Menonton Timnas Indonesia Vs Bangglades di FIFA ASEAN Cup, Jantung Rasanya Mau Copot

Foto: PSSI
Timnas Garuda akhirnya melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026.
Catatan IWAN N. IRAWAN
(Wartawan Senior)
SEBAGAI salah satu dari jutaan penikmat sepak bola di tanah air, jujur saja, baru kali ini saya dibuat senam jantung sampai rasanya mau copot. Bagaimana tidak? Papan skor memang menunjukkan kemenangan telak 9–2 atas Bangladesh, tapi drama di lapangan membuat penonton merasakan ketegangan sampai detik-detik terakhir.
Tiket ke partai puncak FIFA ASEAN Cup ini sejatinya tidak diraih semudah yang dibayangkan. Langkah Garuda ditentukan oleh hitung-hitungan selisih gol yang sangat tipis. Di saat yang sama, persaingan Grup A membakar dua tempat sekaligus: Stadion Utama Gelora Bung Karno tempat kita (Timnas Indonesia) bertanding, dan Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung tempat Malaysia menggilas Singapura 6–0.
Sejak awal pertandingan, grup WhatsApp kami tak pernah sepi. Hasil di Bandung bahkan sempat memantik diskusi hangat di antara kami. Selisih angka yang semencolok itu terasa sangat mengejutkan.
"Singapura kan memiliki kualitas yang relatif seimbang dengan Malaysia," ujar Asep Ogenk, sembari menambahkan bahwa peringkat FIFA kedua negara tidak berjarak jauh—Singapura di posisi 147 dan Malaysia di 137. Namun tentu saja, hasil yang ganjil tak bisa langsung dituding sebagai indikasi "main mata" tanpa adanya bukti sah.
Sementara itu, Abey Havid menilai keunggulan besar Timnas Indonesia adalah hal yang wajar karena jarak peringkat Garuda jauh di atas Bangladesh (117 berbanding 182).
"Sulit sih kalau diterjemahkan dalam bahasa teknis. Kalaupun ada konspirasi, ya sulit dibuktikan," balas Abey menanggapi riuh di grup.
Kembali ke SUGBK yang malam itu mendadak jadi kawah candradimuka, situasi klasemen terus bergejolak. Meski Indonesia dan Malaysia sama-sama mengemas tujuh poin dari tiga laga, Garuda berhak mengunci status juara grup berkat keunggulan agresivitas gol (+11 berbanding +9). Selisih dua gol yang benar-benar krusial!
Sejak awal, anak-asuh timnas langsung tampil menekan. Laga baru berjalan 11 menit ketika umpan manja Ole Romeny diselesaikan dengan dingin oleh Mitchell Baker—atau yang akrab dipanggil "Mang Mit" oleh publik Senayan. Gemuruh ribuan suporter langsung membakar atmosfer stadion.
Keran gol pun terbuka lebar. Mang Mit kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-20, disusul sundulan tajam Rizky Ridho di menit ke-32. Namun, keasyikan menyerang membuat barisan belakang kita sedikit lengah. Lewat serangan balik cepat di menit ke-36, Shahriar Emon berhasil memanfaatkan celah di area pertahanan dan memperdaya Emil Audero. Skor mengecil jadi 3–1.
Bukannya tertekan, gol balasan itu justru memicu amarah Garuda. Hanya semenit berselang, Baker kembali menyambar umpan Romeny, lalu menambah pundi-pundi golnya lagi di menit ke-42. Borong empat gol cuma dalam satu babak! Menjelang turun minum, Justin Hubner ikut menyumbang nama di papan skor pada masa injury time (45+1') untuk menutup babak pertama dengan keunggulan 6–1.
Sadar rentan digempur, Bangladesh mengubah taktik di babak kedua dengan menumpuk pemain di garis pertahanan. Sang kiper, Mehedi Hasan, mendadak tampil luar biasa dengan menggagalkan serangkaian peluang emas Indonesia. Suasana di tribun yang tadinya cair perlahan kembali tegang, terlebih saat Elkan Baggott diganjar kartu kuning seusai peninjauan VAR pada menit ke-69.
Ketegangan makin memuncak menjelang laga usai. Gol Ole Romeny pada menit ke-84 mesti dianulir karena offside, sementara Bangladesh sempat menebar ancaman lewat tembakan spekulasi yang melenceng tipis di samping gawang Audero.
Beruntung, kebuntuan di babak kedua akhirnya pecah juga di menit-menit kritis. Luke Vickery mencetak gol di menit ke-90, disusul eksekusi dingin Kevin Diks (90+6'), dan ditutup oleh gol kelima Mang Mit pada menit ke-90+8. Skor akhir 9–2 mengunci kepastian kita melangkah ke puncak.
Kini, ujian sesungguhnya sudah melambai di depan mata: sang rival abadi, Thailand, sudah menanti di partai final. Mampukah Garuda menuntaskan misi ini sampai akhir dan membawa pulang piala?.**