya kacang tanah, cabai.

Jatigede

Demikian di Waduk Jatigede, air menyusut cukup luas. Waduk di Kabupaten Sumedang ternyata telah membuka kembali lahan yang sebelumnya terendam. Banyak lahan pemakaman kembaki muncul, tembok batu nisan, dan bekas-bangunan bermunculan.

Sama seperti di Waduk Saguling dan Cirata, surutnya permukaan air di bendungan Jatigede dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam palawija dan mencari tutut (keong sawah).

Seperti di kawasan Cibungur, Kecamatan Darmaraja, sejumlah warga menanami lahan yang muncul ke permukaan dengan padi, mentimun, cabai dan tanaman palawija lainnya.

Sejumlah warga memanfaatkan lahan tersebut sebelum permukaan air di waduk kembali naik pada musim hujan.

Bahkan menyusutnya permukaan air bendungan Jatigede ini, sejumlah ruas jalan dan sisa bangunan rumah yang terdampak pembangunan Waduk Jatigede terlihat kembali muncul. Termasuk sejumlah makam keramat.

Tanah di beberapa titik terlihat kering dan retak, sementara sejumlah ikan ditemukan mati akibat menyusutnya genangan.

Hafil (56), warga Cibungur mengatakan permukaan waduk telah menyusut selama sekitar tiga bulan. Hafil memanfaatkan lahan yang terbuka untuk menanam padi dan mentimun mengisi waktu senggang berdagang.

"Ya lumayanlah untuk menambah modal dagang. Mumpung tanahnya sedang surut, saya manfaatkan untuk menanam padi dan mentimun sambil berjualan," kata Hafil.

Selain bertani palawija, sejumlah warga pun ternyata memanfaatkan kawasan yang surut untuk mencari tutut atau keong sawah.

“Alhamdulillah surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut,” ujarnya Wawan (50), seorang buruh tani ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, elevasi normal Waduk Jatigede berada pada 260 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pada Selasa (25/8/2026), elevasi tercatat 245,70 mdpl atau turun sekitar 14,3 meter dari kondisi normal.

Kondisi surut diperkirakan masih berlangsung hingga musim hujan tiba.**

Editor: Yayan Sofyan

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Suharto Pimpin Negara Sambil Tirakat
Kapolda Jabar: Profesionalisme dan Integritas Anggota Polri Harus Tercermin Saat Bertugas
Semester I 2026, Ketepatan Waktu Keberangkatan KA Penumpang Daop 2 Bandung Capai 99,85 Persen
Pasar Baru dan Pecinan Lama Jadi Kawasan Kuliner Dunia Terus Dimatangkan Pemkot Bandung
Istri Ungkap Detik-detik Saat Menerima Kabar Aiptu Asep Suhara Suaminya Jadi Korban Tabrak Lari