Sedekah, Simbiosis Mutualisme Horizontal

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
YANG saya bahas dalam tulisan lalu adalah simbiosis mutualisme secara vertikal atas bawah dan sebaliknya. Orangtua mengurus dan membiayai ansknya dan sebaliknya anak berterima kasih dan berbakti kepada orang tua.
Sesungguhnya ada pula simbiosis mutualisme horizontal, ke kiri, kanan, muka dan belakang. Wujudnya adalah sedekah atau shodaqoh jariyah. Mari kita tenungi dialog antara Allah Swt dengan Nabi Musa AS Pada waktu bertemu di gunung Sinai tahun (wallahu alam) 1.350 Sebelum Masehi.
Saat itu Musa bertanya tentang ibadah yang paling disukai Allah. Ternyata bukan salat bukan shaum atau puasa. Kata Allah, ibadah yang paling Aku sukai adalah ketika kamu menolong orang lain yang sedang membutuhkan.
Ucapan Itu dimaknai sebagai infaq dan sedekah, dan Itu indentik dengan adagium simbiosis mutualisme horizontal, yang punya memberi kepada mereka yang kekurangan (miskin/duafa).
Dalam Al Quran surat Hujurat 10 Allah berfirman "Sesungguhnya di antara mumin itu bersaudara (Innamal mu'minuuna ikhwatun). Kepada Musa Allah mengatakan shodaqohmu itu pinjaman kepadaKu dan akan Kukembalikan berlipat ganda".
Artinya pahala sedekah itu besar adanya. Itu janji Allah. Inallaha layukhliful mii'aad liful Janji Allah itu benar adanya. Bukan janji Si Eon dan Si Emen. Terbukti sudah,tidak ada orang berkurang rezekinya gara-gara sederkah. Dan Itulah simbiosis mutualisme horizontal.
Dipandang dari sisi tradisi, hari-hari di Bulan Ramadhan dan hari Lebaran adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.**

